KPAI: Tingginya Kematian Anak, Menunjukkan Penanganan Covid belum Berpihak pada Anak

 KPAI: Tingginya Kematian Anak, Menunjukkan Penanganan Covid belum Berpihak pada Anak

Ilustrasi pandemi Covid 19– foto taylor brandon/unsplash.com

JAYAKARTA NEWS— Peningkatan kasus Covid-19 pada anak menunjukkan ada situasi serius dalam upaya pengendalian pandemi di Indonesia. Kasus infeksi pada anak mencerminkan bahwa penanganan Covid-19 di Indonesia belum berpihak kepada anak. Ada kondisi yang tidak optimal untuk melindungi anak sebagai salah satu kelompok rentan terhadap Covid-19.

Demikian diungkap Retno Lisyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, lewat keterangan tertulisnya, Minggu (27/6/2021).

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proporsi kasus positif Covid-19 pada anak usia 0-18 tahun sebesar 12,5%. Artinya 1 dari 8 kasus positif Covid-19 adalah anak-anak. Sedangkan, case fatality rate (angka kematian) Covid-19 pada anak di Indonesia merupakan tertinggi di dunia sebesar 3%-5%.

“Data tren secara global menunjukkan kasus infeksi pada anak selalu menempati urutan terendah. Bahkan, proporsi infeksi Covid-19 pada anak secara global hanya sekitar 3%, sedangkan Indonesia melaporkan proporsi infeksi Covid-19 pada anak mencapai 12,5%,” ujar Retno.

Situasi kesehatan anak yang kompleks seperti malnutrisi dan stunting, akan memperburuk kondisi  anak yang terinfeksi covid-19, apalagi rumah-rumah sakit di Indonesia belum dilengkapi ruang ICU khusus anak yang terinfeksi Covid-19. Hal inilah yang menjadi penyebab tingkat kematian anak tinggi, karena anak-anak yang mengalami masa kritis kerap tidak tertolong akibat ketiadaan ruang ICU.

“Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah konkrit dan terencana untuk menyelamatkan anak-anak yang terinfeksi covid-19, dan sekaligus mencegah anak-anak tertular covid-19”, tegasnya.

Terkait hal tersebut KPAI memberi sejumlah rekomendasi. Pertama,  Penguatan 3T (testing, tracing, treatment) yang secara signifikan dapat dijadikan indicator pencegahan penanganan dini anak-anak yang terinfeksi covid-19. Ketika skema 3T pada orang dewasa saja masih belum memadai, maka kasus Covid-19 pada anak menjadi lambat terdeteksi. Ini berpotensi membuat kasus kematian pada anak menjadi tinggi, apalagi Indonesia tidak memiliki ruang ICU khusus anak yang terinfeksi covid 19.

Kedua, Lengkapi Imunisasi dasar untuk Balita dan anak-anak, karena program imunisasi pada anak menurun selama pandemi, sehingga bisa memicu wabah lainnya.

Program Pemerintah Indonesia dalam pembangunan kesehatan bukan masalah Covid-19 saja, tapi program rutin lain terkait anak tidak boleh diabaikan. Pemberian Imunisasi dasar dan makanan tambahan yang sehat dan bergizi bagi balita harus terus dijalankan sebagai progam pengarusutamaan, program unggulan.

Ketiga, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus segera memprioritaskan pembangunan ruang ICU khusus anak yang terinfeksi Covid-19 sebagai upaya menekan angka kematian anak.

Keempat, pemerintah harus menunda PTM pada tahun ajaran baru Juli 2021 yang kurang dari sebulan lagi, mengingat kasus sangat tinggi dan positivity rate di sejumlah daerah diatas 5 persen,

Kondisi ini tidak aman untuk buka sekolah tatap muka, membahayakan keselamatan anak-anak. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sesuai Konvensi Hak Anak harus memenuhi hak hidup dan hak sehat bagi anak-anak Indonesia. 

“Saat ini saja, ketika mayoritas sekolah mayoritas belum menggelar pembelajaran tatap muka (PTM), sebagian besar anak Indonesia masih belajar dari rumah. Namun ternyata angka anak-anak yang positif Covid sangat tinggi. Apalagi kalau PTM akan digelar Juli 2021 secara serentak maka dapat diprediksdi angka kasus Covid pada anak akan melonjak tajam,” kata Retno.

Rekomendasi kelima, lanjut Retno, orangtua dan orang dewasa  di rumah harus terapkan protkcol kesehatan yang ketat saat keluar rumah dan kembali ke rumah.

Ketika aktivitas anak masih banyak di rumah maka orang dewasa di sekitar anak lah yang diduga kuat menulari anak. Semakin rendahnya perilaku orang dewasa untuk melaksanakan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas) maka akan berpotensi meningkatkan jumlah anak-anak yang tertular covid-19 akan terus meningkat. (ont)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *