JAYAKARTA NEWS— Sebanyak 500.000 talenta Indonesia ditargetkan siap memasuki pasar kerja global dalam lima tahun ke depan melalui Program SMK Go Global yang dikembangkan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Untuk tahun 2026, program ini memasuki tahap piloting dengan target 40.000 peserta.
Untuk mengakselerasi target tersebut, KP2MI memperkuat peran Migrant Center di perguruan tinggi sebagai salah satu motor penyelenggaraan Program SMK Go Global. Penguatan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan SDM unggul Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan industri sekaligus bersaing di pasar kerja internasional.
Hal tersebut dibahas dalam rapat persiapan yang digelar secara daring, Jumat (28/8/2026), dipimpin Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla bersama jajaran pejabat KP2MI dan perwakilan perguruan tinggi.
Dzulfikar mengatakan, penguatan Migrant Center merupakan bagian dari akselerasi arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan SDM Indonesia yang unggul dan siap bersaing di pasar kerja global.
“Peserta harus menjadi right talent, mendapat right training, masuk ke right market, didukung right partner, dan memperoleh right protection. Itu arah utama pengembangan SMK Go Global,” tegas Dzulfikar.
14 Ribu Pendaftar, 3 Ribu Siap Masuk Proses Penempatan
Antusiasme terhadap Program SMK Go Global terlihat dari jumlah pendaftar pada batch pertama yang telah mencapai 14.000 orang. Para peserta menjalani seleksi administrasi, tes tertulis, dan wawancara.
Dari proses tersebut, sekitar 3.000 peserta kini siap memasuki proses penempatan melalui SIP2MI.
Capaian tersebut menjadi pijakan awal bagi KP2MI untuk memperkuat ekosistem program, termasuk melalui optimalisasi Migrant Center di perguruan tinggi.
KP2MI mendorong agar Migrant Center tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan. Lebih dari itu, Migrant Center diharapkan mampu membangun jejaring langsung dengan pengguna tenaga kerja di luar negeri sehingga proses pelatihan memiliki keterhubungan yang kuat dengan kebutuhan pasar kerja.
Sejumlah perguruan tinggi telah memiliki pengalaman membangun jejaring internasional yang dapat menjadi modal pengembangan tersebut. Universitas Nasional Pasim memiliki pengalaman dengan Jepang, Jerman, dan Korea. Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan Taiwan, serta Universitas Citra Bangsa dengan Jepang.
Ke depan, Migrant Center diharapkan berkembang menjadi pusat pengembangan SDM pekerja migran sekaligus menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi penempatan pekerja migran secara nonprosedural.
Pelatihan Harus Sesuai Kebutuhan Industri
KP2MI juga menekankan bahwa kualitas pelatihan menjadi kunci agar peserta benar-benar siap memasuki pasar kerja global. Karena itu, pelatihan harus dirancang berdasarkan kebutuhan industri, termasuk dari sisi fasilitas dan jumlah peserta.
Untuk pelatihan welding, misalnya, rasio peralatan harus proporsional dengan jumlah peserta. Sementara untuk sektor hospitality, jumlah peserta perlu disesuaikan dengan karakteristik pelatihan.
Monitoring dilakukan di tengah proses pelatihan untuk memastikan pelaksanaan berjalan sesuai standar. Adapun keluaran akhirnya berupa sertifikasi dan uji kompetensi oleh user.
Di sektor kesehatan, KP2MI juga mendorong agar ujian Prometric dapat dilakukan di Indonesia. Upaya ini dilakukan antara lain melalui komunikasi dengan grup rumah sakit besar di Arab Saudi.
Tiga Skema Kerja Sama
Untuk mendukung pelaksanaan Program SMK Go Global, KP2MI menyiapkan tiga skema kerja sama. Pertama, Swakelola Tipe II untuk perguruan tinggi negeri. Kedua, Swakelola Tipe III untuk perguruan tinggi swasta. Ketiga, E-Katalog untuk kerja sama dengan pihak swasta.
Setiap Migrant Center nantinya akan ditunjuk Person in Charge (PIC) yang bertugas menjadi penghubung dalam urusan administrasi sekaligus koordinasi dengan tim pusat.
Dengan penguatan tersebut, KP2MI menempatkan Migrant Center bukan sekadar sebagai pusat pelatihan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem penyiapan dan penempatan pekerja migran Indonesia.
Dzulfikar menegaskan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membuka akses karier global bagi mahasiswa dan alumni.
“Migrant Center harus menjadi instrumen perguruan tinggi dalam membuka pilihan karier global bagi mahasiswa dan alumni, dengan jalur prosedural, aman, dan terlindungi,” tegas Dzulfikar. (*/di)