• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Ketika Arsip Jaap Kunst Pulang ke Flores Timur

Ketika Arsip Jaap Kunst Pulang ke Flores Timur

August 13, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

October 23, 2026
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Sunday, October 25, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Ketika Arsip Jaap Kunst Pulang ke Flores Timur

by admin
August 13, 2026
in Kabar
0
Ketika Arsip Jaap Kunst Pulang ke Flores Timur
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Heri Mulyono

Stefanus Raja Koten, 75 tahun, tiba-tiba terdiam saat rekaman suara diputar di Lewoloba, Flores Timur. Ia mengenali lagu leluhurnya, merinding, lalu berbisik pelan, “Aduh, saya merinding.”

Suara yang membuat tubuh Stefanus bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat memahami itu berusia hampir satu abad. Ia berasal dari rekaman yang dibuat pada tahun 1930 oleh Jaap Kunst, etnomusikolog Belanda yang menghabiskan sebagian besar hidupnya mendokumentasikan musik dan tradisi masyarakat di berbagai penjuru Nusantara.

Dalam salah satu ekspedisinya ke Flores, Kunst merekam 182 lagu menggunakan 75 silinder lilin, sebuah teknologi rekam suara yang di masanya tergolong mutakhir, sembari memotret dan merekam film. Seluruh dokumentasi itu kini tersimpan sebagai bagian dari Koleksi Jaap Kunst di Universiteit van Amsterdam, salah satu arsip etnomusikologi tertua dan paling lengkap tentang Indonesia yang pernah dihimpun oleh seorang peneliti asing.

Hampir seratus tahun berselang, suara-suara yang direkam Kunst kembali terdengar di tanah asalnya. Bukan sekadar diputar ulang sebagai arsip, melainkan dibawa kembali ke desa-desa tempat ia pertama kali direkam, melalui sebuah proyek restitusi digital yang digagas Barbara Titus.

Sebagai etnomusikolog Universiteit van Amsterdam sekaligus kurator Koleksi Jaap Kunst, Barbara menggandeng tim peneliti dari Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC): Inriyani Takesan, Lommi Dida Kini, dan Julius J. Seran Goran. Bersama-sama mereka menempuh jalan panjang, baik secara birokratis maupun secara batin, untuk membawa arsip itu pulang.

PERJALANAN SEBELUM KEPULANGAN

Proses ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum rekaman-rekaman itu diperdengarkan kembali di kampung halamannya. Pada September 2024, koleksi Jaap Kunst yang telah didigitalkan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan NTT. Sebagian dari arsip tersebut kemudian dapat diakses publik melalui sebuah ruang khusus bernama Jaap Kunst Hoek di perpustakaan itu, di Kupang.

Pada akhir Juli 2026, tim peneliti kembali memperkenalkan arsip tersebut kepada masyarakat di Kupang. Beberapa anggota komunitas Lamaholot yang hadir mampu mengenali bahasa, lagu, dan konteks sosial yang terekam dalam material berusia hampir satu abad itu. Namun bagi Barbara, capaian tersebut belum cukup. Arsip yang sudah berada di Kupang, menurutnya, belum benar-benar sampai kepada masyarakat yang menjadi sumber aslinya. “Kupang masih terlalu jauh,” katanya.

Jarak yang dimaksud Barbara bukan sekadar jarak geografis, meskipun itu pun nyata: desa-desa di Flores Timur yang menjadi sumber rekaman berada lebih dari 200 kilometer dari Kupang. Yang lebih penting, masyarakat yang leluhurnya direkam Kunst pada 1930 memiliki pengetahuan yang tidak pernah tercatat dalam arsip mana pun — siapa yang menyanyi, kapan, untuk keperluan apa, dan bagaimana tradisi itu semestinya diwariskan ke generasi berikutnya.

Karena itulah tim memutuskan bergerak lebih jauh, menembus langsung ke sumbernya: Lewoloba di Kecamatan Ile Mandiri, serta Waibao dan Riangkroko di Kecamatan Tanjung Bunga. Di tiga titik itu, ketika suara lama kembali terdengar, yang muncul bukan hanya ingatan, tetapi juga kehilangan, perdebatan, dan bentuk-bentuk baru dari tradisi yang selama ini dikira telah punah.

foto: Julius J. Seran Goran

LEWOLOBA: KETIKA ARSIP BUKAN KEBENARAN TERAKHIR

Di Lewoloba, pemutaran rekaman lama justru mengungkap sesuatu yang tidak terduga: arsip ternyata tidak selalu menjadi kebenaran terakhir tentang sebuah tradisi.

Dalam catatannya, Kunst merekam tiga bagian lagu sebagai satu kesatuan. Namun Stefanus, yang masih menguasai tradisi lisan itu, menilai urutannya semestinya berbeda dari apa yang tertulis dalam arsip. Baginya, lagu, syair, dan tarian dalam tradisi Lewoloba tidak dapat dipisahkan — ketiganya membutuhkan latihan bersama, dan kekeliruan kecil dalam urutan dapat mengubah makna keseluruhan pertunjukan.

Persoalannya, orang yang masih menguasai keseluruhan tradisi itu semakin sedikit. Stefanus sendiri kini berusaha mengajarkan tarian tersebut kepada generasi muda, meski ia sadar pengetahuan semacam itu mudah hilang jika tidak terus dipraktikkan.

Beberapa hari setelah pemutaran rekaman, sesuatu yang tak terduga terjadi. Rekaman suara dan film lama itu justru menjadi pemantik bagi sebuah pertunjukan baru. Pada 9 Agustus, warga Lewoloba menampilkan kembali tiga tarian dan dua nyanyian yang sebelumnya hanya tersimpan dalam arsip Amsterdam. Sekitar sepuluh lelaki mengenakan pakaian tradisional, sarung dan parang, berdiri di bawah gunung yang sama dengan lokasi Kunst membuat dokumentasinya hampir satu abad sebelumnya.

Pada momen itu, arsip lama tidak lagi sekadar sesuatu yang didengar. Ia dijawab langsung oleh tubuh generasi masa kini.

foto: Julius J. Seran Goran

WAIBAO: PERDEBATAN TENTANG TRADISI YANG “HILANG”

Jika Lewoloba menghadirkan semacam rekonsiliasi antara arsip dan praktik hidup, Waibao di Kecamatan Tanjung Bunga justru memunculkan cerita yang jauh lebih getir.

Yakobus Sogan Brinu telah bertahun-tahun berusaha mempertahankan tradisi tandak, kesenian yang memadukan nyanyian, syair, bahasa adat, dan gerak tari. Bersama dua rekannya, ia pernah merekonstruksi lagu-lagu lama dan mendorong agar tandak diajarkan di sekolah. Namun kedua rekannya kini telah meninggal, meninggalkan Sogan nyaris sendirian.

Upaya itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Anak-anak muda zaman sekarang akrab dengan teknologi digital — rekaman tandak bahkan sudah tersedia secara daring — tetapi mereka tetap tidak tertarik mempelajarinya secara serius.

Kegelisahan itu membuat Sogan menangis di hadapan tim peneliti. “Perhatian terhadap lagu-lagu ini muncul ketika orang dari luar negeri datang,” katanya. “Tetapi setelah mereka pergi, perhatian itu hilang lagi.”

Ketika rekaman lama diperdengarkan kepada warga Waibao, muncul perbedaan pandangan yang tajam. Yosep dari Tengahdei berpendapat bahwa tradisi menyanyi itu sesungguhnya masih ada, hanya saja bentuknya sudah berubah seiring waktu. “Ada tapi beda,” katanya singkat.

Sogan tidak begitu saja menerima cara pandang tersebut. Baginya, perubahan bukanlah sesuatu yang bisa ditoleransi begitu saja dalam konteks tandak. “Lagunya tidak boleh beda,” tegasnya.

Bagi Sogan, lagu-lagu tandak berkaitan erat dengan musim berkebun serta pengetahuan yang dahulu menyertainya. Jika konteks itu hilang, yang lenyap bukan sekadar melodi, melainkan sebagian sistem pengetahuan masyarakat Waibao.

Namun narasi tentang “tradisi yang hilang” ini menjadi lebih rumit ketika tim melakukan kunjungan kedua ke Waibao pada 8 Agustus. Saat rekaman lama kembali diperdengarkan, sejumlah keturunan dari orang-orang yang suaranya direkam Kunst ternyata mampu mengenalinya, bahkan mulai ikut bernyanyi.

Pengalaman itu membuat Barbara berhati-hati menggunakan kata “hilang” untuk menggambarkan kondisi tradisi di Waibao. Menurutnya, keberlanjutan tradisi tidak harus berarti pengulangan persis dari masa lalu. “Tradisi selalu berubah,” ujarnya. Sebuah tradisi baru dianggap hilang jika sejak awal kita menetapkan standar bahwa ia harus dilakukan persis seperti dahulu — padahal perubahan bentuk tidak berarti hubungan masyarakat dengan tradisinya telah putus.

foto: Julius J. Seran Goran

RIANGKROKO: SUARA SANG KAKEK YANG TAK PERNAH DIKENAL

Di Riangkroko, masih di Kecamatan Tanjung Bunga, pengalaman mendengarkan arsip lama itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal.

Ketika rekaman diputar di hadapan warga, banyak yang merinding mendengarnya. Di antara kerumunan itu, hadir pula Merien, keturunan langsung dari salah satu penyanyi yang suaranya direkam Kunst hampir satu abad silam.

Merien tidak pernah mengenal kakeknya secara langsung; sosok itu selama ini hanya ia kenali lewat cerita keluarga. Ketika rekaman diputar, untuk pertama kalinya ia mendengar suara asli sang kakek — jarak hampir satu abad seolah dipadatkan menjadi beberapa menit suara.

Namun pewarisan tradisi tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama. Merien sendiri ternyata tidak dapat melantunkan syair kakeknya itu — kemampuan itu diwariskan kepada kakaknya, yang kini telah meninggal.

Meski begitu, di Riangkroko tidak semua mata rantai terputus: sejumlah generasi muda keturunan para penutur asli masih mengetahui dan mampu melantunkan syair atau mantra yang sama. Satu desa kehilangan sebagian pewarisnya, desa lain masih memiliki mata rantai yang tersambung.

LARANTUKA: WAJAH BARU DARI TRADISI YANG TETAP HIDUP

Di Larantuka, arsip Jaap Kunst menampakkan wajah yang sama sekali berbeda dari tiga desa sebelumnya.

Para peneliti memperdengarkan rekaman O Vos Omnes, nyanyian yang menjadi bagian dari tradisi Semana Santa atau Pekan Suci di Larantuka. Para penyanyi masa kini mengenali melodinya, tetapi menemukan banyak perbedaan dengan rekaman 1930, baik dalam tempo, karakter vokal, maupun pengucapan. Pelakunya pun berubah: jika dokumentasi lama menunjukkan laki-laki sebagai penyanyi, kini perempuan menjalankan peran itu.

Meski mengalami berbagai perubahan bentuk, O Vos Omnes tidak pernah dianggap sebagai tradisi yang mati di Larantuka. Nyanyian itu tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Anak-anak generasi baru mengenal melodinya secara alami dari orang tua dan kakek-nenek mereka, sementara setiap tahun selalu berlangsung proses pemilihan penyanyi untuk mengisi prosesi Jumat Agung. Tradisinya memang berubah, tetapi perubahan itu ternyata tidak otomatis berarti kehilangan.

APA YANG SEBENARNYA KEMBALI?

Di titik inilah perjalanan arsip Jaap Kunst berubah menjadi lebih dari sekadar kisah tentang membawa pulang rekaman lama dari Belanda ke Indonesia.

Di Kupang, arsip tersebut kini tersedia untuk diakses publik secara lebih luas. Namun di desa-desa Flores Timur, arsip itu justru bertemu langsung dengan orang-orang yang memiliki hubungan personal dan mendalam dengan suara-suara yang terekam di dalamnya — entah sebagai keturunan, penerus tradisi, atau sekadar warga yang masih mengenali jejak leluhurnya.

Bagi Barbara, digitalisasi hanyalah langkah pertama. Arsip, menurutnya, baru benar-benar hidup ketika bertemu dengan orang-orang yang masih mengenali bahasa, syair, musik, dan tradisi yang melahirkannya. Ia membayangkan timnya sebagai “jembatan” antara material yang tersimpan di Amsterdam dengan kemungkinan yang dimiliki masyarakat masa kini.

Karena itu, menurut Barbara, pekerjaan mereka bukanlah soal menentukan bagaimana seharusnya sebuah tradisi dikembalikan atau dijalankan. Masyarakat sendirilah yang harus memiliki ruang penuh untuk menentukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap arsip yang kini telah kembali ke tangan mereka.

Dan untuk mencapai itu semua, kata Barbara, yang paling penting bukanlah kecanggihan teknologi digitalisasi, melainkan hubungan antarmanusia itu sendiri. “Itu pertama-tama membutuhkan pembangunan dan pemeliharaan hubungan, dan itu paling baik dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

Maka barangkali pertanyaan terpenting dari seluruh perjalanan panjang suara Jaap Kunst ini bukanlah sekadar apakah arsip itu sudah “pulang” secara administratif. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang dilakukan masyarakat setelah arsip itu benar-benar pulang ke tengah mereka?

Ada yang menangis karena merasa kehilangan. Ada yang merinding karena mengenali suara leluhurnya. Ada seorang cucu yang untuk pertama kalinya mendengar suara asli kakeknya. Ada pula orang-orang yang kembali bernyanyi, serta lelaki-lelaki yang kembali mengenakan pakaian adat dan bergerak mengikuti tarian yang mereka lihat dalam film-film tua peninggalan Kunst.

Warisan budaya, pada akhirnya, bukanlah sekadar benda yang bisa dipindahkan begitu saja dari satu tempat ke tempat lain, dari satu rak arsip ke rak arsip lainnya. Ia hidup dalam ingatan yang terus dijaga, dalam tubuh yang menari dan bernyanyi, dalam hubungan antargenerasi, serta dalam perubahan zaman yang terus bergulir tanpa bisa dibendung.

Karena itu pula, barangkali sebuah tradisi tidak selalu benar-benar mati hanya karena ia tidak lagi terdengar persis seperti pada 1930. Kadang yang berubah bukan semata tradisinya sendiri, melainkan cara sebuah generasi baru menemukan kembali jalan pulang menuju hubungan dengan para leluhurnya. (*)

Tags: arsip flores timurarsip jaap kunstbudaya flores
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version