• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Imlek di Nusantara: Dari Perayaan Terlarang hingga Hari Libur Nasional

Imlek di Nusantara: Dari Perayaan Terlarang hingga Hari Libur Nasional

February 17, 2026
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

October 25, 2026
“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

October 25, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

October 23, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Tuesday, October 27, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Imlek di Nusantara: Dari Perayaan Terlarang hingga Hari Libur Nasional

by admin
February 17, 2026
in Kolom
0
Imlek di Nusantara: Dari Perayaan Terlarang hingga Hari Libur Nasional
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono

Perayaan Imlek di Nusantara telah melewati perjalanan panjang dari masa kejayaan, penindasan, hingga kebangkitan kembali sebagai bagian tak terpisahkan dari mozaik budaya Indonesia yang beragam.

Suara petasan memecah keheningan malam, barongsai menari lincah di jalanan, dan warna merah menghiasi setiap sudut kota. Begitulah pemandangan yang kini lumrah ditemui di berbagai penjuru Indonesia saat merayakan Tahun Baru Imlek. Namun, di balik kemeriahan ini tersimpan kisah panjang yang penuh lika-liku, mencerminkan perjalanan masyarakat Tionghoa-Indonesia dalam memperjuangkan identitas budayanya.

Jejak Awal: Kedatangan dan Asimilasi

Sejarah perayaan Imlek di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari kedatangan orang-orang Tionghoa ke wilayah ini. Catatan sejarah menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Tiongkok dan Nusantara telah terjalin sejak abad ke-7 Masehi. Laksamana Cheng Ho yang berlayar ke Nusantara pada awal abad ke-15 menjadi salah satu tonggak penting yang memperkuat komunitas Tionghoa di berbagai pelabuhan penting seperti Semarang, Surabaya, dan Palembang.

Pada masa itu, perayaan Imlek dilakukan secara sederhana namun penuh makna di kalangan pedagang dan perantau Tionghoa. Mereka membangun klenteng-klenteng sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya, tempat di mana tradisi-tradisi dari tanah leluhur dijaga dan dilestarikan. Perayaan Imlek menjadi momen untuk berkumpul, berdoa kepada leluhur, dan memohon berkah untuk tahun yang akan datang.

Yang menarik, sejak awal masyarakat Tionghoa di Nusantara telah mengalami proses asimilasi dengan budaya lokal. Mereka tidak hanya membawa tradisi murni dari Tiongkok, tetapi juga mengadaptasinya dengan nilai-nilai dan kebiasaan setempat. Inilah yang kemudian melahirkan keunikan tersendiri dalam perayaan Imlek di Indonesia.

Makna Mendalam di Balik Perayaan

Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, melainkan perayaan yang sarat dengan nilai filosofis dan spiritual. Imlek adalah momen untuk memperbaharui diri, meninggalkan keburukan tahun lalu, dan menyambut harapan baru dengan hati yang bersih. Ritual membersihkan rumah sebelum Imlek melambangkan pembersihan spiritual dari energi negatif. Warna merah yang mendominasi perayaan bukan hanya estetika, tetapi simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan penolak bala.

Tradisi berkumpul dengan keluarga besar pada malam tahun baru mencerminkan nilai kekeluargaan yang sangat dijunjung tinggi, di mana tiga generasi atau lebih berkumpul dalam satu meja makan untuk memperkuat ikatan darah dan menghormati leluhur.

Pemberian angpao kepada anak-anak dan yang lebih muda mengandung makna berbagi rezeki dan doa agar generasi penerus mendapat berkah. Sembahyang di klenteng dan altar leluhur adalah wujud penghormatan kepada nenek moyang serta ungkapan syukur atas segala berkah yang telah diterima, mencerminkan nilai Xiao (孝) atau bakti yang menjadi inti ajaran Konfusianisme yang dianut mayoritas masyarakat Tionghoa.

Era Kolonial: Berkembang di Tengah Segregasi

Pada masa kolonial Belanda, komunitas Tionghoa mengalami sistem segregasi yang menempatkan mereka dalam kelompok tersendiri. Meskipun demikian, perayaan Imlek justru berkembang lebih meriah. Di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya, perayaan Imlek menjadi festival besar yang tidak hanya diikuti oleh masyarakat Tionghoa tetapi juga penduduk pribumi dan Belanda.

Pada era ini, tradisi-tradisi seperti pembakaran dupa di klenteng, pertunjukan barongsai dan liong, serta pembagian angpao mulai mengakar kuat. Pecinan-pecinan di berbagai kota menjadi pusat perayaan yang ramai dengan aktivitas perdagangan dan ritual keagamaan. Belanda, yang menerapkan politik devide et impera, justru memberikan ruang bagi komunitas Tionghoa untuk mempertahankan identitas budayanya, termasuk dalam merayakan Imlek.

Masa Keemasan Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, awalnya terdapat ruang kebebasan bagi seluruh warga negara untuk mengekspresikan budayanya. Perayaan Imlek pada tahun 1950-an hingga pertengahan 1960-an mencapai masa keemasannya. Festival ini dirayakan secara terbuka dan meriah di berbagai kota. Klenteng-klenteng dipenuhi umat, pertunjukan seni barongsai dan liong memadati jalan-jalan, dan suasana kebersamaan begitu terasa.

Pada periode ini, perayaan Imlek mulai dianggap sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia. Tokoh-tokoh nasional, termasuk Presiden Sukarno, sempat menunjukkan apresiasi terhadap kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan bangsa.

Masa Kelam: Larangan dan Penyembunyian

Namun, keadaan berubah drastis setelah peristiwa G30S pada tahun 1965. Rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan yang membatasi, bahkan melarang, ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik. Melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, segala bentuk perayaan, ritual, dan upacara keagamaan Tionghoa hanya boleh dilakukan dalam lingkup keluarga dan di dalam ruang tertutup.

Selama lebih dari tiga dekade, perayaan Imlek harus dilakukan sembunyi-sembunyi. Tidak ada lagi kemeriahan barongsai di jalan-jalan, petasan tidak boleh dibunyikan, dan lampion merah tidak boleh dipajang di depan rumah. Klenteng-klenteng tetap buka, namun aktivitasnya sangat terbatas. Banyak tradisi terancam punah karena generasi muda tidak bisa belajar dan mewarisi budaya leluhur mereka secara bebas.

Masa ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia. Identitas budaya mereka ditekan, bahkan nama-nama Tionghoa harus diganti menjadi nama yang berbau Indonesia. Namun, di balik pengekangan ini, semangat untuk melestarikan tradisi tetap menyala. Di ruang-ruang privat, keluarga-keluarga tetap menjalankan ritual Imlek: menyalakan dupa, menyajikan makanan untuk leluhur, dan memberikan angpao kepada anak-anak.

Kebangkitan: Era Reformasi

Angin perubahan mulai berhembus setelah Presiden Soeharto lengser pada tahun 1998. Era Reformasi membawa harapan baru bagi kebebasan berekspresi, termasuk bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi pahlawan bagi komunitas ini ketika pada tahun 2000 ia mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 dan menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif.

Keputusan ini disambut dengan sukacita luar biasa. Perayaan Imlek tahun 2001 menjadi yang pertama kali dirayakan secara terbuka sejak tiga dekade sebelumnya. Barongsai kembali turun ke jalan, petasan kembali meledak, dan lampion merah kembali menghiasi pecinan. Banyak yang menangis haru, merasakan kebebasan yang selama ini dirindukan.

Pada tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengukuhkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2002. Sejak saat itu, Imlek tidak hanya menjadi perayaan komunitas Tionghoa, tetapi juga bagian dari perayaan nasional yang dihormati dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Keunikan Tradisi Imlek di Berbagai Daerah

Salah satu kekayaan perayaan Imlek di Indonesia adalah keunikan tradisi di berbagai daerah yang mencerminkan proses akulturasi budaya lokal dengan tradisi Tionghoa.

Jakarta dan Tangerang: Pusat Perayaan Metropolitan

Di Jakarta, terutama di kawasan Pecinan Glodok dan Pantai Indah Kapuk, perayaan Imlek berlangsung sangat meriah dengan kemegahan perkotaan. Pertunjukan barongsai dan liong raksasa memadati jalan-jalan protokol, ada festival kuliner khas, dan dekorasi megah di pusat-pusat perbelanjaan. Di Kelenteng Dharma Bhakti (Vihara Jin De Yuan), ribuan umat berdatangan untuk bersembahyang dan memohon berkah.

Yang unik, di Jakarta telah berkembang tradisi “Car Free Day Imlek” di beberapa kawasan, di mana jalan-jalan protokol ditutup dan menjadi panggung pertunjukan seni budaya Tionghoa secara gratis untuk publik. Ini menunjukkan bagaimana Imlek telah menjadi perayaan inklusif yang dinikmati semua kalangan.

Semarang: Tradisi Sam Poo Kong

Semarang memiliki keunikan tersendiri dengan adanya Kelenteng Sam Poo Kong, kompleks kelenteng bersejarah yang dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho. Pada perayaan Imlek, ribuan umat dari berbagai penjuru datang ke Sam Poo Kong untuk bersembahyang. Yang menarik adalah tradisi prosesi arak patung Cheng Ho keliling kompleks, diiringi musik tradisional dan tarian.

Di Semarang juga berkembang tradisi “Semawis Night Market” yang berlangsung menjelang dan saat Imlek, di mana kawasan Pecinan Gang Lombok dipenuhi pedagang makanan khas Tionghoa dan pertunjukan budaya. Tradisi ini berhasil memadukan unsur wisata kuliner dengan pelestarian budaya.

Singkawang: Kota Seribu Kelenteng

Singkawang di Kalimantan Barat dikenal sebagai “Kota Seribu Kelenteng” dan memiliki tradisi Imlek yang paling spektakuler di Indonesia: Festival Cap Go Meh. Perayaan ini mencapai puncaknya pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek dengan prosesi pawai Tatung yang sangat unik.

Tatung adalah tradisi di mana medium spiritual (kebanyakan pria) memasuki kondisi trance dan menusuk pipi, lidah, atau bagian tubuh lainnya dengan benda tajam tanpa merasa sakit atau berdarah. Mereka percaya bahwa roh dewa masuk ke dalam tubuh para Tatung untuk memberkati masyarakat. Ribuan penonton memadati jalanan untuk menyaksikan prosesi ini yang diiringi barongsai, musik tradisional, dan pembakaran dupa.

Yang membuat Singkawang istimewa adalah kerukunan antarumat beragama. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di sana diikuti oleh semua kalangan, tidak hanya Tionghoa atau Buddhis, tetapi juga Melayu Muslim dan Dayak. Ini menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman bisa hidup harmonis.

Surabaya: Tradisi Klenteng Hong Tiek Hian

Surabaya memiliki Klenteng Hong Tiek Hian yang menjadi pusat perayaan Imlek di Jawa Timur. Keunikan di Surabaya adalah tradisi “Ba Chang” atau membagi-bagikan bakcang (bacang) kepada masyarakat umum sebagai simbol berbagi rezeki. Ribuan bakcang dibagikan gratis kepada siapa saja yang datang, tanpa memandang suku atau agama.

Di kawasan Kya-Kya dan Kembang Jepun, perayaan Imlek berlangsung selama berhari-hari dengan pertunjukan barongsai, pameran seni, dan bazar kuliner. Tradisi “Salam Tempel” juga berkembang, di mana warga saling menempelkan amplop angpao di dahi sebagai simbol persahabatan dan keakraban.

Medan: Perpaduan Budaya Tionghoa-Melayu

Di Medan, Sumatera Utara, perayaan Imlek memiliki sentuhan khas perpaduan budaya Tionghoa dengan budaya Melayu dan Batak. Di Kelenteng Tjong A Fie dan Vihara Gunung Timur, perayaan Imlek diwarnai dengan pertunjukan musik tradisional yang memadukan alat musik Tionghoa dengan musik Melayu Deli.

Kuliner khas Medan seperti babi panggang, mie Tiong Sim, dan kue keranjang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan. Yang unik, ada tradisi “Guan Gong Keliling” di mana patung Dewa Guan Gong diarak keliling kampung sambil membagikan angpao dan buah jeruk kepada warga.

Solo dan Yogyakarta: Akulturasi Jawa-Tionghoa

Di Solo dan Yogyakarta, perayaan Imlek menunjukkan akulturasi yang sangat indah antara budaya Jawa dengan Tionghoa. Di Klenteng Tay Kak Sie Solo dan Kelenteng Poncowinatan Yogyakarta, ritual Imlek dilakukan dengan penambahan unsur budaya Jawa seperti penggunaan gamelan dan tarian tradisional Jawa.

Yang menarik adalah tradisi “Bakpia Pathok” di Yogyakarta yang sebenarnya berasal dari kue Tionghoa “pia” yang telah diadaptasi dengan selera lokal. Pada saat Imlek, bakpia menjadi oleh-oleh wajib yang dibagikan sebagai simbol keberuntungan.

Imlek Hari Ini: Perayaan Nasional yang Inklusif

Saat ini, Imlek telah berkembang menjadi perayaan nasional yang inklusif. Bukan hanya masyarakat Tionghoa, tetapi juga masyarakat dari berbagai latar belakang ikut merayakan dan menikmati kemeriahan Imlek. Ucapan “Gong Xi Fa Cai” terdengar di mana-mana, restoran-restoran Tionghoa penuh sesak, dan pertunjukan barongsai menjadi tontonan yang dinantikan.

Media massa memberikan liputan luas tentang perayaan Imlek, pemerintah daerah menggelar berbagai acara festival, dan pusat-pusat perbelanjaan berlomba-lomba menghadirkan dekorasi dan promo spesial Imlek. Ini menunjukkan bagaimana Imlek telah menjadi bagian integral dari kalender budaya Indonesia.

Yang lebih penting, perayaan Imlek hari ini menjadi momen untuk memperkuat kerukunan dan persatuan. Banyak keluarga non-Tionghoa yang ikut memberikan angpao kepada anak-anak, menikmati kuliner khas Imlek, dan bahkan menghadiri perayaan di klenteng. Sebaliknya, masyarakat Tionghoa juga aktif dalam perayaan budaya suku lain, menciptakan pertukaran budaya yang harmonis.

Penutup: Dari Perjuangan Menuju Keberagaman

Perjalanan perayaan Imlek di Nusantara adalah cerminan dari perjalanan Indonesia sendiri dalam mengelola keberagaman. Dari masa kejayaan, penindasan, hingga kebangkitan kembali, Imlek telah membuktikan bahwa identitas budaya adalah hak fundamental yang tidak boleh dirampas.

Keunikan tradisi Imlek di berbagai daerah menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang lahir dari proses akulturasi dan dialog antarbudaya. Ini adalah bukti bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dijaga dan dirayakan bersama.

Hari ini, ketika lampion merah berkibar dan barongsai menari di jalanan Indonesia, kita tidak hanya merayakan Tahun Baru Imlek, tetapi juga merayakan kemenangan toleransi, pluralisme, dan kemanusiaan. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kemampuannya merangkul dan menghormati semua unsur yang membentuknya. (*)

Tags: Sejarah Imleksejarah imlek di indonesiatahun baru imlek
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version