Hitam-Merah di Dynamix Park

 Hitam-Merah di Dynamix Park

Aon dan Danny tengah mengecat. (foto: roso daras)

Jayakarta News – Cuaca cerah, saat tim advance dan surveyor Renzo tiba di lokasi Dynamix Park, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Menempuh perjalanan sekitar dua jam dari ibu kota, tim langsung turun ke lapangan.

Di lokasi, telah menunggu Ummu Azizah Mukarnawati, Corporate Social Responsibility Manager PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Tim advance yang merencanakan tinggal untuk beberapa hari di lokasi, juga membawa serta satu unit mobil pick up untuk mengangkut bibit-bibit tanaman, dan perlengkapan kerja.

Tim yang dipimpin Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo, termasuk tenaga sipil keras, sipil basah, dan perizinan, lengkap dengan alat kerja. “Yang pertama harus kita lakukan adalah mencari sumber air,” ujar Kikiek, pendiri Yayasan Renzo, pengelola lahan 85 hektare milik PT SBI.

Tim Advance dan Surveyor Yayasan Renzo tiba di lokasi Dynamix Park, Cibadak, Sukabumi, disambut Ummu Azizah Mukarnawati, Corporate Social Responsibility Manager PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (keempat dari kiri). (foto: monang sitohang)

Sementara itu, sebagian anggota tim lain membantu mengerjakan pembersihan dan pengecatan dua unit kontainar yang ada di sebelah bangunan kantor utama. Dua kontainer itu, selama ini difungsikan sebagai tempat istirahat dan gudang.

Usai dibersihkan, ruang dalam kontainer yang sudah diberi dasar keramik, menjadi kinclong. Sementara, cat putih di bagian luar sudah kusam dan berjamur. Beberapa orang langsung melaburkan cat hitam dan merah. Dua warna khas dan dominan Renzo.

Selanjutnya, sesuai rencana, kelompok-kelompok kecil akan turun ke lapangan yang hasilnya akan didiskusikan untuk eksekusi. Kelompok pertama, Tono dan Gustav bertugas survei kontur tanah serta pengurusan semua perizinan yang diperlukan.

Di grup dua ada Djajo, Danny, dan Firman. Ketiganya bertugas melakukan survei lokasi outbound dan camping ground. Di samping mencari spot untuk lokasi giant swing, flying fox, paintball, ATV, dan labyrinth. “Tim ini juga harus memperhatikan pedoman safety code wisata petualangan yang diatur Kementerian Pariwisata,” ujar Kikiek pula.

Grup tiga terdiri atas Erick, Noerdin, dan Aon. Ketiganya mensurvei calon lokasi untuk peternakan dan mini zoo. Sejumlah hewan sudah dirancang untuk dikembangbiakkan di sini. Selain rusa, juga kambing aneka ras, dan iguana. “Relasi kami punya koleksi iguana yang sudah siap diboyong ke Dynamix Park. Iguana ini hewan eksotik. Bentuknya sekilas menyeramkan seperti binatang purba, tetapi sejatinya ia jinak,” tambahnya.

Kelompok empat terdiri atas Roso Daras, Taryono, dan Baron. Mereka akan mensurvei kandidat lokasi berdirinya area pertunjukan, spot villa dan cafe. Adanya tebing-tebing batu (karst) sangat menarik jika dijadikan background panggung. Adapun format panggung, nantinya tim ini yang akan merancang, apakah bentuk ampiteater atau panggung konvensional.

Tim surveyor juga akan mengeksplor spot batu dan jurang. Kombinasi keduanya bisa melahirkan spot cafe yang menempel di dinding batu. Atau spot-spot rekreasi petualangan yang lain.

Grup lima sebagai penyempurna tim terdiri atas Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo, Putu, Dekos, Ipung, Kislan, dan Hasto. Tiga tugas utama tim ini. Yakni mensurvei calon spot untuk pendirian “Scholar Corner”, “Karate Corner” dan “Kids Corner”.

“Lokasi Taman Dynamix sendiri sekitar 85 hektare. Di sebelahnya, ada lahan 100 hekater, jika digabung hampir 200 hektare. Lahan yang luas harus dimulai dengan ide besar. Bahwa pelaksanaannya step by step, itu soal lain. Seribu langkah, dimulai dari satu langkah,” ujar Kikiek. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *