Hermawan Sulistyo Menatap Olimpiade 2020

 Hermawan Sulistyo Menatap Olimpiade 2020
Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo (kanan) dalam salah satu nomor “kumite”. (foto: Ist)

Setelah melalui perjuangan panjang, dan berpuncak pada peringatan Hari Karate se-Dunia tanggal 7 Oktober, akhirnya Federasi Karate Internasional (WKF), berhasil mengegolkan karate manjadi cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan di olimpiade. Komite Olimpiade Internasional (IOC) menetapkan karate dipertandingkan mulai Olimpiade 2020 di Jepang.

Kandidat Ketua Umum PP-Inkai 2018-2022, Prof Hermawan Sulistyo mencermati betul kabar gembira itu. Karenanya, ia menyiapkan visi dan misi yang jauh ke depan. Profesor Riset yang sudah malang melintang ke berbagai penjuru dunia itu, untuk Inkai 2018-2022 mencanangkan visi: Menatap karate Inkai masa depan, sebagai cabang olahraga prestasi; mempertahankan tradisi Shotokan Karate-Do sebagai beladiri (martial arts) untuk membentuk watak generasi bangsa masa depan.

Visi ideal yang kemudian dijabarkan dalam misi: Membangun Inkai 2019-2023 kembali menjadi perguruan karate terbesar dan terkuat di Indonesia. “Target harus kita lambungkan ke level tertinggi. Kita bisa bersaing dengan karateka papan atas dunia. Dengan Jepang sekalipun. Tentu dengan program yang terukur serta memaksimalkan kemajuan teknologi,” ujarnya.

Ia mengapresiasi sikap pemerintah, dalam hal ini Menpora Imam Nahrawi yang memasukkan karate sebagai cabang olahraga andalan dalam Olimpiade 2020. Kikiek, begitu ia akrab disapa, juga mengapresiasi PB FORKI yang mengirim atlet-atlet muda melakukan TC (Training Center) ke Eropa menyambut Olimpiade 2020.

Seperti diketahui, awal tahun lalu (2017), PB FORKI mengirim beberapa karateka Indonesia ke Eropa untuk persiapan Olmipiade 2020. Lima karateka pelatnas jangka panjang ke Perancis yaitu Sisilia Agustina Ora (24), Srunita Sari (24), Cokorda Istri Agung Sanisya (22), Ahmad Zigi Zareta (19), dan M. Fahmi Sanusi (18).

Sport Science

Menyebut nama Hermawan Sulistyo, masyarakat memandangnya dari banyak sudut pandang. Ada yang memandangnya sebagai akademisi. Ada yang terkesan dengan kirpahnya sebagai aktivis “parlemen jalanan”. Ada yang menganggapnya pengamat politik paling vokal. Penulis buku, wartawan, penasihat ahli Kapolri, bahkan…. Pernah menjadi host acara kuliner di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Sekadar informasi, Kikiek termasuk tokoh yang doyan makan bangku kuliah. Jika dideret, tersebutlah ia kuliah di Universitas Indonesia (UI); Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara; Universitas Airlangga (Unair); State University of New York (SUNY-Buffalo, US); Ohio University (OU-Athens, US); Northern Illinois University (NIU-DeKalb, US); Arizona State University (ASU-Tempe, US), dan lain-lain, dalam bidang-bidang Matematika, Fisika Nuklir, Ilmu Politik; Filsafat; Hubungan Internasional/Politik dan Pemerintahan Indonesia, History, Literature, Antropologi, Area Studies, Publishing, dan lain-lain.

Tak heran jika menuliskan nama plus titelnya, menjadi berderet-deret: Prof (Ris) Dr H Hermawan Sulistyo, MA, MAIA, PhD, APU. Itu menjadikannya sosok ideal memimpin PP Inkai 2018 – 2022. Visinya melanting tinggi, misinya jauh ke depan. Contoh, dalam banyak perbincangan, kepada Jayakartanews Kikiek getol bicara sport science sebagai salah satu unsur penting untuk menopang Inkai yang diidam-idamkan.

Dukungan sport science (ilmu olahraga), antara lain untuk “strength and conditioning” (kekuatan dan pengkondisian). Di negara-negara maju, faktor S & C (strength & conditioning) bahkan sudah distandardisasikan secara nasional.

Dukungan lain adalah fisiologi olahraga, kata Kikiek. Faktor ini sering diabaikan. Bahkan ia menjamin, tidak satu pun Pengurus Besar (PB) Olahraga nasional yang meletakkan divisi Fisiologi Olahraga di dalam struktur permanen. Fisiologi Olahraga adalah bagian atau cabang dari fisiologi yang khusus mempelajari perubahan fungsi yang disebabkan oleh latihan fisik.

Ia mencontohkan, bagaimana perubahan fungsi itu dapat terjadi apabila seseorang melakukan latihan tunggal  (acute exercise). Juga, perubahan apa yang dapat terjadi pada fungsi tubuh setelah melakukan latihan berulang-ulang (chronic exercise) dan bagaimana perubahan fungsi tubuh itu berlangsung. Selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan respon dan adaptasi tubuh terhadap latihan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.

Seorang karateka cedera saat pertandingan. (Foto: Ist)

“Ada satu lagi yang masuk dalam rumpun sport science. Dia adalah Rehabilitasi Olahraga. Kikiek menjelaskan, rehabilitasi adalah proses mengembalikan seluruh fungsi setelah atlet mengalami cedera, yang melibatkan pengembalian kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan. Rehabilitasi sama pentingnya dengan penatalaksanaan lain, tetapi sering dilewatkan. “Intinya, tujuan program rehabilitasi ini adalah untuk mengembalikan semua aspek kesehatan seperti sebelum cedera, dengan cara yang terkontrol dan terpantau. Harus tahu, rehabilitasi harus dimulai sesegera mungkin, setidaknya setetlah fase peradangan awal. Biasanya diukur dengan waktu kurang dari 72 jam,” paparnya.

Ditambahkannya, begitu banyak ragam penting dalam mengurus suatu organisasi olahraga, termasuk karate. Sayangnya, tidak semua hal-hal penting itu dipentingkan. “Kalau targetnya kita mampu berbicara di ajang Olimpiade 2020, mau tidak mau faktor-faktor penting itu harus diperhatikan,” tandasnya. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *