JAYAKARTA NEWS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) amblas hingga mencapai 8 persen pada Rabu (28/1/2926). Hal ini terjadi akibat aksi panic selling terkait pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan proses review dan rebalancing saham-saham di Indonesia.
BEI sempat menyetop sementara perdagangan saham pada pembukaan sesi siang pukul 13.48 hingga pukul 14.13 melalui Jakarta Automated Trading System (JATS). Sejumlah saham unggulan seperti BUMI anjlok 50 point (14,52 persen), DEWA turun 100 point (14,92 persen). Saham group Bakrie itu mengalami auto reject bawah (ARB).
Demikian juga saham konglomerat Prayogo Pangestu seperti CDIA mengalami anjlok 210 point (15 persen), saham GTSI milik Humpus Group juga anjlok 56 point (14,58 persen). Keduanya mengalami ARB.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.990.871 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 60,86 miliar lembar saham senilai Rp45,50 triliun. Sebanyak 753 saham menurun dan 16 saham tidak bergerak nilainya.
Meski begitu ada 40 saham mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan seperti KAQI naik 9 point atau 11 persen dengan volume transaksi mencapai 15,017,856 lembar dan MDKA naik 30 point atau 0,9 persen dengan volume 2.371,103, disusul WAPO sebanyak 1,425,593 volume.
Namun pada penutupan IHSG sempat naik 659,67 poin atau 7,35 persen ke posisi 8.320,55. Kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) tercatat turun 63,58 poin atau 7,26 persen ke posisi 812,53.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebelas atau semua sektor melemah yaitu sektor energi turun paling dalam sebesar 9,57 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor industri yang turun masing- masing sebesar 7,88 persen dan 6,19 persen.
Ambruknya perdagangan saham mengejutkan para investor. Hal ini terjadi setelah pengumuman MSCI Inc.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI.
“Kami memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Kami memahami bahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor,” ujar Sekretaris Perusahaan PT BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resminya Rabu (28/1/2026).
Lebih lanjut Kautsar mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.
“Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik secara global dan ekspektasi pemangku kepentingan global,” jelas Kautsar.
Sebagai bagian dari langkah konkret yang telah dilakukan, BEI telah menyampaikan pengumuman data free-float secara komprehensif melalui website resmi BEI sejak 2 Januari 2026 serta akan disampaikan secara rutin setiap bulannya.
Selanjutnya, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi.
“Melalui koordinasi yang berkesinambungan ini, kami optimistis dapat terus memperkuat daya saing Pasar Modal Indonesia di tingkat global, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap Pasar Modal nasional,” pungkas Kautsar. (yog)