Connect with us

Kabar

Daeng Heri, Penakluk New York dari Wajo

Published

on

Saat bertemu Wapres Jusuf Kalla di New York, di sela sela sidang umum PBB.

Di zaman “negeri tanpa batas”, kisah-kisah “penaklukan” negeri orang berhasil dilakukan oleh insan-insan pilihan. Daeng Heri, pemuda asal Wajo, Sulawesi Selatan ini adalah salah satunya. Ia sukses mengibarkan bendera di kota New York.

New York adalah sebuah negara bagian di Amerika Serikat, tetapi lebih sering merujuk pada Kota New York (New York City) (NYC). Kota terpadat di AS yang merupakan pusat global untuk perdagangan, keuangan, media, budaya, dan seni, serta menjadi markas besar PBB. Kota ini  sering disebut sebagai “Kota yang Tak Pernah Tidur”.

Daeng memang bukan satu-satunya. Sekadar menyebut nama lain, ada juga Andri Suprayitno asal Bandung yang sukses di bisnis biro perjalanan. Dony Kairupan yang berhasil dengan bisnis martabak-nya. Muhammad Sadad asal Depok yang sukses di bidang fesyen. Masih banyak nama lain.

Dari kiri ke kanan, Halim asal Palopo kerja sebagai juru masak di resto Jepang, Rani Ramli asal Sengkang kerja sebagai penjaga anak kecil, Her1 di samping saya salah satu pengusaha Bugis yang sukses di New York.

Nah, kembali ke Daeng Heri. Melalui resto miliknya, Indo Mix, Daeng Heri aktif memperkenalkan kuliner tradisional Indonesia kepada masyarakat internasional, khususnya warga Amerika, tentu juga pada diaspora Indonesia. Restoran yang berlokasi di kawasan Clinton Hill, Brooklyn, itu menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, tempat selera Nusantara bertemu dengan lidah global.

Indo Mix menyajikan beragam hidangan khas Indonesia, yang mengingatkan kampung halaman. Lebih dari sekadar usaha bisnis, restoran ini menjadi medium diplomasi budaya Indonesia di kota Big Apel itu, menghadirkan cerita, identitas, dan memori kolektif bangsa lewat makanan.

Perjalanan Daeng Heri tentu tidak instan. Ia tiba di New York pada 1998, saat transisi Orba ke Reformasi, sebagai imigran dengan mimpi besar menaklukkan megapolitan paling kompetitif di dunia. Seperti banyak diaspora lainnya, ia memulai dari bawah. Ia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring, sebelum perlahan menapaki dunia kuliner profesional.

Heri (kedua dari kiri).

Menariknya, sebelum mendirikan restoran Indonesia, Daeng Heri sempat menekuni dunia kuliner Jepang sebagai chef makanan Jepang. Dari dapur-dapur profesional itulah ia belajar tentang disiplin dan standar tinggi dalam pengolahan makanan. Nilai-nilai tersebut kini menjadi simpul dalam pengelolaan Indo Mix.

Daeng Heri bukan hanya pelaku kuliner, tetapi juga sosok multitalenta. Ia dikenal aktif mengelola Radio New York City, radio para perantau yang menjadi ruang ekspresi dan komunikasi diaspora Indonesia. Tembangnya lagu-lagu Indonesia. Selain itu, ia juga menjadi host podcast perantau, membagikan pengalaman hidup diaspora Indonesia di Amerika, mulai dari adaptasi budaya, dunia kerja, hingga pergulatan menjaga identitas keindonesiaan di negeri orang.

Kiprah Daeng Heri kerap bersinggungan dengan tokoh-tokoh nasional dan komunitas diaspora. Jurnalis, penulis, sekaligus aktor teater Egy Massadiah mengisahkan bahwa setiap kali berkunjung ke New York, ia selalu menyempatkan diri bertemu Daeng Heri. Bahkan, pada masa Jusuf Kalla menjabat Wakil Presiden RI dan menghadiri Sidang Umum PBB, pertemuan dengan Daeng Heri menjadi momen penting dalam jejaring diaspora. Termasuk diaspora dari Sulawesi Selatan.

Saat acara pengukuhan pengurus KKSS New York.

Jusuf Kalla juga sempat hadir dalam pelantikan KKSS New York, didampingi Egy Massadiah dan Ibnu Munzir, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KKSS. Dalam kesempatan lain, Egy diajak berkunjung ke rumah Daeng Heri di kawasan Queens, tempat ia hidup bersama istrinya yang berdarah Amerika–China serta dua anak mereka: sebuah potret keluarga lintas budaya yang harmonis.

Sosok Daeng Heri merepresentasikan tipikal saudagar Wajo, kelompok yang sejak ratusan tahun silam dikenal sebagai pedagang ulung di Nusantara dan Asia Tenggara. Semangat merantau, keberanian mengambil risiko, dan kecakapan berdagang tampak hidup kembali dalam perjalanan Daeng Heri di New York.

Daeng Heri membuktikan bahwa identitas lokal tidak pernah menjadi penghalang untuk bersaing secara global. Justru, akar budaya itulah yang menjadi kekuatan utama dalam menapaki dunia lebih luas. (egy m)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement