Cimahi dan Bandung, Bertetangga tetapi Jomplang

 Cimahi dan Bandung, Bertetangga tetapi Jomplang
Walikota Cimahi, Ajay M. Priatna, berjanji akan mengatasi banjir akut di kawasan padat Melong. Foto: Ist

WARGA Kota Cimahi mulai gerah menunggu kebijakan bagus yang tak kunjung lahir dari kepemimpinan baru, walikota Ajay M. Priatna dan wakilnya, Ngatiyana. Maklumlah, mereka baru dilantik Oktober lalu. Meski begitu, problem akut banjir, kemacetan, dan persoalan sosial lain di kota yang memiliki wilayah tiga kecamatan itu, tetap menjadi concern masyarakat. Walikota baru itu dituntut meniru sukses walikota Bandung yang berhasil meningkatkan indeks kebahagiaan rakyatnya.

Menyandingkan dua kota bertetangga, Cimahi dan Bandung, memang jomplang. Cimahi tampak kecil dibanding kota Bandung yang wah. Tiga tahun terakhir, nyata benar kota Bandung lebih segar, dan memiliki banyak area publik. Belum lagi area pedestrian yang dibuat lebar, indah, dan nyaman bagi pejalan kaki.

Sedangkan di Cimahi, sangat mengenaskan. Pejalan kaki harus berdesakan di trotoar dengan pagar besi, ditingkah para pedagang kaki-lima (PKL) yang cenderung semrawut. Beda benar dengan trotoar Kota bandung yang lebar dengan desain nyaman, bersih dari PKL, sehingga warga bisa duduk sambil ngopi memanfaatkan meja kursi artistic yang terbut dari paduan besi dan kayu.

Warga Cimahi belum lupa, ketika Walikota Ajay Priatna menyatakan keberpihakannya terhadap peningkatan kualitas lingkungan dan pembangunan. Perbaikan layanan masyarakat juga akan ditingkatkan. Itu sebagian janjinya.

Sebagai pemenang Pilkada Kota Cimahi 2017, Ajay-Ngatiyana memegang amanah memimpin Kota Cimahi lima tahun ke depan. Bersama Wakilnya sejak rangkaian Pilkada keduanya mengaku sudah banyak berjumpa masyarakat berbagai lapisan dan mendapat masukan untuk kemajuan Kota Cimahi. Kualitas lingkungan dan ketersediaan air bersih menjadi isu penting yang harus dicarikan solusi. Permasalahan lain seperti banjir dan kemacetan akan segera diantisipasi. Banjir di Melong nanti hanya tinggal kenangan.

Ajay menyebutkan peningkatan infrastruktur dan akses jalan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia pun janji memulai kerjanya dengan konsolidasi internal. Hal itu untuk menyamakan perspesi dan prioritas pembangunan. Tidak boleh ada lagi korupsi. Kinerja pemerintahan menurutnya harus dilakukan secara solid dalam menjabarkan visi misi kepala daerah melalui indikator khusus. Ajay berharap seluruh lapisan masyarakat bekerjasama, bahu-membahu agar Cimahi ke depan lebih baik. Kebijakan yang baik pantas diteruskan yang tidak baik disempurnakan.

Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Arlan Sidha kepada kaum jurnalis pernah menilai, janji Ajay dalam pidatonya di depan anggota dewan, menyiratkan kepemimpinan fokus pada pembangunan. “Cimahi masih sangat jauh. Diharapkan Ajay tidak terlalu gaduh dalam membuat kebijakan tapi berani melakukan terobosan dalam konteks pembangunan,” ujarnya sambil menambahkan soal tata ruang.

Janji menuntaskan persoalan banjir di wilayah padat Melong harus dibuktikan Menurut Arlan, janji itu mudah diucapkan, tetapi akan sangat berat mewujudkan. Tuntutan warga ingin punya ruang terbuka hijau yang lebih banyak juga harus dipenuhi pemerintah kota Cimahi. Yang harus diperhatikan terutama berani mengambil kebijakan Kawasan Bandung Utara (KBU) yang berada di daerah Kabupaten Bandung Barat. Ada konflik kepentingan dalam persoalan ruang terbuka di utara. Masalah muncul mudahnya terbit izin pembangunan kawasan bisnis di wilayah tersebut. Kepentingan Cimahi Tengah dan Cimahi Selatan perlu dicari kebijakan.

Menyangkut pemenuhan kebutuhan lapangan kerja, diakui Arlan cukup sulit. Alternatif yang ada adalah diupayakan mendorong masyarakat membuka usaha melalui UMKM sehingga tenaga kerja terserap bukan dari lapangan kerja padat karya tapi menjadi wirausaha.

Arlan berharap Ajay bisa bekerjasama dengan legislatif dan birokrasi. Walikota Ajay perlu melakukan terobosan sehingga mendapat kepercayaan masyarakat. Menurt pengamatannya, masyarakat Kota Cimahi saat ini memliki pemikiran yang sama bagus dengan warga Kota Bandung. Apa yang dimiliki Kota Bandung sekarang dinikmati juga oleh warga Cimahi. Namun begitu tidaklah imbang ketika Cimahi tidak memiliki sesuatu yang bagus untuk dinikmati oleh warga Kota Bandung. Ketidak seimbangan tersebut sedikitnya memberi efek psikis tersendiri bagi warga Kota Cimahi. Karenanya, walikota baru dituntut berpikir cerdas dan bekerja keras. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *