Connect with us

Kabar

Cap Go Meh Hadirkan Budaya RI dan Tiongkok di Candranaya

Published

on

Akrobatik singa barongsai dipercaya bisa mengusir roh jahat (foto singkawang)

JAYAKARTA NEWS— Perpaduan budaya Indonesia dan Tiongkok dihadirkan dalam perayaan Cap Go Meh di Gedung Candranaya, Jakarta dan lobby Hotel Mercure (seberang Candranaya) baru-baru ini.

Ada tari Sufi, kung fu, barongsai, liong (naga) dan wayang potehi.

Juga perpaduan kuliner yang disuguhkan untuk tamu menyambut bulan Ramadan. Ada lontong Cap Go Meh dan asinan Betawi.

Menyantap lontong Cap Go Meh adalah simbol keberuntungan, kesempurnaan dan harapan baik bagi warga Tionghoa yang percaya.

Pertunjukan Liong (naga) di Candranaya, Jakarta. (foto dudut sp)

Hadir Walikota Jakarta Barat Iin Mutmainah dan Charles Honoris selaku anggota DPR RI dari PDI P.

Cap Go Meh dalam filosofi Tiongkok adalah rangkaian perayaan Imlek yaitu hari ke 15 bulan pertama kalender Lunar. Berasal dari dialek Hokkien ‘cap go’ berarti 15 dan ‘meh’ yang berarti malam.

Berasal dari Dinasti Han (206 Sebelum Masehi s d 220 Sesudah Masehi). Ucapannya adalah Yuan Xiao Jie yang artinya Festival Lampion.

Di Singkawang (Kalimantan Barat) yang dijuluki ‘kota 1000 kelenteng’, sangat ramai. Arak-arakan barongsai, liong dan Tatung (dukun) yang trance – pipi dan tangannya ditusuk jarum dan peniti –  memadati jalanan sehingga diharapkan sejuta turis asing akan melawat ke Singkawang.

Ada dua versi asal muasal terjadinya Cap Go Meh.

Pertama, tradisi kebiasaan biksu Budha pada dinasti Han dimana Istana, kuil dan rumah warga ramai menyalakan lampion sebagai penghormatan kepada Sang Budha.

Kedua, legenda Kaisar Giok  sebagai penguasa langit.

Burung bangau kesayangan Kaisar terbunuh oleh warga desa. Kaisar murka dan berniat akan membakar desa pada malam ke 15.

Puteri Kaisar sedih lalu mengajak warga desa agar memasang lampion yang merah menyala seolah-olah desa terbakar.

Alhasil, desa selamat dan tradisi memasang lampion terus dilakukan hingga hari ini. Itulah Cap Go Meh yaitu malam ke 15 setelah Imlek. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement