JAYAKARTA NEWS— Program Astha Mandala SMK Go Global mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat, khususnya siswa dan lulusan SMK serta kalangan pendidikan vokasi dan perguruan tinggi.
Tingginya antusiasme tersebut menjadi momentum bagi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui Direktorat Jenderal Pemetaan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) untuk memperkuat pemetaan antara minat generasi muda dengan kebutuhan tenaga kerja di pasar internasional.
Direktur Jenderal P3KLN Dwi Setiawan Susanto mengatakan, tingginya respons masyarakat menunjukkan adanya pergeseran pandangan terhadap peluang kerja di luar negeri. Pekerja migran Indonesia ke depan tidak hanya diarahkan pada pekerjaan level domestik, tetapi semakin dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja berketerampilan atau skilled worker.
“Kalau lihat dari responsnya, setelah Astha Mandala SMK Go Global di-launching, animonya sangat, sangat antusias. Misalnya kita bisa lihat salah satu parameternya, yang melike IG KP2MI sudah lebih dari 10 ribu, tertinggi dari semua kontennya. Kemudian ini juga terus bergulir karena semua BP3MI juga men-sounding ini dan berkolaborasi dengan beberapa pihak yang berkait dengan pendidikan,” ujar Dwi di Jakarta, Jumat 14/8/2026, dilansir Humas KP2MI.
Dwi menjelaskan, P3KLN tidak hanya melihat minat calon pekerja, tetapi terlebih dahulu memetakan kebutuhan atau demand di negara tujuan. Pemetaan mencakup job order yang sudah tersedia dan terverifikasi, sekaligus job-job indikasi yang menunjukkan potensi kebutuhan tenaga kerja berdasarkan perkembangan sektor di suatu negara.
“Yang pertama kita melakukan pemetaan atas demand. Pemetaan atas demand itu tidak hanya yang sudah ada job order dan job order yang telah verifikasi, tapi juga job-job indikasi namanya. Di seluruh negara itu kan ada peluang-peluang, misalnya manufaktur lagi tumbuh berkembang, pariwisatanya lagi berkembang. Itu namanya job-job indikasi.”
“Dari job indikasi itu, kita kemudian mengidentifikasi juga kompetensi-kompetensi apa yang dibutuhkan. Itu kita melakukan namanya pemetaan supply,” ujar Dwi.
Job Order Terverifikasi
Dwi menyebut job order terverifikasi yang rata-rata tersedia pada tiap tahunnya mencapai sekitar 300 ribu. Namun, yang dapat ditempatkan saat ini masih kurang dari 20 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan pasar kerja dengan kesiapan tenaga kerja Indonesia.
“Peluang sih banyak, tapi peluang itu kan juga harus diproses menjadi job order dan terverifikasi, ini kan satu proses tersendiri. Tapi dari job order terverifikasi yang rata-rata itu tahun berjalan misalnya mencapai 300.000, itu yang bisa ditempatkan belum lebih dari 20 persen. Sehingga ini kan ada gap. Di kompetensinya, ya kita perkuat kompetensinya. Di lembaga vokasinya, di SMK-nya, atau di LPK-nya, atau di lembaga vokasi perguruan tinggi, itu kita perkuat,” katanya.
Pemetaan supply dilakukan berdasarkan standar kerja internasional atau International Standard Classification of Occupations (ISCO), hingga pada jenis jabatan dan kompetensi yang dibutuhkan. Sejumlah sektor yang menjadi perhatian meliputi kesehatan, hospitality, manufaktur, transportasi, agriculture, konstruksi, serta perikanan dan pekerjaan berbasis laut.
Pada sektor kesehatan, salah satu klasifikasi pekerjaan yang menjadi perhatian adalah caregiver. Sementara di sektor hospitality, kebutuhan yang dipetakan meliputi wellness, housekeeping, cleaner, waiter, barista, dan cook. Untuk manufaktur, klasifikasi pekerjaan mencakup welder, molding, operation, dan production.
“Hospitality, Indonesia kan hospitality-nya, keramahan kita, terus responsif kita, termasuk smiling kita, itu sudah sangat terkenal. Nah ini sementara untuk bidang kerja kita ada wellness, ada housekeeping, ada cleaner, ada waiter, ada barista, ada cook. Ini juga besar, tadi setelah kesehatan ini yang respons paling bagus, vokasi-vokasinya juga tersedia dan memang demand-nya tinggi,” ujar Dwi.
Malaysia Buka Peluang Manufaktur
Khusus manufaktur, salah satu peluang yang tengah dijajaki terdapat di Malaysia, khususnya Penang, dengan kebutuhan sekitar 2.000 tenaga kerja untuk bidang operation dan production, termasuk kebutuhan operator di sektor semikonduktor.
“Manufaktur ini lagi bagus nih, lagi banyak sekali permintaan-permintaan untuk diproduksi di manufaktur. Ada welder, ada molding, ada operation, production. Ini baru saja kita misalnya komunikasi dengan Konjen Pinang di Malaysia, itu butuh sampai akhir 2000-an itu sekitar 2.000 untuk operation-production. Operation-production ini adalah operator, jadi di semikonduktor, ini kan perusahaan strategis,” katanya.
Dari sisi negara tujuan, P3KLN memetakan Malaysia, Taiwan, kawasan Timur Tengah, Jerman, Jepang, dan Korea sebagai negara dan kawasan prioritas tahap awal 2026. Selanjutnya, akses pasar akan diperluas melalui kerja sama dengan Portugal, Bulgaria, dan Turki.
“Di 2026 ini kita tentu akan ada negara-negara tujuan prioritas, seperti Malaysia, kemudian Taiwan, kemudian di Middle East, termasuk juga ke Jerman, Jepang, Korea, ini sebagai tahapan awal di class program 2026. Tapi nanti di 2027 kita kan ada kerja sama dengan beberapa negara yang baru, dengan Portugal sudah kita siapkan, dengan Bulgaria, kemudian dengan Turki,” ujar Dwi.
Dwi menegaskan, pemetaan tersebut dilakukan agar antusiasme terhadap SMK Go Global tidak berhenti sebagai tren, tetapi menghasilkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar. Penyiapan kompetensi juga akan disesuaikan dengan standar negara tujuan.
“Enggak hanya hype-nya tinggi saja, tapi juga tepat sasaran sesuai dengan target. Sekarang dengan mulai shifting, yang tadinya levelnya itu sangat low level, sekarang ini menjadi level medium ke high level, maka ini jadi pilihan. Kita ingin kelas ini menjadi kelas untuk menyiapkan seseorang menjadi profesional, menjadi skilled worker secara global,” katanya.
Selain mempertemukan minat dengan kebutuhan pasar kerja, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses generasi muda untuk bekerja ke luar negeri melalui jalur prosedural. Dengan informasi peluang kerja yang lebih jelas, penyiapan kompetensi, serta proses pendaftaran dan validasi melalui mekanisme resmi pemerintah, calon pekerja diharapkan memiliki jalur yang lebih jelas untuk bekerja di luar negeri sekaligus memperoleh perlindungan.
Di sisi lain, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama KP2MI, Sukarman mengungkapkan, tingginya animo masyarakat juga terlihat dari jumlah pendaftar SMK Go Global yang pada hari kedua telah mendekati 3.000 orang. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring calon peserta menyelesaikan dokumen yang dibutuhkan.
“Animo masyarakat luas terhadap program SMK Go Global ini sangat luar biasa. Ini bisa dilihat dari jumlah pendaftaran pada hari ke-2 sudah mendekati 3.000. Artinya, 3.000 ini mereka sebelumnya sudah menyiapkan berkas-berkas pendaftaran dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan.”
“Diperkirakan dalam waktu satu sampai dua hari ke depan jumlah pendaftaran akan mengalami peningkatan yang signifikan karena mereka sudah menyelesaikan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam proses pendaftaran,” ujar Sukarman.
Sukarman mengimbau masyarakat untuk terus memanfaatkan kesempatan pendaftaran SMK Go Global. Untuk tahap pertama atau batch pertama, pendaftaran dibuka hingga 16 Agustus, sementara batch berikutnya akan kembali dibuka untuk mencapai target 40.000 peserta.
“Kami mengimbau dan mengharapkan kepada masyarakat luas untuk terus melakukan proses pendaftaran dan menyelesaikan SMK Go Global ini agar target 40.000 sampai di akhir pendaftaran nanti bisa tercapai. Memang untuk tahap satu, batch satu baru sampai tanggal 16, tapi setelah itu akan ada batch dua dan batch tiga. Diharapkan target 40.000 itu bisa segera terpenuhi,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat memperoleh informasi pendaftaran melalui kanal resmi KP2MI agar seluruh proses dapat diikuti sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
“Kami mendorong kepada masyarakat untuk melihat pemberitaan dan media sosial KP2MI. Di sana ada tercantum proses mekanisme pendaftaran, kemudian juga ada proses validasi dan masyarakat juga bisa mengecek langsung di channel kami KP2MI,” ujar Sukarman.
Melalui SMK Go Global, KP2MI mendorong agar semakin banyak generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan peluang kerja global melalui jalur yang tepat dan prosedural. Dengan pemetaan berdasarkan job order, kebutuhan pasar, sektor, jabatan, kompetensi, dan negara tujuan, program tersebut diarahkan untuk memperkuat penyiapan pekerja migran Indonesia yang kompeten sekaligus memperoleh akses kerja dan perlindungan yang lebih baik. (*/di)