Drama & Teater
“Bambang Ekalaya” Malam ini Memotong Ibu Jarinya
Menjejak usia yang ke-54 tahun, Teater Alam Yogyakarta kembali naik panggung. Hari ini, Rabu 5 Agustus 2026 pukul 19.30 bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), kelompok teater yang didirikan Azwar AN (1937 – 2021) itu mementaskan karya anggotanya sendiri, Agus Leyloor yang berjudul “Bambang Ekalaya”.
Naskah aslinya berjudul “Si Bambang Ekalaya”. Leyloor, sapaan akrab Agus Prasetiya ini, menulisnya tahun 2006 untuk keperluan ujian akhir Program Pascasarjana di ISI Yogyakarta.
“Jadi, naskah Bambang Ekalaya itu berbasis riset. Pilihan lakon ini, menurut saya kontekstual dengan gonjang-ganjing ijazah palsu Jokowi,” ujar Leyloor, dalam obrolan santai di halaman Grya Abhipraya, Yogyakarta baru-baru ini.
Meski berlatar belakang cerita pewayangan, tetapi Leyloor menarasikannya dalam bahasa keseharian, bahkan cenderung jenaka. Benar-benar tipikal penulisnya yang terkenal ‘ndagel’.

Di tempat terpisah, sutradara Meritz Hindra menuturkan ihwal ketertarikannya memainkan Bambang Ekalaya guna merayakan 54 tahun Teater Alam. “Bisa dibilang ini karya sendiri, karena Agus Leyloor adalah anggota Teater Alam, sekalipun kemudian mendirikan kelompok sendiri dan aktif mengajar di jurusan teater ISI Yogyakarta,” tuturnya.
Ia antusias menyutradarai lakon ini, dan mendedikasikannya untuk almarhum Azwar AN. Meritz lalu mengilas balik pertautannya dengan Azwar AN.
“Bermula tahun 1972. Ketika itu saya masih di Asdrafi, mendapat kabar bahwa Azwar AN salah seorang dedengkot Bengkel Teater baru saja keluar dari grup teater yang didirikannya bersama W.S. Rendra, dan akan mendirikan grup teater sendiri,” kenangnya.
Meritz dan kawan-kawan Asdrafi, antara lain Yoyok Aryo dan Ganti Winarno, akhirnya datang ke Jl. Sawojajar nomor 25, ke rumah yang ditempati Azwar AN. Benar, sampai di rumah Azwar AN mereka disambut dengan baik, dan langsung ditawari ajakan membuat grup teater. Tanpa berpikir panjang mereka sepakat dan berkomitmen.
Tepat tanggal 5 Januari 1972 Teater Alam berdiri. Pendirinya tujuh orang yang sebagian besar dari Asdrafi. Mereka adalah Azwar AN, Yoyok Aryo, Hendra Cipta, Abdul Kadir, Ramidi Rogojampi, Ganti Winarno, dan Meritz Hindra. Satu-dua minggu setelah didirikan bergabunglah sejumlah nama lain, seperti Bambang Darto, Kunthil, Saif Bakham, Nanok Haryono, Kuswadi, Wahyu dan lain-lain.

Refleksi Moral
Kembali ke konteks pementasan Bambang Ekalaya. Sepakat dengan Agus Leyloor sang penulis naskah, Meritz juga menganggap lakon ini ada relevansinya dengan situasi negeri ini. “Tapi saya menggarapnya tidak terlalu ‘wayang banget’, meski tetap berbau wayang,” tuturnya.
Relevansi cerita, tidak melulu menggaris-bawahi ihwal ijazah atau formalitas dunia pendidikan. Meritz justru mengagungkan sikap pemuliaan guru oleh Ekalaya. Dalam tradisi Islam –dan agama lain—guru diposisikan sebagai orang tua kedua yang membimbing akal dan jiwa, sehingga adab terhadap guru ditempatkan sangat tinggi.
Meritz menyitir sejarah Jepang. Pasca kekalahan Jepang dari Sekutu 14 Agustus 1945, negara itu dalam kondisi luluh lantak, setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom. Hal pertama yang dilakukan Kaisar Hirohito adalah mengumpulkan para jenderalnya.
Alih-alih menanyakan jumlah sisa tentara atau senjata, ia justru bertanya, “Berapa jumlah guru yang tersisa?” Peristiwa ini menandai titik balik penting di mana Jepang menempatkan pendidikan dan guru sebagai fondasi utama kebangkitan bangsa dari reruntuhan perang.

Sekilas Cerita Ekalaya
Kisah Bambang Ekalaya (yang dalam pewayangan Jawa sering juga disamakan dengan tokoh Palgunadi dari kerajaan Paranggelung) adalah salah satu cerita yang paling mengharukan sekaligus tragis dalam wiracarita Mahabharata.
Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nishada (kaum pemburu atau masyarakat pinggiran) yang memiliki tekad luar biasa untuk menguasai ilmu memanah (dhanurveda). Ia bercita-cita menjadi murid Resi Drona (Dronacharya), guru perang para kesatria Pandawa dan Kurawa atau trah Bharata.
Namun, karena latar belakang sosialnya, Resi Drona (biasa juga disebut Resi Durna) menolak menerima Ekalaya sebagai murid secara langsung demi menjaga status sosial dan eksklusivitas para pangeran istana. Meskipun ditolak, Ekalaya tidak putus asa.
Ia pulang ke hutan, membuat sebuah patung tanah liat yang menyerupai Resi Drona, dan menganggap patung itu sebagai gurunya. Berkat ketekunan, disiplin, dan rasa hormat yang tinggi, Ekalaya berlatih seorang diri di depan patung tersebut hingga akhirnya menjadi pemanah ulung yang kesaktiannya setara—bahkan dalam beberapa versi disaingi—dengan Arjuna, murid kesayangan Drona.
Suatu hari, ketika Resi Drona dan para Pandawa sedang berburu di hutan, anjing pemburu milik Arjuna tersesat dan menggonggong kepada Ekalaya. Ekalaya, yang sedang berkonsentrasi penuh, melepaskan anak panah tanpa melihat sasaran dan berhasil membungkam gonggongan anjing tersebut dengan rentetan anak panah yang menutupi mulut si anjing tanpa melukainya sedikit pun.
Arjuna terkejut melihat kehebatan pemanah misterius itu dan merasa khawatir posisinya sebagai pemanah terbaik di dunia akan tergeser. Resi Drona pun mendatangi Ekalaya dan terkejut mengetahui bahwa Ekalaya mencapai tingkat keahlian itu hanya dengan “berguru” pada patungnya.
Mengingat janjinya kepada Arjuna bahwa tidak boleh ada pemanah lain yang melebihi kehebatan Arjuna, Drona meminta tanda guru (daksuhina) berupa ibu jari (jempol) tangan kanan Ekalaya. Tanpa ragu-ragu dan diliputi rasa hormat yang mutlak kepada sang guru, Ekalaya memotong sendiri ibu jari kanannya dan mempersembahkannya kepada Drona. Akibatnya, kemampuan memanahnya menurun drastis.

KRU dan MANAJEMEN
Stage Manager: Dinar Saka
Pemeran: Dr Drs Hajar Pamadi, MA, Anastasia, Nano Asmorodono, Nobi Pristianti Dewi, Oka Swastika Mahendra, Sutra Fidana, Jamil AN, Eko Pamulihono, Wiji Jhoe, Anto Azis, Junior FLK.
Penari: Isti M, Kristina R, Retno Azis, Puri, Yoanariris, Saptowati, Carla, Ridwan Rizaldi, Rama Miki, Dhimas Duta, Rozak.
Pemusik: Nanang Garuda, Buteng Swami Ahimsa, Miftah Rizak, Mamad.
Artistik: B’djo Ludiro (setting & property), Eddy Subroto, Siti Amini (penata kostum), Alexander Deska (penata cahaya), Nanang Garuda (penata musik), Isti M, Eko Pamulihono (penata tari).
Dokumentasi: Rakhmat Supriyono, Bambang Wartoyo (foto), Joni Asman (video).
Pengarah: Dr Drs Hajar Pamadi, MA (Hons), Roso Daras, Drs HM Satriya Wibawa, M.Un
Manajemen: Ir Ena Azmita Azwar (Ketua), Dra A. Sri Hestutiningsih (Sekretaris), Naning Kartaatmaja, SKM (Bendahara), Erny Aznita Azwar (Usaha Dana). (erde)
