• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Merdeka Belajar di Pangandaran

Merdeka Belajar di Pangandaran

admin by admin
August 7, 2021
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS – Mau melihat Indonesia sesungguhnya? Pergi lah ke SMK Bakti Karya, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat. Sekolah dengan kelas multikultural ini diisi siswa berasal dari 21 provinsi Indonesia, dengan budaya, suku dan agama yang berbeda. Sangat beragam. Di sekolah ini keberagaman itu “dibenturkan” dan menghasilkan sesuatu yang disebut Bhineka Tunggal Ika.

Para siswa hidup bersama dengan cara pandang beragam. Mereka belajar bersama dan pada akhirnya sekat perbedaan pun hilang. Cara pandang siswa menyikapi perbedaan berubah. Toleransi muncul. Pada titik tertentu melahirkan rasa kebersamaan dan kesatuan. Rasa superior hilang. Kebencian akan perbedaan, sirna. Toleransi pun semakin kokoh.

Konsep belajar mengajar di SMK Bakti Karya sejalan dengan Asesmen Nasional (AN) Kemendikbudristek. Di sekolah ini siswa merdeka belajar, saling menghargai perbedaan, toleransi, nyaman bergaul dan berinteraksi dengan sesamanya. Ada kemerdekaan berpendapat serta dihargai karena iklim kebhinekaan  tercipta dengan baik.

Ai Nurhidayat, penggagas sekolah multikultural ini menegaskan, metode belajar yang diterapkan  berbeda dengan sekolah formal.  Kelas multikultural juga membangun suasana belajar yang lebih hidup dan dinamis. Perbedaan dimanfaatkan untuk saling mengenal satu sama lain. Sekolah dan para siswa juga terintegrasi dengan  masyarakat.  

Konsep  pembelajarannya mengikuti pola hidup  masyarakat. Saat musim tanam padi, panen, hajatan serta acara lain, para siswa diwajibkan terlibat. “Jumlah siswa saat ini 71 orang,” ujar Ai Nurhidayat kepada Jayakarta News, Sabtu (7/8/2021).

Dibangun juga Kampung Nusantara untuk tempat tinggal siswa. Setiap siswa mempunya orangtua angkat dari penduduk setempat. Dalam momen kelulusan akan kelihatan seorang siswa Kristen  dengan kalung salib diwisuda  didampingi orangtua berkerudung. Ini jelas  pemandangan yang sangat indah.

Friska Mabel, siswa asal Papua mengaku sangat bergairah menjalani hari-harinya di Pangandaran. Melalui teman-teman sesama siswa Friska semakin mengenal Indonesia, dengan aneka suku dan budaya, bahasa serta agama yang berbeda.  “Saya senang bisa belajar tentang budaya Sunda,” jelasnya.

Begitu juga dengan Fajar Riantoby, dari Nunukan, Kalimantan Utara. Kelas multikultural baginya kesempatan menyelami keberagaman dari berbagai wilayah Indonesia. “Di tempat ini saya merasakan benar-benar hidup di Indonesia dan  menjadi orang Indonesia seutuhnya,” ujarnya.

Perjalanan melahirkan sekolah multikultural ini cukup panjang. Semuanya berawal dari kegelisahan seorang Ai Nurhidayat. Hatinya tercekat menyaksikan bom waktu bernama perbedaan, yang siap meledak kapan saja jika tidak dikelola dengan baik. Baginya  perbedaan itu harus “dibenturkan”, untuk mendapatkan output yang positif. Mengelola sekolah multikultural, menggabungkan siswa dari berbagai latar belakang budaya, suku dan agama yang berbeda,  merupakan salah satu jawabannya. Maka pada 2016 sekolah multikultural pun digelar hingga sekarang.

Perbedaan memang mengerikan. Jika tidak ditangani dengan baik  akan melahirkan konflik horizontal yang jelas mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Sejumlah koflik di Tanah Air, mulai dari Ambon, pilkada DKI hingga pilpres 2019 lalu, jelas berawal dari perbedaan. Perbedaan yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik, dan dampaknya hingga kini masih terus membekas.

Sejatinya  perbedaan itu  karunia Tuhan. Sayangnya, perbedaan masih dianggap sesuatu yang salah dan ujungnya jadi perpecahan. Ada kegagalan ketika merespon perbedaan secara bijaksana. Seharusnya setiap siswa bisa belajar di lingkungan yang aman dan tanpa diskriminasi. Sekolah multikultural di Pangandaran telah menjadi contoh dan berhasil “merayakan” Kemerdekaan Indonesia sesungguhnya.*** (melva tobing)

(Foto: Dok. SMK Bakti Karya, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat)
Previous Post

Pelajar Indonesia Raih Medali Emas pada Ajang IHSAF 2021

Next Post

Sapa Warga Papua, Mensos Risma Tekankan Pentingnya Membangun Kualitas SDM

admin

admin

Next Post
Sapa Warga Papua, Mensos Risma Tekankan Pentingnya Membangun Kualitas SDM

Sapa Warga Papua, Mensos Risma Tekankan Pentingnya Membangun Kualitas SDM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version