SMK Go Global Targetkan 40.000 Peserta pada 2026, Pelatihan Disesuaikan Kebutuhan Pasar Kerja Global

JAYAKARTA NEWS— Program SMK Go Global terus berjalan mencapai target peningkatan kapasitas 40.000 peserta di 2026 dalam 2 batch. Batch 1 sebanyak 12.220 peserta dan Batch 2 sebanyak 27.880 peserta. Selain pelatihan, desain program ini juga menghubungkan kompetensi, kebutuhan pasar kerja global, hingga penempatan pekerja migran.

Hal ini diungkap Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) bersama Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, di Jakarta, Rabu (9/9/2026). 

Pertemuan tersebut membahas beberapa hal, mulai dari perkembangan program SMK Go Global yang merupakan program direktif Presiden Prabowo Subianto, penguatan pembiayaan penempatan melalui kredit usaha rakyat (KUR), hingga peningkatan manfaat jaminan sosial untuk mendukung pelindungan Pekerja Migran Indonesia. 

Hingga 6 September 2026, papar Christina, sebanyak 3.879 peserta telah mengikuti program peningkatan kapasitas mencakup sektor hospitality, kesehatan, agrikultur, konstruksi, manufaktur, dan bahasa yang dirancang berbasis kebutuhan negara tujuan. 

Berdasarkan data SIP2MI, 7 September 2026, terdapat 232.920 kuota aktif dengan 77.762 kuota telah terpakai dan 155.158 kuota masih tersedia hingga 7 September 2026. 

“Dari data tersebut, suplai dan demand kita hubungkan sejak awal. Pelatihan harus benar-benar berbasis kebutuhan pasar kerja sehingga lulusan memiliki peluang penempatan yang jelas,” ungkapnya, dilansir Humas KP2MI.

Untuk mempercepat penyerapan peserta, Kementerian P2MI juga mendorong penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, lembaga penyelenggara pelatihan, serta Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). 

Selain SMK Go Global, Christina juga menyampaikan perkembangan KUR Penempatan Pekerja Migran sebagai instrumen pembiayaan bagi calon pekerja migran. 

Wamen Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani bersama Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, dan jajaran terkait, di Jakarta, Rabu (9/9/2026)/Foto: Humas KP2MI

Penyaluran KUR

Hingga saat ini, kata dia, KUR penempatan tersalurkan kepada 2.650 penerima manfaat dengan total kredit Rp78,62 miliar, dari target 2026 sebesar Rp418, miliar yang didukung 19 bank penyalur.

“Kami mengusulkan penggunaan skema linkage melalui kerja sama dengan agregator yang mengintegrasikan lembaga penyalur, P3MI, dan pekerja migran dalam mekanisme pembiayaan serta collection secara lebih efisien. Kami ingin memastikan pembiayaan tidak menjadi hambatan untuk berangkat melalui jalur yang resmi dan aman,” jelas Christina.

Dalam kesempatan yang sama, Christina turut menyampaikan penguatan kebijakan jaminan sosial untuk pekerja migran lewat Peraturan Menteri (Permen) P2MI Nomor 9 Tahun 2026 yang mencakup Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), serta Jaminan Hari Tua (JHT) yang bersifat sukarela.

Hingga Juni 2026, tercatat 736.047 pekerja migran aktif terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan. Pada periode yang sama, terdapat 688 klaim dengan nilai total Rp9,98 miliar, yang terdiri dari 579 klaim JKK senilai Rp4,88 miliar dan 109 klaim JKM senilai Rp5,1 miliar.

“Transformasi pelindungan pekerja migran harus dilakukan secara menyeluruh, dengan tetap memastikan mereka berangkat dengan kompetensi yang sesuai, melalui proses resmi, memperoleh pembiayaan terjangkau, serta mendapatkan pelindungan komprehensif,” ucapnya. (*/di)

KP2MI Jajaki Perluasan Pasar Kerja Baru di Hong Kong dan Guangzhou

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia jajaki perluasan pasar kerja baru di Hong Kong. Terkait hal itu, Wamen KP2MI Christina Aryani, melakukan pertemuan dengan Konjen Hong Kong Andi Ardiansyah dan Konjen Guangzhou Arianto Surojo di Jakarta (31/7/2026).

Wamen Christina menegaskan pentingnya penguatan sinergi antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dengan seluruh Perwakilan RI di luar negeri, lewat perluasan akses pasar kerja yang aman dan prosedural.

“Hong Kong selama ini merupakan salah satu negara tujuan utama pekerja migran Indonesia. Kehadiran negara harus benar-benar mereka rasakan, mulai pelayanan, pendampingan, hingga penyelesaian persoalan yang dihadapi di negara penempatan,” ungkapnya, dilansir Humas KP2MI.

Selain membahas penguatan pelindungan di Hong Kong, Wamen Christina juga berdiskusi dengan Konjen RI di Guangzhou terkait potensi kerja sama dan perluasan pasar tenaga kerja terampil di Tiongkok. 

Apalagi saat ini pemerintah Indonesia tengah membangun kerja sama komprehensif, termasuk penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) Ketenagakerjaan dan Perlindungan Awak Kapal Perikanan Migran Indonesia dalam Layanan Tenaga Kerja Perikanan Perairan Jauh dengan Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Republik Rakyat Tiongkok.

“MoU ini akan menjadi landasan kerja sama penempatan awak kapal perikanan migran dengan pelindungan yang lebih baik,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, Christina juga memaparkan Program SMK Go Global yang menjadi Quick Win Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten, tersertifikasi, dan siap bersaing di pasar kerja internasional. 

“Koordinasi dengan seluruh Perwakilan Indonesia di luar negeri akan semakin memperkuat pelindungan pekerja migran Indonesia sekaligus membuka pasar-pasar kerja baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia,” tambah Wamen Christina. (*/di)