Doni Monardo: Kita Kalahkah VOC

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS  – Mendadak jarum jam seperti berhenti berputar, dan kembali ke kenangan 37 tahun yang lalu.

Itulah yang terjadi saat Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo berjumpa Brigjen TNI Purn Heru Sudibyo, Ketua DPD PPAD Jawa Timur di Balai Prajurit Kodam V Brawijaya Selasa 8 Maret 2022.

“Pak Heru ini dulu komandan saya waktu pendidikan Sarcab (Dasar Kecabangan) Infanteri tahun 1985. Jadi, beliau ini pengasuh yang penuh perhatian. Beliau selalu datang ke barak dan memberi motivasi, sehingga akhirnya saya mendapat predikat lulusan terbaik Sarcab. Itu karena bimbingan pak Heru selaku komandan saya,” ujar Doni, disambut tepuk tangan hadirin.

“Setelah itu beliau mengajak saya menjadi Danramil setelah lulus jadi Letnan. Tapi nasib menentukan lain, (setelah lulus Akmil) saya bergabung ke Kopassus. Tapi berkat motivasi Bapak, saya selalu berlatih dengan gigih,” tambah Doni saat tatap muka dan konsolidasi organisasi PPAD yang diselenggarakan di Balai Prajurit, Markas Kodam V/Brawijaya, Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya.

Dari kiri: Ketua DPD PPAD Jawa Timur, Brigjen TNI Purn Heru Sudibyo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, Ketua PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo. (foto: egy m)

Selain keluarga besar PPAD dan Hipakad, hadir Wagub Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc. atau akrab disapa Emil Dardak. Juga hadir Letjen Purn Anto Mukti Putranto, S.Sos. mantan Komandan Kodiklat TNI-AD. Sebagai informasi Anto dan Doni kental berinteraksi ketika Kolonel Doni Monardo yang ketika itu menjabat Dan Brigif (2006 – 2008), menghijaukan lahan Kariango yang masih tandus. Mereka menanam pohon Trembesi, serta mencetuskan slogan “Dari Kariango menghijaukan Indonesia.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Mayjen TNI Nurchahyanto, dalam sambutannya mendukung penuh program PPAD. “Purnawirawan di Jawa Timur yang sudah kami wisuda otomatis langsung mendapat kartu anggota PPAD. Juga kami beri seragam PPAD. Kami sadar, bahwa kelak saat pensiun maka kami pun akan menjadi bagian dari PPAD,” ujar pangdam lulusan akmil 1987 ini.

Selanjutnya, Doni menyinggung sedikit seputar pandemi Covid-19. Selama menjabat Kepala BNPB/Ketua Satgas Covid-19, Doni beberapa kali ke Surabaya. Karenanya ia ingat, pasien Covid-19 di Jawa Timur relatif banyak yang mengidap diabetes. “Saya minta pasien Covid-19 dibuatkan menu khusus yang rendah gula, termasuk mengganti nasi dengan sagu,” ujar Doni.

Fenomena diabetes pada sebagian masyarakat di Jawa Timur, harus menjadi perhatian. “Semua pihak, termasuk para tokoh agama perlu ikut menyadarkan masyarakat agar mengurangi makanan dan minuman yang manis-manis,” ujar Doni.

Kecuali dapat warisan

Kepala BNPB 2019-2021 itu lalu mengilas-ringkas ihwal politik kesejahteraan yang digulirkannya dalam menakhodai PPAD periode 2021-2026. “Sesuai tujuan kemerdekaan bangsa kita, yaitu menciptakan masyarakat adil dan makmur.”

Sementara itu, kesejahteraan hanya bisa dicapai melalui usaha. Tidak ada yang bisa sejahtera tanpa usaha, kecuali mendapatkan warisan. Bagi prajurit purnawirawan, sulit untuk sejahtera hanya mengandalkan uang pensiun. “Bahkan sampai sekarang masih banyak purnawirawan yang menempati rumah dinas. Ada kalanya ini menjadi masalah,” kata Doni.

Selain itu, Doni juga concern terhadap aspek kesehatan para purnawirawan. “Tidak semua jenis penyakit di-cover asuransi. Sementara, lazim jika semakin tua usia manusia, semakin banyak penyakit. Meski pemerintah sudah mengalokasikan dana untuk kesehatan masyarakat, faktanya masih banyak purnawirawan mengalami problem kesehatan yang tak tertangani jaminan kesehatan,” katanya.

“Ini semua harus kita pikirkan. PPAD harus berbuat. Setiap pengurus PPAD di seluruh Indonesia harus memiliki strategi meningkatkan kesejahteraan melalui wirausaha,” ujar Doni yang juga Komisaris Utama PT Mind Id, konsorsium yang menaungi perusahaan-perusahaan BUMN tambang.

Dari kiri: Ketua DPD PPAD Jawa Timur, Brigjen TNI Purn Heru Sudibyo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo, dan Wagub Jawa Timur Emil Dardak. (foto: egy)

Indonesia Kaya Raya

Doni Monardo menyodorkan fakta menakjubkan. “VOC yang bercokol di tanah air kita tiga abad lebih, saat ini menjadi salah satu perusahaan terkaya di dunia. Asetnya mencapai 7,9 triliun US dollar (sekitar Rp 115 kuadriliun rupiah). Satu kuadriliun sama dengan seribu triliun. Sedangkan APBN kita, Rp 2.800 triliun. Bandingkan!” kata Doni seraya menambahkan, “kekayaan itu sebagian besar disumbang dari hasil rempah-rempah kita.”

VOC adalah monumen sejarah yang nyata: kaya raya karena rempah-rempah Nusantara. Bahkan pernah satu masa, harga satu kilogram pala sama dengan harga 1 kilogram emas. Bukti nyata adalah Pulau Run di Kepulauan Banda (Maluku) yang menjadi ajang rebutan Inggris dan Belanda.

Mati-matian Belanda dan Inggris berperang untuk menguasai perdagangan dunia. Terhitung dari tahun 1652-1654 perang pertama dilakukan dan perang kedua dimulai dari tahun 1665. Hingga akhirnya pada 31 Juli 1667, Traktat Breda dikeluarkan untuk memberi solusi damai dari perang-perang tersebut.

Salah satu isi dari Traktat Breda adalah Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run, Kepulaun Banda, dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, yakni Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Manhattan, New York) diserahkan ke Inggris. “Manhattan kini salah satu kota megah dan kaya raya di Amerika Serikat, sementara Pulau Run di Maluku, begitu-begitu saja,” ujar Doni prihatin.

Berikut, Doni menyebut tanaman nilam. Dikatakan, Nilam berasal dari singkatan Nederlands Indische Land ook Acheh Maatzchappij, sebuah perusahaan Belanda yang mengatur perdagangan dan sistem penjualan dari tanaman Patchouli. Perusahaan Belanda waktu itu bekerjasama dengan para Ulee Balang dalam pengelolaan ladang nilam di Aceh.

Hasil penelitian menyebutkan Nilam Aceh merupakan nilam terbaik dengan kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30 persen sehingga banyak dicari. “Begitu banyak kekayaan Nusantara. Bahkan saat kunjungan ke Belanda Mei 2019, saya menemukan tulisan ‘Specerijenmagazijn, Indie’s Welvaren’, yang artinya ‘Gudang rempah-rempah, harta kekayaan melimpah dari bumi Indonesia’. Itu adalah bukti nyata dan pengakuan dari Belanda yang tiga-setengah abad menjajah kita,” ujar Doni.

Di berbagai pulau, kita menjumpai banyak peninggalan berupa benteng. Selain benteng Belanda (VOC), ada benteng Inggris, Portugis, dan Spanyol. “Negara-negara itu pernah meraup hasil bumi kita untuk kesejahteraan mereka,” tambahnya.

Atas fakta sejarah masa lalu, Doni pun bertanya, “Bisakah kita mengulang sejarah itu?”, lalu dijawabnya sendiri, “Bisa, asal kita mau!” Ia bahkan meyakini, jika sektor rempah digarap dengan baik, Indonesia bisa lebih kaya dari VOC.

Doni mengingatkan, potensi tambang Indonesia pada saatnya akan habis. Tambang emas, nikel, bauksit, aluminium, batubara, akan habis. Tidak ada tambang yang abadi.

Satu-satunya yang tidak akan pernah habis, serta baik untuk generasi mendatang adalah vegetasi yang punya nilai ekonomi. Indonesia sejak dahulu terkenal dengan kekayaan rempah. Ditambah aneka kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti gaharu, cendana, masoya, nilam, dan sebagainya. 

PPAD Jawa Timur bisa memulainya dengan merajut kolaborasi dengan Pemprov, didukung TNI-Polri serta unsur-unsur masyarakat yang lain.

 “Hingga hari ini, kita masih sangat tergantung pada obat-obatan impor. Padahal, kita memiliki aneka jenis tanaman herbal yang bisa menjadi obat. Sudah terbukti pula, herbal mampu meningkatkan imunitas tubuh manusia,” tambah Doni.

“Satu contoh saja, perusahaan jamu PT Sido Muncul Semarang, tahun lalu membukukan angka keuntungan Rp 1,2 triliun. Ini sangat luar biasa. Contoh itu bisa menjadi benchmark. Jawa Timur memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan herbal. Mari kita sama-sama berusaha mengurangi obat impor, dan sebaliknya kita ekspor obat herbal,” katanya.

Ia meminta para purnawirawan mengubah paradigma. Mengubah mindset. Usia 50-an, 60-an, masih bisa produktif. “Ingat, negara akan kuat kalau ekonomi rakyatnya juga kuat,” ujarnya.

PPAD, telah mendapat komitmen dari banyak pihak, termasuk kementerian dan lembaga negara. Di antaranya Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian BUMN (termasuk pasar digital BUMN), lembaga perbankan pemerintah, KADIN, perusahaan swasta, serta beberapa platform e-commerce.

PPAD harus terlibat aktif dalam ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain sektor “emas hijau”, juga budidaya laut. Peluang lain juga ada di sektor peternakan. Di bidang peternakan, PPAD bahkan sudah mengikat kerjasama dengan PT Berdikari (Persero).

“Mulailah dengan ikut meningkatkan ekonomi di sekitar kita. Bahkan bisa membuka lapangan kerja bagi para korban PHK. Di bawah kepemimpinan Ketua DPD PPAD Jawa Timur, pak Heru, dibantu Kodam V/Brawijaya, Pemprov Jatim bisa menjadi penggerak ekonomi, utamanya di Jawa Timur,” kata Doni pula.

Pada sesi kedua, dilakukan tatap muka dan presentasi mitra PPAD. Mereka adalah KADIN Jawa Timur, UMKM, BRI, dan PT Bangka Asindo Agri. Yang terakhir, mempresentasikan produk olahan sagu berupa mie sagu (Sagoo Mee).

Tancap Gas

Begitulah, di setiap kunjungannya, Doni Monardo menggugah semangat para purnawirawan. Untuk diketahui, setelah kepengurusan PP PPAD periode 2021 – 2026 dikukuhkan oleh Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurachman 8 Februari 2022, Doni dan pengurus pusat PPAD langsung tancap gas. Menggalang kerjasama dengan berbagai pihak, dibarengi kunjungan kerja ke berbagai daerah.

Sementara, Sekjen PP PPAD, Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak, menerjemahkannya ke dalam rapat-rapat intensif membahas program kerja bersama para Ketua Bidang dan pengurus lain. Tak terkecuali, ketua-ketua bidang pun bergerak cepat menerjemahkan program besar Ketua Umum. Ketua Dewan Pengawas merangkap Waketum, Letjen TNI Purn Dodik Wijanarko, ikut mengawal penyusunan program kerja itu.

Kunjungan kerja informal pertama ia lakukan ke Kalimantan Selatan, 23 Desember 2021. Saat mengunjungi kantor DPD PPAD Kalsel di Komplek Militer Lambung Mangkurat, Jl. A. Yani, Banjarmasin Timur, Doni disambut Ketua DPD PPAD Kalsel, Mayor (Purn) H. Sujoko dan jajarannya. Mereka membentuk dua barisan di teras kantor.

Dengan sajian babungku dan kue cincin, Doni Monardo berdialog santai dengan jajaran pengurus DPD PPAD Provinsi Kalimanten Selatan. Inilah kunjungan pertama tak resmi, Doni sejak terpilih menjadi Ketua Umum DPP PPAD, dalam Munas IV PPAD, 14-15 Desember 2021.

Sedangkan, kunjungan kerja resmi pertama dilakukan tanggal 16 – 19 Februari 2022 ke DPD PPAD Jawa Tengah.

Di Jawa Tengah, Doni Monardo mengajak pengurus PPAD ‘sowan’ ke senior Letjen TNI Purn Bibit Waluyo di Magelang. Di sela-sela waktu, Doni juga menyempatkan bertemu Bupati Cilacap dan timnya, membahas konservasi hutan mangrove di Nusakambangan.

Masih di Semarang, Doni Monardo dan sejumlah pengurus juga bertemu manajemen PT Sido Muncul, bicara soal rempah-rempah dan peluang kerjasama. Esoknya menuju Kota Kretek Kudus. Selain menjadi tamu PT Djarum Kudus, rombongan Doni Monardo juga bersilaturahmi ke garasi “raja bus” Kopral Kepala Purn H. Haryanto, pemiliki Perusahaan Otobus (PO) Haryanto. (egy massadiah)

Kekayaan VOC, Bukti Kekayaan Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Ketum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo melempar senyum ke arah Gubernur Ganjar Pranowo. “Benar, saya memang punya janji sama Pak Ganjar untuk sama-sama ke Ambon, melihat kebun bibit di sana. Juga untuk melihat pohon palaka tertua, yang berusia ratusan tahun,” ujarnya.

Doni pun berharap, ada kesempatan untuk mengajak Ganjar Pranowo ke Ambon. “Tapi, pak Gub, setidaknya saya sudah menanam pohon palaka di selatan Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Cilacap,” kata Doni, seraya menambahkan, “kalau pak Gubernur masih membutuhkan, saya masih punya stok.” Gubernur pun tertawa, mengangguk, diiringi tepuk tangan hadirin.

Saat memberi pengarahan kepada jajaran DPD PPAD Jawa Tengah di Ghra Ahmad Yani, Semarang Rabu (16/2/2022), Doni mengawalinya dengan merespon sambutan Gubernur Ganjar Pranowo ihwal “janji ke Ambon”. Ia juga menegaskan, bahwa sejak dikukuhkan oleh Kasad Jenderal TNI Dudung Abdurachman, Selasa (8/2/2022), inilah kunjungan kerja pertama ke daerah.

Secara pribadi, Doni mengaku memiliki hubungan emosional yang sangat erat dengan Jawa Tengah. Betapa tidak, empat tahun lamanya digembleng di Lembah Tidar (Akademi Militer). Makan-minum dari Bumi Kedu. “Yang kami konsumsi berasal dari hasil alam dan hasil bumi Jawa Tengah,” ujarnya. Demikian pula ketika latihan komando di hutan Nusakambangan, juga wilayah Jawa Tengah.

“Sudah sepantasnya jika saya memberikan darma bakti kepada alam Jawa Tengah. Mungkin sedikit yang mengetahui, sejak tahun 2010 saya sudah bekerjasama dengan Djarum Foundation untuk menanam pohon trembesi di Kudus. Pohon-pohon trembesi yang ditanam di Kudus, awalnya dari Korem Suryakencana. Kebetulan saat itu saya Danrem 061/Suryakencana Bogor,” katanya.

Doni juga masih ingat, ketika era Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo (2013-2014). “Beliau minta bibit pohon ke saya, dan mengirim 64 truk untuk ambil bibit pohon di kebun bibit saya di Sentul. Semua gratis,” ujar Doni sambil tersenyum.

Kalau ditanya, di mana pohon-pohon itu sekarang? Antara lain ditanam di sepanjang jalur pantura Jawa Tengah sampai ke perbatasan pantusa Jawa Timur. “Itulah salah satu bukti keterikatan saya dengan Jawa Tengah,” tambahnya.

DPP PPAD bertekad menggulirkan program kesejahteraan bagi para purnawirawan dan bangsa Indonesia.

Pesan Senior

Syahdan, pertengahan Desember 2021, Doni Monardo secara aklamasi terpilih menjadi Ketua Umum DPP PPAD periode 2021 – 2026. Sejumlah senior pun berpesan kepadanya, “Don… sudah banyak yang kamu kerjakan. Sudah banyak juga yang dikerjakan PPAD periode sebelumnya, tapi ada satu yang belum tersentuh, yaitu masalah kesejahteraan. Tolong bantu masalah ini,” ujar Doni Monardo, menirukan pesan sakral para senior.

Karenanya, tidak ada pilihan lain kecuali menyiapkan semua yang memiliki keinginan untuk berlatih dan belajar menjadi wirausahawan. “Tidak ada orang sejahtera tanpa melalui usaha. Beda lagi kalau dapat warisan,” ujar Doni.

Sebagai prajurit maupun ASN, tidak akan bisa menjadi kaya dengan mengandalkan gaji. Karena itu, waktu yang tersedia pasca pensiun harus dimaksimalkan. Harus berbuat sesuatu utnuk diri kita, keluarga, lalu membantu masyarakat di sekitar kita. “Saya yakin tidak sulit. PPAD di daerah harus ditata, diisi orang-orang yang kompeten di bidang ekonomi, sebab kita sadar tidak semua orang punya bakat dagang,” imbuhnya.

Setidaknya, bekal sebagai prajurit yang terlatih, memberi ruang yang baik dalam usaha. Ruang itu berupa modal disiplin, kejujuran, dan kepercayaan. Ini sangat penting untuk menggerakkan spirit entrepreneurship ke depan. “Bayangkan saja, tidak sedikit prajurit TNI yang belum punya rumah. Sampai-sampai setelah pensiun, masih menempati rumah dinas. Akhirnya disuruh pergi. Kita sangat sering mendengar berita seperti itu,” kata Doni prihatin.

PPAD sudah menjalin kerjasama dengan pihak bank. Sangat dimungkinkan untuk pembiayaan sektor perumahan bagi pensiunan yang belum memiliki rumah. Apalagi, PPAD memiliki organ binaan, Hipakad (Himpunan Putra-Putri Keluarga Angkatan Darat).

Demikian juga sektor kesehatan. Anggaran pemerintah tidak akan cukup, karena tidak semua dicover asuransi. Dengan adanya unit-unit usaha di lingkungan PPAD provinsi, kabupaten/kota diharap mampu memberi layanan kesehatan kepada anggota. “Itu cita-cita kita ke depan. Rumah dan kesehatan, menjadi prioritas,” tegasnya.

Potensi Kayu

Jawa Tengah adalah provinsi yang sangat potensial. Dengan jumlah penduduk sekitar 40 juta, ditambah banyak industri besar, sudah seharusnya Hipakad bersama PPAD mulai membuka pasar. Ia memberi contoh tentang potensi kayu.

Ekspor produk kayu Indonesia masih sangat kecil. International Trade Center (ITC) menyebut angka 142 miliar dollar AS potensi dari industri kayu. Selama ini, negara-negara Skandinavia yang paling banyak memanfaatkan peluang tersebut. “Negara-negara semenanjung Skandinavia, seperti Finlandia, Islandia, Swedia, Denmark, dan Norwegia adalah negara-negara yang kaya raya karena kayu. Tingkat kebahagiaan masyarakat Skandinavia juga sangat tinggi. Selain kayu, mereka juga pengekspor ikan salmon,” tutur Doni.

Untuk diketahui, kayu-kayu di Skandinavia baru bisa dipanen setelah 40 tahun. Akan tetapi, mereka sudah merintisnya sejak ratusan tahun lalu, dan dilestarikan hingga hari ini. Industri kayu di Skandinavia bahkan sudah menjadi bisnis keluarga turun-temurun. “Pengalaman tugas di Paspampres dari Dan Grup A hingga Dan Paspampres, memberi kesempatan saya melihat dari dekat, betapa pemanfaatan lahan yang baik dan benar bisa memberi ruang kesejahteraan bagi rakyat,” ujar Doni.

Ia bahkan menganalogikan bangsa kita dua kali “dijajah” Swedia. Tahun 70-an, Swedia “menjajah” Indonesia dengan mobil-mobil Volvo. Lalu era 2000-an, Swedia kembali “menjajah” lewat produk-produk furniture Ikea. “Padahal dulu kita punya Ligna, yang iklannya ‘kalau sudah duduk lupa berdiri’. Sekarang Ligna di mana?” tanya Doni.

Menurut Doni, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar di bidang perkayuan, khsusnya Jawa Tengah yang terkenal dengan industri kayu ringan. “Kami berkunjung ke Solo, salah satu produsen produk kayu. Mereka menerima berapa pun produk kayu ringan. Di sisi lain, pohon sengon sangat tubuh di bumi Jawa Tengah. PPAD harus bisa memanfaatkan peluang ini. PPAD Pusat bersama Sampoerna Kayu akan menyiapkan bibit yang berkualitas,” katanya.

Indonesia sebenarnya penghasil kayu terbesr di dunia, karena punya hutan tropis yang sangat besar, sangat variatif, ada begitu banyak jenis kayu yang punya nilai ekonokmi tinggi. Kayu-kayu yang mahal harganya itu antara lain ulin, merbau, meranti, ebony, bitti, dan lain-lain. Sebagian jenis kayu itu nyaris punah. Antara lain ebony.

Untuk kayu jangka pendek, ada jabon, sengon, yang tumbuh singkat dan bisa panen dalam waktu lima sampai enam tahun. “Pemerintah dan dunia usaha harus mendapat dukungan dari purnawirawan, supaya kita bisa bersatu meningkatkan ekonomi masyarakat,” tandas Doni.

Masih di Jawa Tengah, Doni menunjuk industri jamu yang juga tak kalah besar dalam hal peluang menyumbang devisa bagi negara. “Pak Gubernur kami mohon bisa memberi masukan kepada perguruan tinggi untuk merancang penelitian agar jamu kita kelak bisa menjadi obat alternatif. Sangat banyak varietas herbal di Tanah Air yang tentu bisa menjadi bahan obat-obatan herbal. Jika digarap serius, Indonesia bisa merajai pasar obat-obatan herbal dunia,” Doni optimistis.

Mantan Kepala BNPB (2019-2021) itu juga menyodorkan data menakjubkan. “VOC yang bercokol di tanah air kita tiga abad lebih, saat ini menjadi salah satu perusahaan terkaya di dunia. Asetnya mencapai 7,9 triliun US dollar (sekitar Rp 115 kuadriliun rupiah). Sedangkan APBN kita, belum pernah lebih dari Rp 3.000 triliun. Bandingkan!” kata Doni seraya menambahkan, “kekayaan itu sebagian besar disumbang dari hasil rempah-rempah kita.”

VOC adalah monumen sejarah yang nyata. Ia kaya raya karena rempah-rempah Nusantara. Bahkan pernah satu masa, harga satu kilogram pala sama dengan harga 1 kilogram emas. Bukti nyata adalah Pulau Run di Kepulauan Banda (Maluku) yang menjadi ajang rebutan Inggris dan Belanda.

Mati-matian Belanda dan Inggris berperang untuk menguasai perdagangan dunia. Terhitung dari tahun 1652-1654 perang pertama dilakukan dan perang kedua dimulai dari tahun 1665. Hingga akhirnya pada 31 Juli 1667, Traktat Breda dikeluarkan untuk memberi solusi damai dari perang-perang tersebut.

Salah satu isi dari Traktat Breda adalah Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run, Kepulaun Banda, dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, yakni Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Manhattan, New York) diserahkan ke Inggris. “Manhattan kini salah satu kota megah dan kaya raya di Amerika Serikat, sementara Pulau Run begitu-begitu saja,” ujar Doni prihatin.

Berikut, Doni menyebut tanaman nilam. Dikatakan, untuk diketahui, bahwa Nilam berasal dari singaktan Nederlands Indische Land ook Acheh Maatzchappij, sebuah perusahaan Belanda yang mengatur perdagangan dan sistem penjualan dari tanaman Patchouli. Perusahaan Belanda waktu itu bekerjasama dengan para Ulee Balang dalam pengelolaan ladang nilam di Aceh.

Hasil penelitian menyebutkan Nilam Aceh merupakan nilam terbaik dunia dengan kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30 persen sehingga banyak dicari pihak luar negeri. “Begitu banyak kekayaan Nusantara. Ketika ke Belanda Mei 2019, saya menemukan tulisan ‘Specerijenmagazijn, Indie’s Welvaren’, yang artinya ‘Gudang rempah-rempah, harta kekayaan melimpah dari bumi Indonesia’. Itu adalah bukti nyata dan pengakuan dari Belanda yang tiga-setengah abad menjajah kita,” ujar Doni.

Hari ini dan ke depan, pensiunan TNI-AD harus mempersiapkan diri dan mengajak orang di sekitar untuk menjadi bagian dari program ekonomi yang digulirkan PPAD. Jika berhasil, dipastikan akan sangat membantu pemerintah. “Terlebih di era pandemi. Pak Gubernur tadi mengatakan, di Jawa Tengah saja tak kurang dari 400.000 orang di-PHK gara-gara pandemi. Dengan program entrepreneurship, kita akan bisa menciptakan lapangan kerja. Dan sejatinya, barang siapa mampu menciptakan lapangan kerja, adalah pahlawan sejati hari ini dan pahlawan masa yang akan datang,” tandas Doni.

Masih sangat banyak yang sedia dilakukan Doni Monaro (dan PPAD) untuk Jawa Tengah. “Nanti malam kami juga akan bertemu Bupati Cilacap dan stakeholder lain membahas kawasan mangrove di Segara Anakan, Nusa Kambangan,” ujarnya.

Betapa mangrove adalah sebuah potensi usaha yang luar biasa. Selain bisa dijadikan area budidaya kepiting, buah mangrove juga bisa untuk pewarna batik. Di sisi lain, Jawa Tengah memiliki banyak kota perajin batik, seperti Solo, Pekalongan, Lasem, dan lain-lain. “Batik dengan pewarna alam, semoga ke depan bisa menguasai pasar fashion dunia,” harap Doni.

Ingat, kata Doni, produk-produk unggulan kita sejatinya sudah sangat dikenal di luar negeri. Seperti batik, misalnya, bahkan pernah menjadi baju kebanggan Presiden Afsel, Nelson Mandela. “Suatu ketika, saya keliling bersama pak Egy (Egy Massadiah, red), di berbagai restoran kami menemukan menu penutup dari olahan sagu. Artinya, dengan kemasan yang khusus, produk asal Indonesia bisa menjadi produk yang berharga mahal,” ujarnya.

Belum lagi soal kopi. Peluang usaha kopi juga sangat besar. Saat ini, salah satu produsen kopi terbesar Indonesia, Kapal Api, masih mengimpor 300.000 ton kopi robusta dari negara asing. “Makanya, kalau saya ditawari kopi robusta, saya selalu menolak. Sebab, saya tahu, itu kopi impor. Saya pilih kopi arabica produk bumi Indonesia,” kata Doni sambil tertawa.

Doni mengaku penyuka kopi. Dulu, ke mana pun ia membawa kopi Puntang, Garut – Jawa Barat. Belakangan, ia beralih ke kopi dari NTT, rasanya sedikit lebih enak dari kopi Puntang. “Ini sekalian saya promosi kopi dalam negeri. Masih ada lagi kopi enak, seperti kopi Mandailing. Mari jadikan ngopi menjadi budaya, menggantikan teh. Sebab, teh bukan budaya kita,” ajak Doni.

Sektor lain yang disampaikan Doni dalam pengarahannya di depan pengurus dan anggota PPAD Jawa Tengah, adalah soal potensi perikanan. Dikatakan, PPAD pusat sudah menjajaki kerja sama dengan aplikasi “Fish On”. “Dengan aplikasi itu, nelayan tidak lagi mencari ikan, tetapi menangkap ikan. Aplikasi itu mengarahkan kapal ke titik ikan berada. Aplikasi itu bahkan memungkinkan memutus mata rantai rente, agar nelayan mendapatkan penghasilan yang lebih besar,” ujar Doni. (*/rr)

Jukung Karere itu Sudah Menjadi Debu

Perahu Jukung Karere asal Papua. Dibuat dari satu batang pohon utuh. Koleksi berharga Museum Bahari itu musnah sudah. Foto: Ist

KETIKA Museum Bahari (MB) Jakarta terbakar pertengahan Januari 2018 lalu, tidak ada drama langit-mendung dan Indonesia-berduka. Hanya komunitas pecinta museum yang mendung-hati. Hanya pegiat sejarah yang terluka duka.

Betapa tidak, bekas bangunan VOC yang diresmikan menjadi Museum Bahari di era Gubernur Ali Sadikin tahun 1977 itu, sarat koleksi penting perjalanan dunia maritim Indonesia. Sebagian besar ludes terbakar. Hasil identifikasi, tak kurang dari 120 koleksi museum musnah. Termasuk koleksi sejumlah kapal tradisional kayu tua asli.

Perahu bersejarah yang telah menjadi abu itu antara lain perahu tradisional phinisi, perahu lancang kuning, cadik Nusantara, dan perahu jukung karere. Perahu tradisional Papua ini yang paling menarik, karena dibuat menggunakan kayu utuh dari batang pohon sepanjang 11 meter. Menilik perahu-perahu tersebut bisa kita bayangkan betapa hebatnya nenek moyang kita, mengarungi luasnya lautan hanya dengan menggunakan perahu tradisional.

Museum Bahari, Jakarta Utara terbakar 16 Januari 2018. Foto: Ist

Kebakaran telah menghanguskan koleksi di gedung A, gedung C dan kerusakan bangunan museum. Koleksi museum yang habis terbakar berada di lantai dua dan bagian loteng, yang merupakan Ruang Legenda Masyarakat Bahari Nasional dan Internasional berisi sejumlah diorama. Koleksi lainnya beragam jenis biota laut dan informasi kartografi jenis dan sebaran potensi laut Nusantara. Selain itu juga berisi informasi budaya dan tokoh maritim Indonesia.

Museum Bahari sebelum terbakar.

Sedangkan gedung C, merupakan Ruang Pamer Perang Laut Jawa berisi koleksi sumbangan dari Kedutaan Inggris, AS, Australia dan Belanda. Ruang pamer ini baru diresmikan bulan Februari tahun lalu.

Di gedung ini juga merupakan Ruang Pengenalan Kebaharian berisi koleksi miniatur model dan alat alat navigasi bersejarah, seperti mercusuar, rambu rambu laut lain dan miniatur perahu tradisional.

Museum Bahari malang tak terperi. Semasa “hidup”, sedikit saja dilirik orang. Setelah terbakar, bisa jadi makin pudar. Tentu dibutuhkan kemauan politik dan kemauan balik pemerintah untuk merestorasi Museum Bahari, bahkan lebih dari itu, membuatnya lebih kesohor.

Koleksi perahu tradisional di Museum Bahari.

Sebelum terbakar, bangunan yang berdiri sejak abad ke-17 tepatnya tahun 1652, atau 366 tahun silam itu acap mendapat kunjungan anak-anak muda. Sayang, mereka bukan datang untuk mengagumi koleksi museum, dan mengapresiasi sejarah kemaritiman Indonesia. Mereka adalah serombongan fotografer dan videografer yang sedang mengerjakan proyek pre-wedding.

Sekelumit Sejarah

Sebelum tahun 1500 kawasan Sunda Kelapa di muara sungai Ciliwung merupakan pelabuhan Kerajaaan Pajajaran. Tempat itu berkembang dengan dibangunnya pos-pos perdagangan sebagai perjanjian warga lokal dengan orang Portugis tahun 1522.

Perahu tradisional koleksi Museum Bahari yang juga ikut terbakar.

Pada tahun 1526 hingga tahun 1527 Sunda Kelapa ditaklukkan oleh Fatahillah alias Pangeran Jayakarta. Sang penakluk kemudian mengabadikan namanya (Jayakarta), kota Jayakarta menggantikan Sunda Kelapa. Saat itu penguasa kota Jayakarta tidak menerima kehadiran orang Portugis hingga tahun 1596 datang kapal dagang pertama kali bangsa Belanda di pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada abad ke-17, tepatnya tahun 1610-1611, Belanda diberi izin mendirikan gudang serta benteng di sisi timur muara sungai Ciliwung. Berjalannya waktu Belanda berhasil menyingkirkan Jayakarta dan mengganti nama Jayakarta dengan Batavia.

Di kawasan Sunda Kelapa didirikan pula benteng dan menjadi kantor VOC di Asia tahun 1619. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1629, Batavia dikepung Sultan Agung Mataram. Masa itu yang berkuasa adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, yang meninggal setelah sakit kolera.

Daerah sisi Barat sungai Ciliwung dikembangkan dan dikelilingi tembok kota dan kubu-kubu yang masih ada hingga kini: kubu Culemborg dan Zeeburg. Tahun 1652 barulah bagunan tertua dari bagian gedung rempah dibangun, yang terakhir dikenal sebagai Museum Bahari. Museum yang sudah dilalap api. ***