Sungai Brantas: Nadi Peradaban yang Mengalir Tiada Henti

Oleh : Heri Mulyono

Dari lereng Gunung Arjuno di ketinggian 3.000 meter, Sungai Brantas mengalir 320 kilometer menuju Selat Madura, menanggung di punggungnya ribuan tahun jejak peradaban manusia yang tak pernah benar-benar padam.

Dari Kedalaman Zaman: Manusia Pertama di Lembah Brantas

Jauh sebelum nama Brantas terucap dalam kitab manapun, sungai ini sudah menjadi saksi bisu kehidupan. Sekitar 1,8 juta tahun lalu — ketika bumi masih dalam cengkeraman Pleistosen — nenek moyang manusia purba menyusuri tepiannya. Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di Trinil, Ngawi, dan Sangiran bukan hanya artefak biologi; mereka adalah prasasti tertua yang pernah ditulis alam di tanah Jawa.

Sungai Brantas pada era itu bukan sekadar aliran air. Ia adalah supermarket alam: menyediakan ikan, kerang, umbi-umbian liar, dan akses ke dataran buru yang kaya rusa serta banteng purba. Endapan aluvial yang terus-menerus diperbarui menjamin kesuburan tanah di kanan-kirinya. Peradaban, sebagaimana selalu terjadi dalam sejarah umat manusia, tumbuh di mana air mudah dijangkau.

Bukti arkeologis dari situs-situs di sekitar Malang, Blitar, dan Tulungagung menunjukkan bahwa manusia prasejarah tidak sekadar singgah di tepian Brantas — mereka bermukim, bermasyarakat, dan mungkin sudah mulai menandai wilayah. Kapak perimbas dan alat-alat serpih batu yang ditemukan di beberapa titik di lembah Brantas Hulu mencerminkan teknologi yang berkembang dari generasi ke generasi, dari sekadar bertahan hidup menuju penguasaan lingkungan.

Revolusi Agraris: Ketika Sawah Mengubah Segalanya

Lompatan terbesar dalam sejarah peradaban Brantas terjadi bukan ketika kerajaan berdiri, melainkan ketika seseorang — entah siapa namanya, entah kapan persisnya — menancapkan benih pertama ke tanah basah di tepi sungai. Revolusi Neolitik membawa serta budaya bercocok tanam, pemeliharaan ternak, dan yang terpenting: keterikatan pada tanah. Manusia yang semula mengembara kini berakar.

Situs megalitik yang tersebar di Lereng Kawi, Lereng Kelud, dan Pegunungan Tengger memberikan gambaran tentang masyarakat agraris awal yang sudah memiliki organisasi sosial yang kompleks. Dolmen, menhir, dan punden berundak bukan semata-mata monumen kematian — mereka adalah penanda kuasa, batas wilayah komunal, dan titik orientasi kosmologis bagi masyarakat yang hidupnya bergantung pada siklus musim dan ketersediaan air dari Brantas.

Jaringan irigasi sederhana pun mulai terbangun. Meskipun tidak meninggalkan catatan tertulis, temuan arkeologis menunjukkan bahwa komunitas-komunitas di lembah Brantas sudah mampu mengelola air secara kolektif jauh sebelum era kerajaan Hindu-Buddha masuk. Tradisi subak yang kita kenal di Bali boleh jadi memiliki leluhur konseptual di sini, di lembah yang kaya ini, ribuan tahun silam.

Kanjuruhan: Benih Kerajaan di Tepi Sungai

Abad ke-8 Masehi membawa sebuah nama yang akan bertahan melintasi waktu: Kanjuruhan. Prasasti Dinoyo, bertahun 760 Masehi, adalah dokumen tertulis tertua yang dihasilkan dari peradaban lembah Brantas. Ditulis dalam aksara Kawi awal dan bahasa Sanskerta, prasasti itu mengisahkan pembangunan candi oleh Raja Gajayana untuk menghormati Agastya — resi mitologis yang diyakini membawa peradaban Hindu ke Nusantara.

Pusat Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan berada di wilayah Malang kini, bukan jauh dari tepian Brantas dan anak-anak sungainya. Pemilihan lokasi ini bukan kebetulan. Lembah yang terlingkari gunung-gunung berapi — Arjuno, Semeru, Bromo, Kelud, Kawi, Butak — menjadikan tanah di sekitarnya luar biasa subur. Brantas dan anak sungainya — Konto, Ngrowo, Metro, Lesti — mengairi sawah-sawah yang menjamin surplus pangan, fondasi mutlak bagi berdirinya sebuah politi yang terorganisasi.

Kanjuruhan mungkin tidak sebesar Majapahit, namun ia adalah embrio. Dari sinilah tradisi ketatanegaraan Jawa Timur berakar: sistem persawahan komunal, birokrasi desa, dan hubungan sakral antara penguasa dengan air. Seorang raja yang mampu menjamin aliran sungai tetap deras, bebas dari bencana banjir namun cukup mengairi sawah, adalah raja yang sah di mata rakyatnya.

Singhasari dan Majapahit: Kejayaan yang Ditopang Sungai

Empat abad setelah Kanjuruhan, dari lembah yang sama, lahir sebuah kerajaan yang akan mereorganisasi dunia maritim Asia Tenggara. Singhasari (1222–1292) berdiri di bawah bayang-bayang Gunung Arjuno, dengan Brantas mengalir di bawahnya. Pendirinya, Ken Arok, adalah sosok kontroversial — separuh bandit, separuh negarawan — yang mengerti bahwa menguasai lembah Brantas berarti menguasai lumbung pangan dan jalur ekonomi seluruh Jawa Timur.

Tetapi puncak peradaban Brantas adalah Majapahit (1293–sekitar 1527). Pusat kerajaan berpindah ke Trowulan, di dataran rendah Brantas bagian hilir, bukan tanpa alasan strategis. Di sana, sistem kanal buatan yang menghubungkan sungai-sungai kecil dengan Brantas menjadikan Trowulan sebagai kota pelabuhan pedalaman yang luar biasa. Kapal-kapal dapat berlayar dari pantai utara Jawa masuk jauh ke jantung daratan, membawa rempah, kain, logam, dan kemewahan dari seluruh Nusantara.

Mpu Prapanca dalam Nagarakretagama (1365) melukiskan ibu kota Majapahit sebagai kota yang ramai, tertata, dan megah. Jalan-jalan lebar membelah permukiman yang padat. Pasar-pasar berdenyut setiap hari. Dan di balik semua kemewahan itu, Sungai Brantas bekerja tanpa henti — mengairi sawah yang memberi makan ratusan ribu jiwa, mengangkut barang dagangan, dan membuang limbah kota yang terus berkembang.

Arteri Ekonomi: Brantas sebagai Jalan Raya Air

Sebelum jalan raya beraspal dan rel kereta hadir, Sungai Brantas adalah jalan raya yang sesungguhnya. Perahu-perahu kecil bermuatan beras, tebu, kayu jati, dan tembakau meluncur dari hulu ke hilir setiap hari. Di titik-titik penting, dermaga-dermaga kecil tumbuh menjadi pusat perdagangan: Gempol, Porong, Mojokerto, hingga muara di Surabaya dan Bangil.

Sistem irigasi yang diwarisi dari era Majapahit terus diperluas oleh kerajaan-kerajaan penerus, termasuk Demak dan Mataram Islam. Bahkan ketika kekuasaan Islam mulai menggantikan Hindu-Buddha di Jawa, Brantas tetap menjadi konstanta. Pesantren-pesantren besar yang bertumbuh di Jawa Timur — dari Gresik hingga Kediri — secara konsisten berlokasi di dekat sumber air, banyak di antaranya di tepi sungai atau anak-anak sungai Brantas.

Catatan-catatan pedagang Arab, Cina, dan Portugis dari abad ke-15 hingga ke-17 secara konsisten menyebutkan bahwa daerah pedalaman Jawa Timur adalah sumber beras terbaik di kepulauan ini. Beras itu datang dari sawah-sawah di lembah Brantas, diangkut perahu ke muara, kemudian memenuhi palka kapal-kapal yang berlayar ke Malaka, Makassar, Maluku, dan lebih jauh lagi.

Guncangan Kolonial: Brantas di Bawah Bayang-Bayang VOC dan Belanda

Kedatangan Belanda mengubah logika sungai secara fundamental. VOC, dan kemudian pemerintah kolonial Hindia Belanda, tidak melihat Brantas sebagai urat nadi peradaban — mereka melihatnya sebagai instrumen produksi. Cultuurstelsel yang diberlakukan sejak 1830 memaksa petani-petani di lembah Brantas menanam tanaman ekspor — tebu, kopi, nila — mengorbankan tanaman pangan yang selama berabad-abad menghidupi mereka.

Namun kolonialisme juga membawa modernisasi infrastruktur yang ambigu. Belanda membangun tanggul-tanggul, normalisasi alur sungai, dan proyek-proyek irigasi besar di sepanjang Brantas. Tujuannya jelas: memaksimalkan produktivitas perkebunan. Tetapi hasilnya, secara tak terduga, juga memperkuat ketahanan wilayah terhadap banjir musiman yang selama berabad-abad menelan korban. Ambivalensi sejarah jarang tampak sepedih ini.

Pabrik-pabrik gula yang berdiri di lembah Brantas pada abad ke-19 — dari Kebon Agung di Malang hingga pabrik-pabrik di Kediri dan Jombang — menjadi monumen ganda: di satu sisi, kemakmuran kolonial yang diperas dari keringat petani Jawa; di sisi lain, transfer teknologi industri yang akan membekas panjang dalam lanskap ekonomi Jawa Timur.

Bendungan, Listrik, dan Modernitas: Wajah Baru Brantas Abad ke-20

Setelah kemerdekaan, Indonesia mewarisi sungai besar tanpa sistem pengelolaan yang memadai. Banjir besar yang melanda lembah Brantas pada 1950-an memaksa pemerintah berpikir serius. Lahirlah Proyek Brantas — salah satu proyek pengelolaan sumber daya air terbesar dan paling ambisius di Asia Tenggara pada masanya.

Serangkaian bendungan besar dibangun secara bertahap: Bendungan Sutami (Karangkates, 1972) dengan kapasitas tampung 343 juta meter kubik air; Bendungan Sengguruh (1988) yang berfungsi sebagai kantong tangkapan sedimen; Bendungan Lahor, Wlingi, Lodoyo, hingga Bendungan Wonorejo di Tulungagung. Seluruh sistem ini bekerja sebagai satu organisme hidrologis raksasa, mengatur denyut Brantas dari hulu ke hilir.

Dampaknya luar biasa. Banjir yang dulu memporak-porandakan Malang, Blitar, Kediri, dan Mojokerto setiap dekade kini jauh lebih terkendali. PLTA yang menempel pada bendungan-bendungan itu menyumbang listrik untuk jutaan rumah tangga Jawa Timur. Dan irigasi teknis yang bersumber dari bendungan memungkinkan panen dua hingga tiga kali setahun — mentransformasi lembah Brantas menjadi salah satu lumbung padi terpenting di Indonesia.

Brantas Hari Ini: Antara Warisan dan Ancaman

Namun seperti semua sungai besar di dunia yang menanggung beban peradaban, Brantas kini menghadapi krisis identitas. Industri yang berkembang pesat di Surabaya, Sidoarjo, dan Pasuruan membuang limbah — kadang secara ilegal — ke anak-anak sungainya. Pertanian intensif yang bergantung pada pupuk dan pestisida kimia meracuni aliran pelan-pelan. Sedimentasi akibat deforestasi di hulu mengancam kapasitas tampung bendungan.

Di kota-kota sepanjang Brantas, permukiman kumuh memenuhi bantaran sungai yang semestinya steril dari bangunan. Sampah rumah tangga mengalir bersama arus. Kualitas air Kali Brantas di beberapa titik sudah masuk kategori tercemar berat. Ironi yang menyakitkan: sungai yang pernah menjadi sumber kehidupan peradaban kini juga menjadi tempat pembuangan peradaban itu sendiri.

Berbagai upaya restorasi memang digalakkan. Perum Jasa Tirta I, yang mengelola Brantas sejak 1990, secara rutin memantau kualitas air dan mengoordinasikan pengelolaan debit antar bendungan. Program-program penghijauan di hulu berjalan, meski hasilnya belum optimal. LSM-LSM lingkungan mengorganisir komunitas bantaran sungai untuk hidup berdampingan dengan Brantas secara lebih bertanggung jawab.

Epilog: Sungai yang Menunggu Diingat

Ada sesuatu yang misterius dan mengharukan tentang sungai besar yang telah menanggung peradaban. Brantas tidak memiliki monumen yang berbicara tentang dirinya sendiri. Tidak ada prasasti yang ditanam di tepi sungai untuk mengingatkan manusia tentang berapa banyak kerajaan yang lahir dan runtuh di pangkuannya, berapa banyak kehidupan yang ia topang, berapa banyak mimpi yang ia bawa ke laut.

Namun sejarah tersembunyi dalam tanah di kedua sisinya. Setiap kali cangkul petani menyentuh lapisan tanah yang lebih dalam, setiap kali proyek konstruksi menggali fondasi, sepotong masa lalu Brantas tersembul ke permukaan. Arca Ganesha, fragmen gerabah Majapahit, sisa-sisa kanal kuno — semuanya bercerita bahwa tanah ini pernah menjadi pusat dari sesuatu yang besar.

Sungai Brantas mengalir hari ini seperti ia mengalir jutaan tahun lalu: tanpa berhenti, tanpa bertanya, tanpa membutuhkan pengakuan. Yang berubah adalah kita — manusia yang telah begitu jauh meninggalkan ingatan tentang betapa hidupnya bergantung pada aliran air ini. Mungkin itulah tugas terpenting generasi kini: mengingat kembali. Karena sungai yang terlupakan adalah sungai yang sekarat. Dan sungai yang sekarat adalah pertanda peradaban yang melupaikan dirinya sendiri. (*)


Referensi utama: Prasasti Dinoyo (760 M); Nagarakretagama, Mpu Prapanca (1365); Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Nagarakretagama (1979); P.J. Zoetmulder, Kalangwan (1983); Perum Jasa Tirta I, Laporan Pengelolaan DAS Brantas.

Wagub Emil Berharap Pengelolaan dan Kualitas Air Sungai Brantas Jadi Lebih Baik

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menerima kedatangan para Peserta International Workshop Brantas River of Life di Gedung Negara Grahadi, Rabu (18/10) malam.

Para peserta yang merupakan akademisi dan pakar dari Belanda, Thailand, Vietnam, dan Indonesia tersebut dijamu hangat dalam Gala Diner bersama Wagub Emil.

Secara khusus Emil mengapresiasi adanya workshop yang melibatkan para pakar dunia terkait pengelolaan Sungai Brantas. Hal ini merupakan kolaborasi akademik yang hasilnya nanti bisa dirasakan oleh masyarakat Jatim.

“Dapat kita katakan ini sebagai sebuah gotong-royong akademik dengan pendekatan lintas disiplin, lintas pemangku kepentingan, dan lintas negara untuk menjawab beragam tantangan pengelolaan Sungai Brantas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.

Salah satu tantangan yang dihadapi ialah ketika musim kemarau berjalan panjang kemudian diikuti dengan musim hujan yang memiliki intensitas tinggi dalam waktu pendek, berpotensi menimbulkan longsor dan banjir. Untuk itu diperlukan penguatan terhadap degradasi-degradasi di daerah lereng sungai.

“Semakin cuaca ini sulit dikendalikan, masalah-masalah mendasar itu menjadi semakin penting di atasi. Misalnya daerah tangkapan air, lalu kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kritis harus segera ditangani,” jelasnya.

“Maka dari itu diperlukan penanganan dari multidispilin. Apakah karena tindakan manusia? Atau memang kondisi alam? Ini membutuhkan adanya kombinasi teknologi dan juga ilmu-ilmu lainnya. Pendekatan multidisiplin ini yang kemudian dijadikan fokus pembahasan oleh para pakar dalam forum ini,” imbuhnya.

Selain itu, Sungai Brantas yang membentang sepanjang 320 KM melintasi beberapa wilayah administratif kabupaten/kota. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan sinergitas dan kolaborasi yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan.

Wagub Emil menambahkan bahwa pengelolaan sungai telah menjadi salah satu perhatian Pemprov Jatim. Salah satunya Kalimas yang kini masuk dalam usulan pengembangan kerja sama dengan Belanda. Selain itu ada juga pengelolaan air tambah di Gresik dan Sidoarjo yang masuk sebagai usulan.

“Salah satu intervensi dari pemerintah ialah bagaimana kita membuat fasilitas umum di tepi sungai. Sehingga rumah-rumah penduduk diharapkan tidak lagi memunggungi sungai dan berkenan ikut merawat sungai di depannya,” imbuhnya.

Ia berharap melalui workshop internasional ini dihasilkan aksi-aksi yang bisa diterapkan agar pengelolaan Sungai Brantas bisa lebih baik. Tak hanya menanggulangi potensi bencana namun juga meningkatkan kualitas air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Jatim.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development Unair Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih menyampaikan melalui workshop yang diselenggarakan selama tiga hari sejak kemarin ini para akademisi akan memetakan tantangan-tantangan pengelolaan Sungai Brantas.

Menurutnya tantangan besar yang dihadapi ialah terkait patogen yang dikhawatirkan akan membawa penyakit atau virus untuk lingkungan sekitar sungai. Terlebih Sungai Brantas merupakan salah satu sumber air yang banyak digunakan oleh masyarakat Jatim.

“Output dari workshop ini berupa roadmap yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kualitas air dan pengelolaan sungai Brantas,” katanya.

Ia menambahkan usulan Sungai Brantas menjadi fokus bahasan bermula dari Unair kepada LDE. LDE merupakan konsorsium tiga universitas di Belanda yakni Leiden, Tu Delft, dan Erasmus University.

LDE kemudian ingin membangun konsorsium dengan lima perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki sungai-sungai penting di wilayahnya. Kelima kampus tersebut ialah Universitas Airlangga Surabaya, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, dan Universitas Mulawarman.

“Workshop ini juga didukung oleh kerja sama Indonesia – Belanda. Nanti tanggal 25 Oktober 2023 akan dilaunching konsorsium Indonesia-Belanda dengan lima perguruan tinggi tersebut,” pungkasnya. (poedji)