Sportifitas Atlet Bertalenta Khusus Menggenggam Semangat Patriotisme

”Kegiatan bertaraf nasional dan internasional dari Special Olympics Indonesia (SOIna) sepantasnya didukung semua pihak mulai pusat hingga daerah. Pemerintah, swasta, individu tokoh dan pemangku lain termasuk kalangan DPRD dapat ambil peran menyokong atlet bertalenta khusus. Komite Nasional Disabilitas sesuai amanah UU No.8 tahun 2016 siap sinergi bersama Pengurus SOIna menjalin kolaborasi lintas sektor Kementerian,” kata Jonna Aman Damanik, komisioner Komnas Disabilitas (KND).

KND mendukung inisiatif SOIna menggandeng Kemenko PMK mengambil langkah koordinasi bersama Kemensos, Kemenkes, KemenHAM dan khususnya Menteri Pemuda dan Olah Raga selaku leading sektor. Ribuan atlet disabilitas intelektual penyandang downsindrom, autis dan lainnya perlu perlindungan berorientasi HAM sekaligus mewujudkan rehabilitasi sosial lebih produktif terhadap SDM sehat Indonesia.

Belum lama KND memantau pendampingan hak keolahragaan atlet disabilitas fisik National Paralympic Committee (NPC) Indonesia dalam kejuaraan ASEAN. Maka kali ini, komitmen mendukung atlet bertalenta khusus Special Olympics Indonesia (SOIna) dalam hajatan Pekan Special Olympics Nasional atau Pesonas Oktober 2026 di Kupang diikuti perwakilan 30 propinsi guna menuju tahap kompetisi global World Summer Games (SOWSG) delegasi 170 negara di Santiago Chile 2027.

Warsito Ellwein, Ketum Pengurus Pusat SOIna, menandaskan banyak atlet asal daerah pelosok sekalipun terlilit keterbatasan akses sumberdaya dukungan tetapi terbukti sukses meraih prestasi medali emas, perak, perunggu di berbagai cabor arena pertandingan tingkat nasional maupun regional Asia Pasifik. Di Kupang, NTT, event olah raga 4 tahunan Pesonas Oktober 2026 mempertandingkan 7 cabor. Banyak pengurus daerah Kabupaten dan Kota menghadapi kendala mengirim kontingen. Terkini baru 21 dari target kontingen 30 propinsi. Perwakilan atlet hanya 420 orang bersedia partisipasi dari target 800 hingga 1000 peserta se Indonesia.

Tim-tim cabor terdiri atlet, pelatih, ofisial dan pendamping umumnya berangkat secara mandiri dan swadaya. Alokasi anggaran APBD NTT yang terbatas kiranya secukupnya memfasilitasi kebutuhan penginapan, dukungan medis dan mobilitas menuju arena pertandingan selama sepekan penyelenggaraan Pesonas. “Kami apresiasi luar biasa kerja keras pemprov dan DPRD NTT bersama unsur setempat. Daerah-daerah potensial mengirim atlet dalam jumlah proporsional sesuai kemampuan daerah mandiri dengan daerah berkekurangan kita upayakan skema subsidi dari hasil lelang penjualan lukisan dan kain jika kita bisa mengadakan donasi amal semacam gala dinner,” imbuh Warsito.

Terlebih mengingat tantangan dan kesempatan ke depan. Apabila sebelumnya World Games di Berlin Jerman 2023 delegasi Indonesia hanya 25 orang, gelaran serupa berikutnya SOWSG Oktober 2027 di Santiago Chile diharapkan SOIna mampu mengutus 63 atlet multi cabor. Kompetisi berbasis sportifitas atlet penyandang tuna grahita, autis, downsindrom mencerminkan wajah Indonesia di panggung global menempatkan 5,2 juta penyintas warga negara rentan beroleh perlindungan HAM yang berkeadilan dan bermartabat.

“SOIna telah berkirim surat mohon audiensi kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Kantor Setneg RI. Kami percaya seandainya surat kami sampai ke meja beliau, pasti Pak Prabowo berkenan menerima sesaat waktu kedatangan adik-adik atlet bertalenta di tengah kesibukan Presiden,” pungkas Hari Subagyo, Komite Kepanitiaan Gala Dinner (*).

Selain Negara, HAM Disabiltas Intelektual Menjadi Tanggung Jawab Swasta

Pemenuhan Hak asasi manusia penyandang disabilitas tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga menjadi tanggung jawab sektor swasta.
Wakil Menteri HAM, Mugiyanto mengatakan bahwa sektor swasta ikut bertanggung jawab atas hak asasi penyandang disabilitas.

“Selain negara, sektor swasta juga bertanggung jawab atas hak asasi manusia, termasuk bagi penyandang disabiltas intelektual ,” kata Mugiyanto saat menerima kunjungan Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna) di Kementerian HAM, Jakarta, Selasa (14/4/2026) malam.

Mugiyanto mengatakan landasan hukum utama di Indonesia adalah Undang-Undang No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas juga menjadi landasan utama di Indonesia yang menjamin hak asasi manusia, kesetaraan, dan perlindungan bagi penyandang disabilitas.

Undang-undang ini menetapkan 22 hak dasar, termasuk hak hidup, pendidikan, pekerjaan dan aksesibilitas, serta melarang keras tindakan diskriminasi dan stigma.

Dalam kesempatan itu Mugiyanto juga menegaskan bahwa Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities – CRPD) yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 menjadi landasan utama bahwa akses terhadap olahraga, pengembangan diri, dan partisipasi penuh dalam masyarakat adalah hak asasi yang tidak terpisahkan.

Oleh karena itu, menurut Mugiyanto, penghargaan terhadap atlet-atlet disabilitas intelektual juga harus setara dengan atlet-atlet pada umumnya. “Adalah hak mereka untuk mendapatkan penghargaan yang setara dengan umumnya, baik oleh negara maupun sektor swasta,”tuturnya.

Menurut Mugiyanto, pemerintah saat ini sudah memiliki lembaga Komisi Nasional Disabilitas, lembaga nonstruktural dan independen yang bertanggung jawab kepada Presiden RI dalam melaksanakan tugas pemantauan, evaluasi dan advokasi pelaksanaan penghormatan, pelindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di Indonesia.

“Kami menyambut baik komitmen Kementerian HAM yang tidak hanya mendukung secara verbal, tetapi juga siap membantu mempromosikan agenda PESONAS II 2026 di Kupang dan World Games 2027 di Santiago, Chili. Yang terpenting, Kementerian HAM juga menekankan bahwa sektor swasta memiliki tanggung jawab yang sama dengan negara dalam menciptakan ekosistem inklusif bagi penyandang disabilitas intelektual. Ini bukan kegiatan amal, ini pemenuhan hak asasi manusia,” ujar Warsito Ellwein, Ketua Umum SOIna dalam kesempatan kunjungan ke Wakil Menteri HAM.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Kementerian HAM. Dukungan ini memperkuat pesan kami bahwa pemberdayaan disabilitas intelektual bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen bangsa, termasuk perusahaan, media, dan masyarakat umum,” kata Gatot Prihandono selaku Ketua Panitia Pelaksana Penggalangan Dana menuju Pekan Olahraga Special Olympics Nasional dan Internasional Special Olympics Indonesia.

Warsito Ellwein menuturkan bahwa kesempatan untuk atlet-atlet disabilitas intelektual masih sangat terbatas, berbeda dengan disabilitas fisik yang masih bisa mengartikulasikan dan mewujudkan keinginan dan cita-cita mereka.

“”Hampir 90 persen anak-anak kita yang menyandang disabilitas intelektual beraktivitas di rumah, selain di sekolah mereka. Sehingga kegiatan SOIna melalui event olahraga dan klub-klub SOIna menjadi alternatif ruang bagi anak-anak kita ini, ”ujar Warsito.

Disabilitas intelektual merupakan kelompok rentan yang ada di masyarakat. Keberadaan mereka di Indonesia belum sepenuhnya disadari bersama seluruh warga.
Mereka butuh dukungan dari semua pihak agar keberadaan dan haknya sama dengan warga negara lain, termasuk di bidang olahraga.

Special Olympics Indonesia (SOIna) adalah organisasi nirlaba yang diakui Pemerintah dan telah mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga dan program non-olahraga lainnya bagi Disabilitas Intelektual (Persons With Intellectual Disabilities) atau Orang Bertalenta Khusus (OBK) di Indonesia.

Dalam waktu dekat ini, SOIna akan menyelenggarakan: Pekan Special Olympics Indonesia ke-2 Tahun 2026 di Kota Kupang (PESONAS II 2026 Kupang) Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 13 – 18 Oktober 2026.

Event itu menjadi ajang seleksi bagi Atlet SOIna yang akan mewakili Indonesia pada Olimpiade Disabilitas Intelektual tingkat dunia (Special Olympics World Summer Games/SOWSG) di Santiago, Chille pada bulan Oktober 2027. SOIna mendapatkan kuota 67 atlet di ajang internasional itu. (*)

Wamensos Jabo Siap Fasilitasi Atlet Disabilitas Intelektual Temui Presiden Prabowo

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kurang peduli terhadap atlet Special Olympics Indonesia (SOina). Padahal, sudah dua kali bersurat untuk audiensi tapi tidak mendapat respon apapun. Untuk itu, atlet SOina ingin menemui Presiden Prabowo.

Hal itu terungkap ketika Wamen  Agus Jabo menerima perwakilan atlet dan Pengurus SOina di Kantor Kemensos di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Keinginan untuk menemui Presiden Prabowo disampaikan dua atlet berprestasi internasional Anastasia Aresyenan Bwariat (Tasya) dan Rizka Feryani Ciptaningrum (Rizka) kepada Wamensos Agus Jabo.

“Saya ingin ketemu Presiden Prabowo. Minta tolong untuk hadir di Gala Dinner. Tolong dukung kami. Tolong dukung sebesar-besarnya untuk Pesonas (Pekan Olahraga Nasional Special Olympics) di Kupang pada Oktober 2026,” kata Tasya kepada Wamensos Agus Jabo.

Keinginan serupa juga disampaikan Rizka  atlet yang pernah meraih medali emas di China. Menurut Rizka, dirinya juga ingin bertemu Presiden Prabowo.

Menanggapi keinginan ini, Wamensos Jabo mengatakan, dirinya akan berusaha untuk memfasilitasi pertemuan atlet SOina dengan Presiden Prabowo. “Bapak Presiden selalu menekankan untuk berpihak kepada rakyat kecil dan mereka yang terpinggirkan,” kata Wamen Jabo.

Jabo menjelaskan, Kemensos memiliki program prioritas yang berkaitan dengan pemberdayaan sosial untuk disabilitas. Namun, karena ini berkaitan dengan olahraga tentu merupakan ranah Kemenpora. Meski begitu, Kemensos akan menjalin komunikasi dengan Kemenpora.

Dalam pertemuan itu terungkap minimnya perhatian pemerintah terhadap atlet dan wadah special olympics. Bahkan, SOina harus menyewa sekretariat sendiri meski SOina merupakan satu-satunya wadah resmi sebagai bagian Special Olympics Internasional.

Wamensos Jabo merespon dengan meminta pejabat Kemensos untuk mengecek aset Kemensos yang bisa menjadi sekretariat SOina. Namun, Wamen Jabo minta untuk mengecek dari aspek aturan, karena SOina berkaitan dengan olahraga yang merupakan ranah Kemenpora.

“Tolong dicek betul karena ini berkaitan dengan olahraga, Kemensos fokus pemberdayaan sosial, termasuk disabilitas. Tapi kalau tidak ada masalah, silakan dimanfaatkan aset yang ada untuk sekretariat,” kata Wamen Jabo.

Wamen Jabo yang merupakan aktivis 1998 ini menegaskan, pada prinsipnya Kemensos akan mendukung setiap upaya untuk memastikan kehadiran negara bagi semua rakyat, terutama yang terpinggirkan.

Pesonas NTT

Special Olympics Indonesia (SOIna) adalah organisasi nirlaba yang diakui Pemerintah dan telah mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga dan program non-olahraga lainnya bagi Disabilitas Intelektual (Persons With Intellectual Disabilities) di Indonesia.

Dalam rangka membuka ruang seluas-luasnya dan memberikan kesempatan kepada atlet disabilitas intelektual,  SOIna menggelar Pekan Special Olympics Indonesia ke-2 Tahun 2026 di Kota Kupang (PESONAS II 2026 Kupang) Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 13 – 18 Oktober 2026.

PESONAS II 2026 Kupang bakal diikuti delegasi atlet dan pelatih dari SOIna Provinsi se-Indonesia dan akan melibatkan relawan.

Atlet yang akan berkompetisi adalah OBK dengan kategori kemampuan tinggi (High Ability) dan kemampuan rendah (Low Ability) serta mempertimbangkan kesetaraan gender.

Sedangkan, cabang olahraga untuk atlet (putra dan putri) yang dilombakan, yakni  atletik, bocce, bulutangkis, tenis meja, renang, senam ritmik, sepakbola ke-5-an (5-a side).

Selain kompetisi olahraga, terdapat rangkaian kegiatan inisiatif lainnya, seperti pemeriksaan kesehatan atlet (Healthy Athletes), Festival Seni-Budaya, dan lainnya.

Pesonas di Kupang, jugs menjadi ajang seleksi bagi Atlet SOIna yang akan mewakili Indonesia pada Olimpiade Disabilitas Intelektual tingkat dunia (Special Olympics World Summer Games/SOWSG) di Santiago, Chille pada bulan Oktober 2027.

Untuk Special Olympics World Summer Games (SOWSG) di Santiago, Chille, SOIna berencana mengirimkan Delegasi sebanyak 69 orang, terdiri dari: 35 Atlet, 10 Unified Partner, 18 Pelatih, 3 Tim Manager, 1 Medis, 1 Wakil Ketua Delegasi dan 1 Ketua Delegasi.

Keikutsertaan SOIna pada SOWSG 2027 Santiago, Chille, mengacu pada keberhasilan Delegasi SOIna yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara, dengan meraih prestasi membanggakan: 11 medali emas, 10 perak dan 11 perunggu pada SOWSG 2023 di Jerman.(*)