Lusi Kiroyan dan Hobi Keluar-Masuk Penjara

lusia kiroyan

Wanita cantik, hobinya keluar masuk penjara. Itulah Lusia Efriani Kiroyan. Tapi jangan salah paham dulu, Lusi hobi keluar masuk penjara bukan karena kasus pidana tapi karena kesibukannya memberdayakan napi wanita. Aktivitas keluar masuk penjara ini sudah dilakukannya sejak lima tahun lalu. Awalnya dia memberi pelatihan ketrampilan membuat kue, es cream, dll. Tapi kemudian kini dia mantap memberi ketrampilan kerajinan yakni membuat dan mendesain baju-baju boneka barbie.

“Sebenarnya keluar-masuk penjara bukan hal yang baru, ya. Jadi dulu itu aku aktif dikegiatan sosial untuk mengisi acara-acara motivasi yang diadakan di lingkungan penjara. Nah saat itu belum terpikir untuk mengadakan program pemberdayaan ekonomi. Sampai suatu ketika ketika aku mengajukan kredit ke sebuh bank untuk pembangunan pabrik, ternyata ditolak. Aku bingung harus bagaimana. Nah pada saat bersamaan aku diminta mengisi acara di penjara. “

“Dari sana aku tersadar, lho penjara kan memiliki sumber daya manusia yang besar. Kenapa tidak diberdayakan saja para napi, selain mereka memiliki kegiatan yang menghasilkan, itu juga bisa menambah ketrampilan mereka. Sehingga ketika mereka keluar penjara, dapat berusaha (bekerja) secara mandiri berbekal ketrampilannya. Dari sana lah kemudian muncul pelatihan-pelatihan ketrampilan untuk napi wanita seperti membuat kue, dll,” papar wanita cantik 37 tahun itu.

Dari kegiatan itu, kemudian berkembang dengan lahirnya gagasan membuat boneka ‘Batik Girl’. Namun sebelum lahir ‘Batik Girl’ sudah diadakan pelatihan membuat boneka barbie berkostum pakaian-pakaian daerah Indonesia.

barbie-barbie kreasi napi wanita

“Program ini ditujukan untuk para napi wanita. Material saya sediakan, mereka tinggal mengerjakan saja sesuai petunjuk. Namun sebelum itu mereka mengikuti pelatihan dulu selama beberapa hari yang diberikan oleh para relawan. Jadi mereka tinggal membuat baju boneka, tapi modelnya harus berbeda-beda.  Ini akan memacu daya kreativitas mereka. Per 1 boneka saya memberi mereka Rp10.000,“ ungkapnya.

Sejumlah lapas wanita, kata Lusi, telah dimasukinya untuk pelatihan membuat dan mendesain baju boneka barbie. Di antaranya adalah Lapas Baloi dan Barelang, keduanya di Batam, serta Rutan Wanita Pondok Bambu. Dan yang terakhir dan kini masih tengah berlangsung adalah di Lapas Batam dan Bali.

Lusi sedang memberi pelatihan pembuatan dan mendesain baju boneka pada napi wanita.

DIAPRESIASI  LUAR NEGERI

Jika kita melihat hasil yang dicapai Lusi saat ini, sepertinya mudah saja jalan yang dilalui. Padahal kenyataannya tidak demikian. “Awalnya, saya membiayai program ini dengan kocek pribadi. Belum ada sponsor. Dulu malah saya sempat bingung, produksi boneka banyak sekali, tapi mau disalurkan kemana. Di rumah, di workshop, penuh dengan boneka,” ungkapnya.

Bukannya tanpa usaha. Untuk sponsor, sebenarnya, dulu, Lusi pun telah berjuang masuk ke berbagai pihak. Namun sepertinya tak semudah dugaan. Harapannya mendapat dukungan dari dalam negeri untuk program pemberdayaan napi wanita yang sedang digarapnya pun pupus. “Ya, saya maklum lah. Isu yang saya bawa ini kan bukan isu populer,” ucapnya.

Niat mulia Lusi yang ingin membantu kaum marjinal akhirnya terbuka jalan. Dia mendapat info tentang adanya grant dari Amerika dan Australia untuk program pemberdayaan. Tapi untuk mendapatkan itu, dia harus berkompetisi dengan yang lain, lewat presentasi juga aksi-aksi yang dibuat. Berbekal nekad, sarjana jebolan Universitas Airlangga Surabaya, ini pun mengajukan programnnya.

Di luar dugaan apresiasi yang diterimanya sungguh membanggakan. Lusi pun berhasil meraih grant dari pemerintah Amerika. Sukses ikut kompetisi itu, Lusi pun ikut kompetisi yang didakan pemerintah Australia. Dan lagi, dia pun kembali berhasil. Jika dicatat, Lusi telah tiga kali menang kompetisi yang digelar Amerika, dan dua kali yang digelar Australia. “Untuk kompetisi Amerika, saya sudah tiga kali. Jadi kesempatan saya sudah habis. Setiap orang hanya bisa tiga kali. Di Australia sudah dua kali,” tuturnya.

Lewat kompetisi-kompetisi itulah, dia tetap bisa menjalankan program pemberdayaan para napi wanita. “Hadiah-hadiah yang saya dapat cukup untuk menjalankan program-program ini,” tambah pendiri Yayasan ‘Cinderella from Indonesia Center’, ini.

Setelah sukses dengan berbagai penghargaan dari luar negeri, baru lah agak lebih mudah Lusi dalam mencari partner di Indonesia untuk mendukung programnya. “Kalau sekarang sudah lumayan lah. Semoga program ini bisa berjalan terus sehingga semakin banyak yang terbantu,” ungkap peraih penghargaan ‘The International Alliance For Women (TIAW) World Difference’ di Washington DC, AS, tahun 2012.***

 

Cantiknya Barbie ‘Batik Girl’ Karya Para Napi

Lihat boneka-boneka barbie cantik ini. Siapa yang mengira boneka-boneka barbie yang berkostum batik serta aneka dress berbagai daerah di Indoneasia ini adalah buatan para nara pidana wanita di lembaga pemasyarakatan Bali dan Batam. Boneka barbie cantik itu baru-baru ini dipamerkan di Museum Mandiri, Jakarta Barat.

“Ada 1.000 boneka yang dihasilkan para napi di Bali dan Batam. Itu adalah bagian dari program 10.000 Boneka Batik Girl untuk Asean,” ungkap Lusi Kiroyan, Pendiri Yayasan ‘Cinderella’.

Untuk mengerjakan boneka-boneka tersebut, 100 napi wanita (LP Batam dan LP Bali) mereka dibayar Rp10.000 per boneka. Mereka tidak membuat bonekanya tapi membuat baju yang dikenakan boneka. “Para napi harus berkreasi dalam membuat baju-baju boneka ini. Tidak boleh sama. Jadi model baju maupun gaya si boneka masing-masing harus berbeda. Jika sama maka saya minta diulang,” ungkap Lusi.

Dengan begitu, tuturnya, mereka menjadi kreatif tapi lebih dari itu aktivitas ini selain menambah ketrampilan juga membuat mereka mandiri. Mereka dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dengan kemampuan mereka. “Dengan kemandiri dan mau bekerja, berusaha, saya berharap mereka kelak tidak masuk penjara lagi,” ujarnya.

Menurut Lusi, untuk mengerjakan program ini dia memilih napi wanita kasus narkoba. “Napi-napi wanita yang terkena narkoba itu banyak yang masih muda-muda, masih produktif. Mereka adalah generasi harapan bangsa. Sungguh sayang harus terjerat narkoba dan akhirnya masuk penjara. Saya berharap dengan adanya pelatihan ini memberi motivasi sekaligus rasa percaya diri kepada mereka,” katanya.

Rencananya 1.000 boneka Batik Girl ini akan dibagikan kepada anak-anak kanker dan disabilitas di seluruh Asean. Untuk tahap pertama Lusi dan timnya akan roadshow di lima negara termasuk Indonesia, yakni, Singapura, Malaysia, Brunnei dan Myanmar. Pada Februari 2018 mendatang dia akan roadshow ke Melbourne dan Darwin.

“Program ini dapat dukungan dari Australian Award Indonesia, juga Bayside Community –sebuah organisasi lokal Australia—serta dukungan dari Bank Mandiri. Pihak KJRI Darwin NT dan Andre Omer Siregar pun ikut membantu,” kata Lusi yang baru-baru ini meraih grant dalam program Hibah untuk Alumni Australia melalui Alumnae Grand Scheme (AGS) tahap 2.***