Satu novel berbahasa Jawa berjudul ‘Kajiret’ karya Yonas Suharyono, tinggal di Cilacap akan dibincangkan, Rabu 12 Agustus 2026, pkl 10.00 -12.00 di Balai Bahasa, Jl I Dewa Nyoman Oka No. 34, Kotabaru, Yogyakarta.
Bertindak sebagai narasumber Drs Sutarjo, MM, Sekda Cilacap periode 2013-2017, Indro Suprobo, editor, penulis dan penterjemah. Moderator, Dhanu Priyo Prabowo, peneliti Sastra Jawa. Sebelum diskusi akan dibacakan nukilan novel oleh Bayu Saptama, penulis Sastra Jawa dan aktor Ketoprak.
Diskusi diselenggarakan Sastra Bulan Purnama (SBP) bersama Balai Bahasa Yogyakarta. Keduanya seringkali menyelenggarakan kegiatan diskusi sastra, baik diskusi buku puisi, bincang cerpen dan cerkak, dan kali ini bincang novel Jawa.
Drs Umar Solikhan, MHum, Kepala Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) mengatakan, BBY sering melakukan kerjasama dengan komunitas sastra, salah satunya Sastra Bulan Purnama, kegiatannya berupa diskusi buku, workshop cerpen dan puisi, pembacaan puisi, cerpen.
“Sebagai lembaga bahasa, BBY membuka ruang kerjasama kegiatan literasai terhadap komunitas sastra di Yogyakarta,” kata Umar Solikhan.
Sementara Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama (SBP) mengatakan, sudah beberapa tahun SBP dan BBY melakukan kerjasama menyelenggarakan diskusi buku sastra, dan workshop penulisan cerpen dan puisi.
“Kegiatan bersama ini merupakan bentuk dari penguatan literasi dan menumbuhkan iklim kreatif,” ujar Ons Untoro.

Peserta diskusi buku novel Jawa, yang sudah mendaftar 40 orang, dari kalangan penulis, guru, dosen dan para penggemar sastra. Mereka tinggal di Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, Sleman, dan Kulonprogo.
Novel Kajiret ini bercerita mengenai seoranng gadis, Tupi, nama gadis itu, yang terpaksa putus sekolah karena badai rumah tangga yang menerpa keluarganya hingga ayah dan ibunya bercerai. Ibunya kemudian diketahui menikah lagi dengan sesama pekerja migran yang tinggal di Hong Kong, sementara ayahnya tidak diketahui ke mana perginya.
Gadis lima belas tahun lulusan SMP di desa itu harus bekerja sebagai pencuci ikan dan udang di lapak milik uwanya, Mineng. Dia harus bergumul dengan sisik ikan dan kulit udang di tepian sungai dekat pantai Penyuk Telu di kota minyak Lapalic. Tiap hari kerjanya mulai pukul 04.00 hingga pukul 15.00.
Dalam keterpurukan, seorang teman mengajak Tupi bekerja sebagai pemilah kacang di pabrik kacang kara merk Oke. Ternyata bukan kacang kara yang dia kerjakan, melainkan sebuah ruang audio yang menyediakan jasa hiburan pemandu lagu. Tiap hari dia harus berhadapan dengan bos-bos yang minta dilayani menyanyi. Maka tugas Tupi siang-malam selalu menimang-nimang mikrofon yang akan digunakan oleh para pelanggan. Tak jarang dia mendapatkan perlakuan tidak senonoh sebagai seorang gadis yang belum cukup 16 tahun.
Beruntung sebelum mahkotanya terenggut, seorang dari para bos itu tercokok oleh polisi dengan barang bukti gudang penyimpanan aspal curah yang disita. Ternyata lelaki itulah pemilik pabrik kacang kara merek Oke fiktif itu.
Kesempatan itu digunakan Tupi dan satu temannya melarikan diri dari ruangan audio itu. Dia pulang ke lapak Uwa Mineng, sedang temannya kembali lagi ke desa Kauripan di pinggiran kota Lapalic. Tak berselang sehari, rumah yang digunakan sebagai gudang audio pabrik kacang kara merek Oke itu terbakar habis, rata dengan tanah.
Demi mencari uang untuk biaya hidup dan sekolah adiknya, Gadis Tupi mau menari ebeg wadon (kuda kepang perempuan) dan ditanggap di berbagai panggung. Jadilah dia bintang panggung di setiap penampilan seni tari ebeg wadon. Di sela menari dia juga membantu Mak Darpen berjualan nasi rames di warung sederhana di kampung Kauripan.
Hingga pada akhirnya diterima bekerja di suatu kantor BUMN di kota Yogya setelah menyelesaikan studinya di SMA terbuka. Dari kantor itu dia menemukan ayahnya yang berjualan bakso di emperan toko elektronik jalan Urip Sumoharjo, kota Yogyakarta. Bagaimana nasib Gadis Tupi setelah mengambil cuti dan pulang ke kota minyak Lapalic. Apakah menerima lamaran Suryo Pramono, ataukah tetap menunggu Lantip, teman sepermainan waktu kecil?
Yonas Suharyono penulis novel mengatakan, buku ini terdiri dari 25 episode, dimulai dari Terjebak Kota Minyak hingga Pulang Ke Kota Minyak. Kisah ini adalah gambaran nyata yang sering terjadi dalam kehidupan modern di mana materi menjadi segala-galanya.
“Masalah yang terlalu kompleks sering menjadikan perpecahan dalam rumah tangga. Selain itu, novel ini juga ingin mengajak para pemangku seni budaya daerah dan para seniman untuk memelihara seni tradisi sebagai kekayaan budaya nasional,” ujar Yonas. (*)