Kreativitas di Ujung Nyali: Karakter Didik Ompong di Balik Lahirnya Drumblek

Oleh: Bambang Hermawan (Jurnalis, Pemerhati Kota Salatiga)

​Ketika Pemerintah Kota Salatiga kini tengah “berjuang” agar Drumblek diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda, rasanya relevan—dan sangat penting—untuk menyebut satu nama: Didik Ompong. Tanpanya, narasi besar tentang identitas budaya kota ini mungkin tak pernah ada.

​Memang banyak pihak terlibat, dan berjasa, membawa Drumblek sampai ke posisi sekarang. Namun, fakta bahwa Didik Ompong adalah “penemu” sekaligus perintis bagi lahirnya grup Drumblek pertama tak bisa disanggah.

​Pada suatu hari di bulan Agustus 1986, di Kampung Pancuran, Didik didera keresahan yang menggigit: dengan dana cekak ia harus menyiapkan sebuah grup kesenian. Matanya—mata seorang pelukis yang terbiasa bergulat dengan abstraksi kanvas—menerawang jauh, menembus segala penghalang di depannya. Lalu, muncullah ide liar: membentuk grup drumband versinya sendiri. Sebuah kesenian yang akan menjadi “pernyataan diri” kampung Pancuran dalam karnaval tahunan HUT Kemerdekaan RI ke-41 tingkat Kota Salatiga.

​Drumblek, dengan demikian, lahir bukan karena kebetulan, apalagi hasil kerja laboratorium musik yang njlimet. Ia adalah produk imajinasi seorang pemuda dua puluh tahunan yang berhasil dieksekusi dengan sempurna. Di tangan seorang pelukis dekoratif ekspresif, barang loak tidak dilihat sebagai sampah. Ia direkayasa menjadi volume, warna, dan resonansi yang memiliki nilai estetika.

​Namun, kata kuncinya bukan sekadar imajinasi, melainkan nyali untuk mengeksekusi ide tersebut. Membentuk grup musik perkusi dari barang rongsok bukan hanya soal kreativitas artistik, melainkan kemampuan menggerakkan orang. Sebagai sosok yang disegani di lingkungannya, Didik memiliki daya persuasi untuk mengajak kawan-kawannya “ikut gila”. Seandainya Didik Ompong adalah pribadi yang lembek dan memble, mungkin Drumblek sudah mati saat masih bayi—atau bahkan tidak pernah lahir sama sekali.

​Penyokong utama grup Drumblek Pancuran di awal berdirinya adalah sekelompok remaja tanggung, anak-anak baru gede, yang tergabung dalam geng bernama Comor. Pada pertengahan tahun 80-an, nama geng yang dikomandoi Didik Ompong ini sangat populer di Salatiga. Nama itu muncul sebagai grafiti di tembok, dinding, dan jalanan.

​Didik berhasil membawa grup Drumblek-nya melewati “masa-masa sulit”, terutama di awal keberadaannya. Pernah suatu kali, spanduk dalam iring-iringan Drumblek “disita” aparat karena dianggap terlalu lantang dan kelewat kritis bagi penguasa saat itu. Namun,”tekanan” seperti itu tak menciutkan semangat warga.

Selanjutnya, bergabung dalam grup Drumblek menjadi kebanggaan kolektif bagi warga Pancuran. Pada 1995, dalam karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-50, grup Drumblek Pancuran memecahkan rekor: pesertanya tak kurang dari 500 orang dari berbagai usia.

​Lalu, kita tahu, dalam perjalanannya grup Drumblek tumbuh subur di berbagai sudut kota sebelum akhirnya menjadi ikon Salatiga.

​Didik Ompong sampai kini masih bermukim di Pancuran. Sebelumnya ia pernah meninggalkan Salatiga, berpindah-pindah, antara lain menetap di Yogyakarta, Bandung, dan Ubud, Bali, namun akhirnya kembali ke kampung kelahiran. Perkampungan padat penduduk yang ketika Drumblek lahir tahun 1986 masih “terbelakang”: banyak rumah tak memiliki jamban. Warga menggunakan kalen, saluran air peninggalan kolonial, untuk membuang hajat.

Di tengah lingkungan yang “kumuh” itulah, mata perupa Didik menangkap frekuensi seni yang tak terlihat orang lain.

​Kini badannya kerempeng—khas seniman yang akrab dengan asap tembakau dan doyan begadang. Sorot matanya sedikit redup, tak semenyala dulu saat ia masih menjadi pentolan geng remaja Comor.

​Ia tetap konsisten dan setia menjalani peran yang dipilihnya: perupa, pelukis abstrak. Peran yang memberi warna dalam keindahan Drumblek—ikon Salatiga yang kini siap mendunia.

Presiden dan Ibu Iriana Cek Penyaluran Bantuan Pangan di Kota Salatiga

JAYAKARTA NEWS – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Iriana Joko Widodo berkunjung ke Lapangan Sepak Bola Klumpit Tingkir, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah, pada Senin (22/01/2024) untuk memastikan penyaluran bantuan pangan cadangan beras pemerintah (CBP) telah diterima dengan baik.

“Hari ini adalah hari pertama bantuan pangan kita berikan, ibu-ibu sudah dapat semua yang 10 kilo?” tanya Presiden kepada para penerima manfaat yang hadir.

Kepala Negara mengatakan bahwa bantuan tersebut akan diberikan hingga bulan Maret 2024. Namun, bantuan serupa akan terus diupayakan pemerintah untuk dilanjutkan hingga bulan Juni mendatang sesuai dengan kondisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

“Kita berdoa bersama semoga APBN kita kuat sehingga bisa terus dilakukan,” ungkap Presiden.

Ririn, salah seorang masyarakat yang sehari-hari berjualan kue mengaku sangat bersyukur dengan bantuan tersebut. Meski baru pertama kali mendapatkan, Ririn mengatakan bahwa bantuan tersebut dapat meringankan kebutuhan sehari-hari.

“Alhamdulillah saya bersyukur senang banget diberi bantuan sama Pak Jokowi, karena mengingat sekarang harga beras tinggi jadi sangat membantu untuk anak-anak saya,” ucap Ririn.

Juaeni, seorang petani, juga menyampaikan terima kasih atas bantuan tersebut. Ia berharap bantuan tersebut dapat terus dilanjutkan di masa mendatang.

“Ya mudah-mudahan tetap terus untuk membantu orang yang kekurangan, soalnya kehidupan di desa kan kayak gitu jadi susah sekali. Ini terima kasih bantuan dari pemerintah,” kata Juaeni.

Senada, Harjanti, turut mengapresiasi bantuan pangan yang diberikan pemerintah. Ia pun berharap bantuan tersebut diteruskan untuk meringankan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Baru pertama dapat bantuan, senang untuk mencukupi kebutuhan hidup,” tutur Harjanti.

“Ya terus. (Program ini) sangat sangat membantu,” tandasnya.

Turut mendampingi Presiden dan Ibu Iriana dalam kegiatan ini adalah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Bulog Mokhamad Suyanto⁠, Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana, dan Pj. Wali Kota Salatiga Yasip Khasani.***/mel