Geliat “Shaniqua Bamboo”

MESKI prospek bisnis  furnitur bambu memiliki prospek bagus di pasar ekspor, namun di Indonesia sedikit sekali pemainnya. “Pasar furniture bambu di luar negeri bagus, tapi entah kenapa tidak banyak orang kita yang tertarik,” ucap Khairul Pulungan, pengusaha furnitur bambu.

Mungkin, katanya, karena mengerjakan furniture bambu butuh ketelatenan dan kesabaran tinggi, yang menyebabkan pengusaha menjadi tidak tertarik. “Mengerjakan produk bambu itu memang banyak masalahnya, namun bukan berarti tidak terpecahkan. Asalkan kita mau bersusah-susah dan tekun mencari solusi, pasti bisa. Saya pun menggeluti usaha ini bukannya tanpa masalah, tapi saya konsisten tidak berpindah ke produk lain selain bambu,” katanya.

Bercerita tentang bisnisnya, ia bertutur, tahun 2003 hingga 2008  adalah tahun keemasan baginya. Kala itu Khairul mengaku sempat kewalahan karena banyaknya permintaan dari pasar Eropa. Rata-rata setiap bulan dia mengekspor 15 kontainer  furnitur bambu ke berbagai negara, yang terbanyak adalah Perancis dan Jerman.

“Waktu booming, orderan yang datang melimpah, sampai-sampai kala itu saya punya karyawan 400 orang, hampir semuanya orang Rangkasbitung.  Bagi saya ini sungguh membahagiakan karena selain produk saya digemari juga karena bisa memberi masyarakat setempat lapangan pekerjaan,” ungkap peraih penghargaan ‘Primaniyarta 2013’, penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah  kepada eksportir yang dinilai paling berprestasi di bidang ekspor dan dapat menjadi teladan bagi eksportir lain.

Namun masa keemasan itu terhenti lantaran negara-negara di Uni Eropa terhantam krisis 2008 yang dipicu krisis perekonomian Yunani. “Saat itu banyak buyer saya menghilang. Hanya Jerman yang masih bertahan meski pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” kata pemilik usaha ‘Shaniqua Bamboo’ ini.

Namun sekarang, dia merasa ada perbaikan di Eropa. Hal itu terlihat dari sejumlah buyer yang menghilang,  kini muncul kembali.  “Baru-baru ini buyer lama saya dari Italia datang dan berencana bisnis bambu kembali. Ia bilang kondisi di negaranya sudah membaik,” ungkap Khairul yang kini setiap bulan menangani ekspor ke Jerman dan Perancis. ***

Tusukan Bambu Pulungan

ADALAH Khairul Pulungan, mantan wartawan yang beralih ke bisnis furnitur bambu. Jika dulu ia bekerja menusuk kepincangal lewat tusukan pena, kini ia menusuk pasar Eropa dengan ekspor produk furnitur bambu kreasinya.

“Saya sudah hampir 20 tahun bisnis furnitur bambu, berkali-kali didera krisis ekonomi, bahkan Eropa yang menjadi pasar utama saya pun berkali-kali dihantam krisis, namun usaha saya ini tetap bertahan. Tren memang menurun ketika krisis, tapi masih bisa eksis karena di Eropa, meski krisis, permintaan furnitur bambu Indonesia, tetap tinggi,” ungkap Khairul yang menjalankan bisnis bersama istrinya, Sundari.

Buyer asing, tuturnya, sangat suka produk bambu Indonesia, salah satunya karena aset hingga puluhan tahun, juga harga yang relatif murah. “Mereka paling suka tempat tidur,” ucapnya.

Perjalanan Pulungan menjadi pengusaha furnitur bambu, boleh dibilang tidak sengaja. Sebelumnya lelaki 52 tahun ini adalah wartawan sebuah media cetak nasional.  Kariernya di bidang  jurnalistik lumayan moncer, bahkan dia sempat meraih penghargaan  ‘Adinegoro’, sebuah penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik yang diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia.

Namun ketika terjadi perubahan manajemen di kantornya, ia mengundurkan diri. “Sejak itu saya jadi sering ke kampung istri di Rangkasbitung, Banten. Di sana saya melihat banyak pohon bambu, namun kurang dimanfaatkan, lalu muncul ide membuat furnitur dari bambu,” tutur alumi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, ini.

Berkat ketekunan dan keuletannya, Pulungan berhasil menembus pasar ekspor. Tak tanggung-tanggung,  dia mendapat kontrak pengiriman 11 kontainer furnitur bambu ke Spanyol.

“Itu terjadi tahun 1999, padahal waktu itu saya belum lama menekuni bisnis ini. Nah sejak itu, buyer saya di Eropa terus berkembang. Setiap bulan saya ekspor ke berbagai negara di Eropa, Perancis, Italia, Jerman, Austria, Yunani, dll,” kata Khairul Pulungan yang kini tengah giat mengembangkan ‘rumah bambu’ dan interior bambu. ***