Kepiting Untuk Kelestarian Bakau Enggano

Catatan Perjalanan Egy Massadiah (Bag 3)

JAYAKARTA NEWS – Masih seputar pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Salah satu pulau terluar Indonesia, yang memecut perhatian Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo. Kunjungan empat hari, melahirkan sejumlah gagasan kreatif-inovatif, yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Setelah berbicara tentang potensi wisata berburu bersama Muspika Kecamatan Enggano, para tetua dan tokoh adat, perhatian Doni berikutnya adalah pada hutan mangrove (bakau) yang ada di pulau itu.

Mengendarai sepeda motor trail Kawasaki KLX 150 milik Kodim 0423/Bengkulu Utara, Doni dan rombongan blusukan masuk hutan. Selanjutnya dengan perahu nelayan menyusuri lingkar pesisir pulau nan indah itu.

Doni tampak masih sigap mengendarai sepeda motor off-road yang memiliki tinggi 115 cm itu. Setelah menembus rimba, mereka pun sampai di tepi Danau Bak Blau di Dusun Tiga, Desa Meok. Warna kebiruan sangat jelas terlihat di permukaan danau seluas lebih kurang 500 meter persegi. Orkestra suara burung menyambut kami dalam hening hutan perawan.

Selanjutnya, berjarak satu-dua kedipan mata rombongan bergeser ke sebuah laguna yang damai. Dengan perahu nelayan, kami menyusuri pantai bening ditemani percik ombak cantik. Rimbun hutan bakau purba berukuran raksasa mengapit perjalanan kami. Tinggi bakau mencapai 20 – 30 meter, dengan akar kecil hingga akar besar berdiameter lebih dari 30 cm.

Doni Monardo di pedalaman Enggano. (foto: egy massadiah)

Enggano vs Cilacap

“Jenderal pohon” Doni Monardo tentu saja takjub melihat bakau Enggano. Seketika terlintas di benaknya, suasana yang kontras saat mengunjungi Cilacap, dalam kapasitas sebagai Kepala BNPB Desember 2020. Ia melihat bakau di sana rusak dicuri tangan-tangan tak bertanggung jawab.

“Di Enggano, saya lihat mangrove-nya sangat terjaga. Tolong pak camat, jangan sampai ada warga yang menebang mangrove,” pesan Doni kepada Camat Susanto.

Camat Susanto pun mengisahkan, masyarakatnya sangat menjaga hutan mangrove yang ada. Terlebih setelah tahun 2015 datang tim LIPI ke Enggano yang juga menyampaikan pesan sama seperti yang dikatakan Doni, yakni menjaga keutuhan hutan mangrove.

Ditambah, adanya adat-istiadat warisan nenek-moyang yang memang selaras. Adat Enggano melarang masyarakat menebang pohon bakau serta melarang warga membuka kebun yang berjarak lebih dari 3 km dari badan jalan utama.

Adat lain yang masih dijaga adalah larangan menangkap penyu pada saat pesta pernikahan atau pesta adat. Kesepakatan itu terjaga betul berkat struktur adat yang ada di bawah kendali pemimpin tertinggi suku-suku yang ada, yang disebut Paabuki. Paabuki dipilih oleh para kepala suku untuk masa jabatan 6 tahun.

Ekosistem Mangrove

Jika menelisik dokumen penelitian LIPI di Enggano, bisa kita temukan kajian Ary Prihandyanto Keim. Peneliti LIPI itu mengatakan bahwa ekosistem mangrove merupakan ujung tombak pelestarian Pulau Enggano. Disebutkan pula, jika mangrove rusak, maka keseluruhan ekosistem Pulau Enggano juga akan terganggu.

Selama ini, ekosistem mangrove di pulau Enggano berfungsi menjadi benteng penahan gelombang laut. Luas hutan mangrove keseluruhan lebih dari 1.700 hekatare. Hasil penelitian LIPI tahun 2015 juga sudah menyebutkan kepiting, udang, ikan karang, sebagai bagian dari ekosistem mangrove Enggano.

Karenanya, ketika Doni Monardo menyampaikan rencana budidaya kepiting di hutan bakau Enggano, masyarakat menyambut antusias. “Budidaya kepiting bakau itu segera kita realisasikan,” kata Doni.

Melihat potensi hutan bakau di seluruh Indonesia yang sekitar 3,6 juta hektare, mestinya kepiting bakau bisa menjadi komoditi unggulan Indonesia. “Syaratnya, harus dibudidayakan. Hentikan pengambilan kepiting tanpa diikuti budidaya. Berapa pun banyaknya, kalau tidak dibudidayakan, kepiting akan habis,” tambahnya.

Budidaya kepiting bakau seyogianya dibuat dengan memasang semacam keramba dari jaring dengan kualitas bagus.

Doni juga menyebutkan, kepiting memiliki pola hidup kanibal. Ia mencontohkan, dari 100 benih kepiting, yang berhasil tumbuh hingga layak panen, hanya sekitar 30 persennya saja. “Kita juga harus menjaga agar yang dipanen adalah kepiting jantan dengan ukuran 400 gram,” katanya.

Ke depan, Doni akan melibatkan pakar kepiting. “Nanti akan kita buatkan pola budidaya yang baik dan benar. Termasuk pola pemberian makan. Ketika kepiting masih kecil-kecil, mungkin cukup sekali diberi pakan dalam sehari. Ketika sudah besar, bisa ditambah dua sampai tiga kali pemberian pakan. Makanan yang paling mudah didapat adalah sisa-sisa potongan kepala ikan, atau bagian ikan yang tidak diambil, dicacah-cacah lalu ditebarkan ke keramba,” kata Doni.

Jika semua berlangsung baik, dalam waktu 3 – 4 bulan sudah bisa mulai panen. Kita bisa lihat harga kepiting bakau paling murah Rp 70.000 per kg. Makin besar ukuran, makin mahal, bisa ratusan ribu rupiah per kilogram.

Kalkulasinya sederhana, bahwa bakau adalah habitat yang sangat bagus untuk budidaya kepiting. Karenanya, dalam banyak kesempatan Doni menjadi orang yang paling lantang menentang penebangan bakau.

Muara sungai yang jernih, mengalir di antara rimbunnya hutan bakau. (foto: egy massadiah)

Kepiting Merah dan Selasih

Adalah Petrus Sutarjo, salah satu penggiat udang dan kepiting yang turut serta dalam rombongan Doni Monardo ke Enggano. Petrus tak habis-habis memuji keutuhan hutan bakau di sana, sebagai habitat yang sangat bagus bagi kepiting.

Ihwal gagasan Doni Monardo mengembangkan budidaya kepiting, Petrus sangat setuju. “Dari empat jenis kepiting yang hidup di perairan seluruh Indonesia, dua di antaranya ada di Enggano. Ini potensi yang luar biasa,” ujar Petrus, pembudidaya udang vaname dan ikan bandeng di Saung Naga Soedirman, kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang.

Empat kepiting yang disebut Petrus, pertama adalah kepiting hijau (Jawa). Yang kedua kepiting hitam (Kalimantan dan Papua). Ketiga kepiting merah dan keempat kepiting selasih. “Nah, dua varietas kepiting ada di Enggano, yakni kepiting merah dan selasih,” ujarnya.

Kedua jenis kepiting itu bisa dibilang kepiting unggulan. Menurut Petrus, kepiting merah sangat diminati pasar ekspor. “Permintaan kepiting merah umumnya datang dari China, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Berapa pun produksinya, akan terserap, karena memang permintaan sangat tinggi,” ujarnya.

Sementara, kepiting selasih juga sangat tinggi permintaan pasar, terutama dari para pengusaha restoran seafood. “Jika kita makan kepiting yang ukuran jumbo, ada yang beratnya satu kilo, dua kilo, bahkan lebih, itulah kepiting selasih. Ukurannya jumbo-jumbo,” katanya.

Petrus Sutarjo, melihat langsung potensi Enggano. (foto: egy massadiah)

Karenanya, gagasan Ketua Umum PPAD untuk membudidayakan kepiting di Enggano, dinilai sangat tepat. Enggano memiliki dua varietas kepiting unggulan, alam bakaunya juga masih utuh dan terjaga. “Saya ikut keliling Enggano bersama pak Doni. Wah, hutan bakaunya masih rapat, luar biasa,” kata Petrus.

Hutan bakau adalah habitat terbaik kepiting. Itu artinya, dengan sistem budidaya yang baik, ada harapan produksi kepiting Enggano bisa terjaga bahkan meningkat. “Tidak seperti sekarang, di mana populasi kepiting makin tergerus. Kenapa bisa terjadi? Karena kepiting betina ikut ditangkap dan dijual,” kata Petrus, prihatin.

Petrus mengaku sudah berdialog dengan sekitar 20 pencari kepiting di Enggano. Mereka sendiri yang mengisahkan, sepuluh tahun lalu, dalam satu hari bisa mendapatkan 70 kilogram kepiting. Tapi saat ini, dalam tiga hari mencari kepiting hanya dapat 20 kilogram kepiting.

“Yang lebih mengenaskan, kepiting-kepiting itu dibeli tengkulak dengan harga dua-puluh-ribu rupiah per kilo. Sungguh tragis. Padahal, ekspor kepiting bisa ratusan ribu rupiah per kilogram,” kata Petrus pula.

Petrus optimis dengan rencana program budidaya kepiting di Enggano. Terlebih, Menteri KKP telah mengeluarkan Permen (Peraturan Menteri) yang melarang ekspor kepiting betina. Permen dimaksud adalah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 56/PERMEN-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari wilayah Indonesia.

Permen tadi selain mengatur ukuran karakas (cangkang) yang boleh ditangkap dan diekspor, juga mengatur dengan sangat spesifik mengenai larangan ekspor kepiting bertelur. Dengan menegakkan aturan tersebut, Petrus berharap budidaya kepiting akan sukses. “Yang lebih penting, kita tidak perlu khawatir anak-cucu kita kelak tidak bisa makan kepiting karena punah,” kata Petrus.

Petrus memuji konsep budidaya kepiting di hutan bakau Enggano sebagai konsep brilian. Di mata Petrus, budidaya itu setidaknya akan mendatangkan tiga manfaat sekaligus. Pertama, kesejahteraan bagi petani kepiting. Kedua, keuntungan bagi eksportir kepiting. Ketiga, ekosistem (hutan bakau) terjaga.

Last but not least… jarak Enggano ke Jakarta hanya 500 km. Dekat. Itu jaminan kita mendapatkan kepiting yang masih dalam keadaan hidup. Apalagi kepiting merah dan selasih terkenal memiliki daya hidup tanpa air yang cukup lama,” kata Petrus, senang.

Instrumen Selamat

“Ingat, jangan ada bakau yang ditebang sewenang-wenang, hanya untuk dijadikan arang. Memang arang dari batang bakau disukai karena aromanya harum dan tidak bikin sesak napas. Apinya juga biru, mereka ekspor ke Malaysia dan Timur Tengah. Tapi hutan kita rusak parah akibatnya,” kata Doni.

Karenanya, jika tidak dilakukan gerakan pencegahan penebangan mangrove, serta gerakan penanaman mangrove, Doni khawatir dalam waktu tidak terlalu lama luas hutan mangrove akan terus menyusut.

“Maka sekali lagi saya titip sama pak Camat, jangan sampai ada yang menebang mangrove. Termasuk jangan ada warga yang membangun rumah dengan menggusur serta menimbun hutan bakau,” kata Doni pula.

Hutan bakau di Enggano yang sangat terjaga. (foto: egy massadiah)

Doni tegas mengimbau, jika mendapati ada warganya membangun rumah dengan menimbun bakau, segera hentikan.

“Peran penting bakau di Enggano sejatinya bukan semata-mata untuk budidaya kepiting, ada fungsi yang jauh lebih besar, yakni sebagai instrumen untuk menyelamatkan warga Enggano jika sewaktu-waktu terjadi gelombang tsunami,” ujar Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Doni lantas membuka catatan ihwal posisi Enggano yang terletak pada subduksi Indo-Australia. Batas Samudera Hindia dengan wilayah Asia. Nah, di situ ada subduksi, ada pertemuan lempeng.

Jika pertemuan dua lempeng ini mengalami gesekan, maka akan timbul gempa. Dan biasanya gempa yang ditimbulkan bisa sangat besar, jika itu terjadi setelah sekian lama tidak terjadi gesekan. Istilahnya lepasan energinya sangat besar, bisa mengakibatkan gempa dengan magnitudo hebat seperti yang terjadi di Aceh (2004) dan Nias (2006). “Aceh, Nias, Mentawai, dan Enggano adalah segaris,” kata Doni.

Pertanyaannya, apakah itu mungkin terjadi? “Sangat mungkin. Sekali lagi saya ulangi: Sangat mungkin! Ini ilmu pengetahuan dan bisa dipelajari. Apakah tsunami Aceh 2004 itu yang pertama? Tidak! Itu yang kesekian kalinya. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa tsunami di Aceh sudah pernah terjadi sebelum-sebelumnya,” ujar Doni, yang pada tahun 2019 akhir pernah mengunjungi Gua Ek Leuntie di Aceh Besar, saksi bisu tsunami Aceh sejak 7.400 tahun lalu.

Manusia tidak bisa menghindari takdir, tapi berbekal ilmu pengetahuan, kita bisa membuat perencanaan sedemikian rupa untuk bisa meminimalisir dampak, manakala bencana itu terjadi. Entah kapan. “Dan mangrove itu salah satu benteng terbaik meredam tsunami,” tegas Doni.

Doni juga paham, Enggano memiliki problem infrastruktur, utamanya sarana jalan. Selama ini, Enggano seperti belum tersentuh pembangunan. Tenaga listrik yang terbatas. Sarana transportasi yang juga minim. “Dengan menggarap ekowisata berburu, serta budidaya kepiting bakau, saya harap bisa meningkatkan perekonomian Enggano. Ekonomi akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Doni, optimistis.

Simak terus catatan perjalanan Enggano, karena masih melimpah kisah cerita lainnya yang menginspirasi.

Tabik. (*)

*) Egy Massadiah, wartawan senior, konsultan media, menulis sejumlah buku serta pembina Majalah “Jaga Alam”

Doni Monardo dan Mama Nona Bahas Warisan Baba Akong

JAYAKARTA NEWS – Iring-iringan mobil meninggalkan pusat kota Meumere NTT ke arah barat laut. Angin semilir menyapa dari bibir pantai sepanjang jalan Trans Flores. Hijau savana di bukit pegunungan pada satu sisi, serta biru Laut Flores di sisi yang lain, mengusap lelahnya mata.

Usai menempuh perjalanan sejauh 29 kilometer, mobil melambat di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Berbelok ke kanan memasuki halaman luas sebuah rumah sederhana. Di situlah tinggal Mama Nona, perempuan 71 tahun bernama lengkap Angelina Nona.

Dialah janda mendiang Baba Akong, salah satu “orang besar” di dunia pelestarian alam, yang wafat pada hari Rabu, tanggal 6 Maret 2019, pada usia 71 tahun. Sore itu, Mama Nona bertabur bahagia menerima kunjungan dadakan Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo.

Di antara kesibukan mengkoordinir penanggulangan bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Doni menyempatkan diri menengok warisan almarhum Baba Akong, berupa hutan mangrove yang terhampar di pantai Ndete yang berlokasi persis di belakang rumahnya.

Agaknya, Doni memang selalu merasa mendapat semprotan energi baru saat menyaksikan pohon rimbun, subur atau pohon langka, apa pun jenis pohon itu. Berdiskusi tentang pohon dengan mantan Dan Paspampres ini bisa lupa waktu, karena ia mengenali secara fasih aneka jenis pohon, baik nama, asal bahkan sejarahnya.

Doni Monardo berjalan di hutan mangrove warisan Baba Akong. (foto: apri/BNPB)

Sore itu, Doni menyaksikan satu per satu pohon mangrove (bakau) yang ada di sana, yang tumbuh subur dari jerih payah Baba Akong.

Baba Akong adalah seorang nelayan. Setidaknya, sejak menikahi Angelina Nona pada tahun 1975. Sebelumnya, Baba Akong yang keturunan Cina asal Atambua itu, adalah pedagang di kota Maumere.

Saat jumpa pertama kali dengan Nona, Akong yang bernama asli Viktor Emanuel Rayon adalah seorang kasir di Toko Kalimas, Maumere. “Kebetulan saya sering belanja ke toko dia. Dari situ lama-lama muncul perasaan suka satu sama lain. Tuhan yang mengirim dia menjadi jodoh mama,” ujar Mama Nona.

Usai menikah, Baba Akong tinggal di rumah Mama Nona, dan meninggalkan dunia toko, beralih menjadi nelayan. Pertama-tama, ia membangun kolam ikan bandeng di belakang rumah, yang tidak jauh dari pantai. Baba Akong juga melaut, menjala ikan di Laut Flores bersama para nelayan lain.

Meski perawakannya kecil, Baba Akong dikenal sigap. Tidak heran, jika hasil tangkapan ikan Baba Akong tidak saja cukup untuk makan bersama keluarga, tetapi juga bisa dijual sebagai sumber nafkah.

“Anak kami enam, tiga perempuan, tiga laki-laki,” kata Mama Nona seraya menambahkan, “Puji Tuhan, semua sudah berkeluarga. Saat ini, satu anak laki-laki menemani Mama di sini. Kebetulan ia punya istri orang Jember, Jawa Timur.”

Keluarga ini kemudian dikenal sebagai tokoh pelestari lingkungan, berkat kegigihan Baba Akong menanami kawasan pantai belakang desanya dengan bakau. Tahun 2008, Baba Akong diberi penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Ir Rachmat Witoelar.

Setahun kemudian, 2009, Baba kembali meraih penghargaan Kalpataru kategori yang sama dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Baba pun berkesempatan menginjak karpet merah Istana Negara bersama Angelina Nona, istri yang setia mendampinginya.

Selain Kalpataru, Baba Akong juga meraih penghargaan Film Dokumenter Metro TV Program Presiden “Hijaulah Indonesiaku” berjudul “Prahara Tsunami Bertabur Bakau.” Program itu diikuti 25 peserta dari Sabang sampai Merauke. “Dua kali kami diundang di acara Kick Andy Metro TV,” ujar Mama Nona, mengenang.

Mendiang Baba Akong. Gambar diambil dari tayangan Kick Andy, Metro TV yang kini dijadikan poster dan ditempel di sisi kiri dinding rumahnya di Desa Reroroja, Sikka, NTT.

Baba “Gila”

Ganjaran anugerah serta puja-puji banyak kalangan, bukan datang tiba-tiba. Itu semua terjadi setelah Baba Akong melewati pergulatan panjang. Apa yang ia lakukan, awalnya dicemooh banyak orang, bahkan sempat tidak mendapat dukungan dari istri dan anak-anaknya. Nama Baba Akong pun oleh para tetangga diubah menjadi Baba Gila.

“Itu benar. Jangankan orang-orang, saya sendiri awalnya tidak setuju. Saya bilang, nenek moyang kita tidak pernah menanam bakau. Pohon bakau di pantai itu tumbuh sendiri,” kata Mama Nona.

Itu terjadi awal tahun 1993, tidak lama setelah peristiwa gempa disusul tsunami dahsyat yang terjadi pada 12 Desember 1992. Saat itu, banyak korban meninggal, tidak sedikit warga kehilangan rumah. “Kami selamat, karena langsung lari ke bukit. Tapi rumah kami rata tanah tak ada sisa. Yang tersisa hanya baju yang kami pakai,” kenang Mama Nona, wanita berperawakan mungil tetapi tetap gesit di usia yang ke-71.

Sejak peristiwa itu, banyak tetangga mengungsi dan tidak kembali. Hanya sedikit warga Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda yang kembali dan membangun rumahnya. Memungut yang bisa dipungut, mencari sisa-sisa benda yang bisa dicari. “Baba Akong tidak mau pindah. Ia bilang, rumah kita di sini, dan akan tetap di sini sampai kapan pun,” tutur Mama Nona.

Tiba suatu hari, Baba Akong memanggil Nona, sang istri. “Mama, mari kita pergi cari anakan mangrove.” Mama Nona menolak.

Esok hari, Baba Akong kembali mengajak sang istri mencari bibit mangrove. Kali ini dengan penjelasan, bibir pantai harus ditanam mangrove, tujuannya agar masyarakat pesisir Reroroja bisa selamat jika suatu ketika bencana itu berulang. Mama Nona tetap tidak paham, dan untuk yang kedua kali pula, Mama Nona menolak.

Hari ketiga, Baba Akong –sekali lagi– mengajak sang istri mencari bibit mangrove dan menanamnya di pesisir belakang rumah. Ajakan kali ini rupanya ajakan terakhir. Terbukti, Baba Akong menegaskan, “Kalau mama (tetap) tidak mau, saya akan melakukannya sendiri.”

Mama Nona bergeming. Selangkah tidak bergerak, sejengkal tak beringsut. Toh, Baba Akong tidak marah. Ia hanya ngeloyor keluar rumah, mengambil sekop, memikul karung, dan meninggalkan rumah dan Mama Nona yang terbengong-bengong. “Saya akan melakukannya sendiri,” Mama Nona ingat kalimat suaminya.

Hari kedua, Baba Akong kembali mencari anakan mangrove dan tidak mengajak istrinya. Pagi-pagi, usai sarapan pisang goreng, Baba Akong keluar rumah. Menyambar sekop, karung, ngeloyor ke pantai Ndete, mencari dan mengumpulkan bibit mangrove, lalu menanam di belakang rumah.

Hari ketiga, idem. Mama Nona tidak tega. Ia pun bergegas menyusul. Tidak lupa membawa bekal cemilan dan air putih. “Saya tetap belum paham untuk apa Baba Akong melakukan itu semua. Saya ikut dia karena kasih istri kepada suami,” ujarnya.

Doni Monardo menanam bibit mangrove di pesisir Pantai Ndete, Maumere. Mama Nona menyaksikan dari belakang. (foto: egy massadiah)

Nol Kosong

Hari demi hari, minggu berganti minggu, bahkan bilangan bulan dan tahun berlalu. Tidak ada yang berubah dengan kebiasaan Baba Akong dan istrinya. Menanam dan menanam mangrove. Sepetak demi sepetak, hingga akhirnya berbilang hektar, bahkan puluhan hektar bibit mangrove tertanam.

Ada kalanya, ketika bibit mangrove mulai sulit didapat, Baba Akong tak segan-segan menggunakan hasil keuntungan jualan ikan untuk membeli bibit mangrove di daerah lain.

Doni Monardo pun terkesan dengan kisah yang dituturkan Mama Nona.

“Apa tidak ada yang membantu biaya?” tanya Doni Monardo.

“Tidak ada. Kami sendiri,” jawab Mama Nona.

“Pemerintah Daerah juga tidak membantu?” lanjut Doni.

“Nol kosong,” jawab Mama Nona lugas mengenang peristiwa 20 tahun silam.

“Boleh saya menanam mangrove di sini?” tanya Doni.

Mama Nona mempersilakan, dan meminta tetangga yang datang sore itu segera mengambilkan bibit mangrove. Mama Nona kemudian mengiringi langkah Doni Monardo ke arah ujung luar hutan mangrove. Sebuah jembatan bambu, membelah hutan mangrove yang lebat menjadi jalan menuju pantai.

Sejenak Doni Monardo menebar pandang ke sekeliling, lalu menuju area berlumpur. Ia memungut pelepah kelapa, lalu digunakannya sebagi cetok membuat lubang. Setelah dirasa cukup menggali, Doni meminta satu bibit mangrove, mengepal-ngepalkan tanah lumpur dalam polybag, lalu melepas polybag, dan menanam di lubang yang telah ia buat.

Dengan kedua telapak tangan telanjang, Doni menutup bibit mangrove dengan tanah lumpur di sekitarnya. Usai menanam, sambil berdiri, ia menepuk-nepuk ujung bibit mangrove dengan penuh kasih.

“Tolong dijaga mama, kelak saya akan datang menengok,” kata Doni kepada Mama Nona.

Langkah Doni ini adalah bentuk dukungan terhadap setiap usaha konservasi alam. Sebuah persembahan kepada almarhum Baba Akong.

Penanaman pohon mangrove oleh Baba Akong, terbukti telah mampu menghijaukan kawasan dan kini menjadi warisan membanggakan. Hutan Mangrove Magepanda, sudah menjadi icon Kabupaten Sikka.

Niscaya, kehadirannya akan lestari hingga zaman berganti. Mirip seperti keberadaan Gereja Santo Ignatius Loyola atau Gereja Tua Sikka yang terletak di Kampung Sikka, sebuah desa eksotis di garis pantai selatan Kota Maumere. Gereja itu dibangun oleh pastor berkebangsaan Portugis, JF Engbers D’armanddaville pada 1893.

Pembangunannya dibantu oleh Raja Sikka Joseph Mbako Ximenes da Silva. Bangunan gereja ini merupakan hasil rancangan Pastor Antonius Dijkmans, arsitek yang juga ikut mendesain Gereja Katedral Jakarta.

Begitu bersejarahnya gereja tua tadi, sehingga menarik perhatian mendiang Paus Yohanes Paulus II untuk datang ke Maumere, pada 10 November 1989. Tentu saja, kehadiran Paus Yohanes Paulus II menjadi berkat yang mendatangkan kegembiraan bagi seluruh masyarakat Flores.

Tak ayal, warisan Hutan Mangrove Baba Akong pun demikian. Atas nama pelestarian alam. Atas nama upaya vegetasi serta mitigasi kebencanaan, kerja panjang me-mangrove-kan pantai Ndete oleh Babah Akong adalah sebuah masterpiece warga Sikka.

Di Hutan Mangrove Baba Akong, Doni berpapasan dengan warga yang berhasil menangkap ikan laut, dan langsung membelinya. (foto: apri/BNPB)

Terlebih, berkat mangrove sudah dirasakan masyarakat banyak. Berkat hutan mangrove itu pula, masyarakat kini bisa mendapatkan kepiting, lele laut, dan udang.

Doni juga mengagumi cara pandang Baba Akong terhadap alam. Dalam sebuah wawancara, Baba Akong menyampaikan, “Kita tidak boleh lari dari alam. Kita harus dekat dengan alam. Yang harus kita ubah itu cara kita memperlakukan mereka.”

Doni Monardo sendiri, punya slogan, “Kita jaga alam, alam jaga kita”. Klop.

(Catatan dari Maumere, Egy Massadiah)

SIMAK JUGA VIDEONYA:

https://youtu.be/sZDLHpI-TaY