Penerbitan Visa Pekerja Migran Indonesia ke Turki Membaik, MoU Masih dalam Proses

JAYAKARTA NEWS— Kementerian P2MI terus mengevaluasi perkembangan proses penerbitan visa bagi pekerja migran Indonesia yang akan bekerja di Turki. 

Ia mengatakan, masalah keterlambatan penerbitan visa yang sebelumnya menjadi perhatian bersama mulai menunjukkan perbaikan setelah Pemerintah Turki melakukan penyempurnaan sistem pelayanan.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Christina Aryani, usai mendampingi Menteri P2MI, Mukhtarudin menerima kedatangan Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Republik Turki, Prof. Vedat Isikhan, di Kantor Kementerian P2MI, Jumat (24/7/2026), dilansir Humas KP2MI.

“Sejak pertemuan terakhir kami dengan Duta Besar Turki, mereka telah melakukan berbagai pembenahan, termasuk implementasi sistem baru,” katanya. 

Wamen Christina menyebut, hingga Juli 2026 ada 10.627 pekerja migran Indonesia yang berhasil memperoleh visa. Namun, lanjutnya, angka itu perlu ditingkatkan mengingat jumlah job order yang telah diverifikasi mencapai lebih dari 26 ribu.

Hal itu akan menjadi pembelajaran bagi kedua negara agar proses penerbitan visa ke depan bisa disiapkan jauh lebih awal sehingga kebutuhan pekerja migran Indonesia bisa dipenuhi tepat waktu. 

“Hal ini nantinya juga akan menjadi pembahasan dalam Joint Working Group,” ungkap Christina.

Selain itu Wamen Christina menegaskan, kunjungan Prof. Dr. Vedat Isikhan menjadi momentum penting mempercepat penyelesaian rencana penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang akan menjadi payung hukum penempatan pekerja migran Indonesia di negara tersebut. 

“Kami sangat senang dengan kedatangan Prof. Vedat Isikhan. Beliau juga menyampaikan kunjungan saya ke Turki pada 27 Oktober 2025 menjadi langkah awal yang penting membangun kerja sama ketenagakerjaan antara Indonesia dan Turki,” jelasnya. 

Saat ini, kata Christina, kedua negara tengah fokus menuntaskan sejumlah poin teknis dalam pembahasan MoU, yang juga akan dilakukan dalam waktu dekat guna membahas beberapa pending matters yang masih perlu disepakati. 

“Setelah itu, MoU direncanakan ditandatangani di Turki dan dilanjutkan dengan Joint Working Group Meeting untuk menyepakati action plan sebagai implementasi kerja sama tersebut,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Wamen Christina juga menyampaikan masukan yang diterimanya dari pemberi kerja sektor perhotelan di Turki yang menginginkan pekerja migran Indonesia memiliki kemampuan berbahasa Turki level dasar untuk kebutuhan komunikasi di sektor hospitality. Namun, kata dia, masih sulit menemukan lembaga kursus bahasa Turki di Indonesia saat ini.

“Untungnya masukan tersebut mendapat respons positif dari Direktur Pusat Kebudayaan Turki yang turut mendampingi Menteri Vedat Isikhan, dimana Pemerintah Turki siap mendukung penyelenggaraan pelatihan intensif bahasa Turki selama 15 hari yang dirancang khusus untuk kebutuhan sektor pariwisata dan perhotelan,” katanya.

“Kami menyambut baik tawaran tersebut dan pelatihan bahasa Turki sangat potensial menjadi salah satu yang bisa kita masukkan dalam implementasi MoU nanti. Dengan bekal kemampuan bahasa, pekerja migran Indonesia akan semakin siap memasuki pasar kerja Turki sekaligus memiliki nilai tambah di mata pemberi kerja, khususnya di sektor hospitality,” imbuh Christina Aryani.  (*/di)

Indonesia Siap Jadi Mitra Strategis Penyedia Pekerja Migran untuk Industri Kapal Pesiar Global

JAYAKARTA NEWS— Indonesia siap menjadi mitra strategis memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil bagi industri kapal pesiar global yang terus berkembang. 

Hal itu ditegaskan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, dalam Ambassador’s Dialogue: Unlocking Indonesia’s Potential in Global Cruise Industry Workforce yang berlangsung di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (9/6/2026), dilansir Humas KP2MI.

“Ini menjadi momentum strategis mengingat industri kapal pesiar dunia sedang mengalami pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya armada baru, pembukaan rute pelayaran baru, serta meningkatnya kebutuhan layanan hospitality berkualitas,” katanya. 

Kondisi itu, kata dia, membuka peluang besar bagi pekerja migran Indonesia berkiprah di pasar kerja internasional dan Indonesia siap menjawab kebutuhan tersebut. 

Apalagi sebagai salah satu negara dengan bonus demografi terbesar di dunia, Indonesia memiliki tenaga kerja muda, produktif, dinamis, dengan potensi besar untuk berkontribusi di pasar tenaga kerja global. 

“Pekerja migran Indonesia selama ini dikenal memiliki keunggulan yang menjadi nilai tambah di sektor jasa internasional, seperti keramahan, kedisiplinan yang berorientasi pelayanan, serta kemampuan bekerja secara efektif dalam lingkungan multikultural,” ungkap Christina. 

Dengan pengalaman Indonesia di sektor pariwisata, hospitality, dan maritim, Wamen P2MI yakin Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memperluas peran dan kontribusinya dalam industri kapal pesiar global. 

Bahkan, lanjut dia, berdasarkan informasi yang ia peroleh dari Duta Besar Italia, saat ini sekitar hampir 4.800 pekerja migran Indonesia bekerja di sektor kapal pesiar di negara itu. 

“Salah satu tantangan adalah penguatan kemampuan Bahasa Inggris, serta persiapan talenta untuk mengisi posisi yang lebih tinggi seperti level supervisor hingga manajerial yang membutuhkan kompetensi teknis, pengalaman profesional, kapasitas kepemimpinan, dan sertifikasi yang diakui secara global,” jelas Christina. 

Kementerian P2MI juga terus memperkuat kualitas dan perlindungan pekerja migran melalui peningkatan pendidikan vokasi berstandar internasional, peningkatan kompetensi bahasa dan profesi, serta perluasan akses sertifikasi internasional. Termasuk pembangunan kemitraan yang lebih kuat dengan industri kapal pesiar dan negara tujuan penempatan.

“Kami juga punya Migrant Center sebagai Global Talent Development Hub yang mengintegrasikan identifikasi talenta, pelatihan vokasi, sertifikasi, job matching, informasi migrasi, perlindungan pekerja, hingga intelijen pasar kerja dalam satu ekosistem terpadu,” ujar Christina. 

Saat ini, Kementerian P2MI telah mengembangkan 23 Migrant Center di berbagai daerah untuk mendukung pengembangan talenta global Indonesia.

“Melalui forum dialog ini, kami mengajak para duta besar, mitra internasional, dan pelaku industri kapal pesiar untuk memperkuat kerja sama dalam pengembangan kurikulum, program pelatihan, magang internasional, sertifikasi, rekrutmen tenaga kerja terampil Indonesia, hingga investasi pada fasilitas pelatihan berkelas dunia,” katanya. 

“Lewat Migrant Center dan kemitraan internasional yang kuat, Indonesia siap berkontribusi dalam membangun tenaga kerja kapal pesiar masa depan yang kompeten, profesional, tangguh, dan berdaya saing global,” imbuh Christina Aryani. (*/di)