BPBD Jatim Fasilitasi Cek Kesehatan Para Relawan Bencana

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS —Keberadaan relawan selama ini kerap menjadi garda terdepan dalam setiap upaya penanggulangan bencana. Salah satunya, seperti, dalam penanganan Karhutla di Gunung Bromo dan penanganan dampak gempa di Flores NTT yang masih berlangsung saat ini.

Karena itulah, sebagai bentuk perhatian atas kesehatan para relawan, selama tiga hari ini, 19-21 Agustus 2026, BPBD Jatim berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Chiba Institute of Science (CIS) Jepang dan Univ. Budi Luhur  memberikan pelayanan kesehatan kepada para relawan di Jatim.

Pelayanan cek kesehatan yang diikuti 200 relawan kebencanaan se-Jatim ini dilangsungka di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, dengan diawali seremoni pembukaan, Rabu (19/8).

Hadir dalam pembukaan ini, Koordinator Tim CIS Jepang, Prof Ryo Tanaka, peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Ma’mun Nuryana dan perwakilan dari Univ. Budi Luhur.

Sedang, mewakili Kalaksa BPBD Jatim, Sekretaris BPBD Jatim Andhika N Sudigda dan Kabid PK BPBD Jatim, Deni Kiki Melia Tamara.

Prof Ryo Tanaka dengan didampingi Ma’mun Nuryana mengatakan, tujuan kehadiran mereka di Jatim untuk melakukan cek kesehatan kepada para relawan bencana di Jatim.

Baginya, cek kesehatan ini penting karena relawan yang selama ini terlibat dalam penanganan bencana, kerap kurang memperhatikan kesehatan mereka yang disebabkan karena kurangnya waktu istirahat, terlambat makan dan beban aktivitas yang berlebihan.

“Kita akan melakukan cek kesehatan, baik fisik maupun mental. Karena beban kerjaan yang berat kadang juga berdampak pada psikologis seseorang,” terangnya.

Sementara, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto yang turut hadir menyapa tim Jepang dan para relawan, menyampaikan terimakasih atas kolaborasinya kali ini.

Kolaborasi ini, menurutnya, bukanlah yang pertama, namun sudah yang kesekian kali karena potensi bencana di Jatim memang sangat beragam. Hanya saja, fokus kali ini pada pemeriksaan kesehatan relawan.

Baginya, layanan cek kesehatan ini juga penting, mengingat aktivitas para relawan di lapangan cukup berisiko karena berbagai faktor, termasuk kelelahan.

“Selain dampak fisik, tentu juga ada dampak psikologis akibat padatnya  aktivitas mereka, dan beban hidup keluarga yang kerap mereka tinggalkan,” ujarnya.

Harapannya, dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini, akan ada kajian yang bisa menjadi rekomendasi atas kesehatan para relawan, sekaligus menjadi upaya pencegahan terhadap dampak yang tidak diinginkan.***poedji

Gempa NTT, Pemprov Jatim Kirim Personel BPBD ke Lokasi Kejadian

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu pagi (15/8/2026) memantik keprihatinan dari  berbagai kalangan, termasuk Pemprov Jatim.

Sebagai wujud kepedulian atas kejadian itu, Pemprov Jatim melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim langsung memberangkatkan sejumlah personel Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi kejadian, Minggu (16/8) pagi.

Pelepasan Tim Advance ini dipimpin langsung oleh Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, dengan didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik Satriyo Nurseno, di halaman Kantor BPBD Jatim, Sabtu malam (15/8).

Persiapan petugas BPBD Jatim menuju lokasi gempa di NTT Minggu pagi (foto: poedji)

“Sebagaimana arahan Ibu Gubernur,  sebagai sikap Jawa Timur atas kejadian gempa yang menimpa saudara kita di NTT, kita akan memberangkatkan 7 orang ke lokasi kejadian, dengan spesifikasi pencarian pertolongan. Rencananya, mereka akan berangkat besok pagi,” ujarnya.

Selain membantu penanganan bencana di lokasi kejadian, Tim BPBD Jatim akan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan melakukan assessment terhadap kebutuhan bantuan yang mendesak bagi para korban.

Guna mengantisipasi gangguan dampak komunikasi di wilayah terdampak, Tim BPBD Jatim juga melengkapi sarana prasarana tim dengan peralatan komunikasi beserta dukungan jaringannya, guna memastikan kelancaran koordinasi dan pertukaran informasi antara posko dan tim di lapangan.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan anggota Mitra Praja Utama (MPU) yang berjumlah 9 provinsi untuk membantu penanganan dampak gempa yang terjadi disana,” imbuh Kalaksa Gatot Soebroto.

Seperti yang diketahui, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 telah terjadi di NTT, Sabtu pagi, tepatnya, berada di 37 km sebelah utara Mbay Nagekeo, pada pukul 04:58:24 WIB di Lintang 8.35 LS, Bujur 121.37 BT, dengan kedalaman 10 Km.

Berdasar data BMKG hingga Sabtu pukul 23.00 WIB, gempa berpotensi tsunami ini juga diikuti gempa susulan sebanyak 512 kali dengan gempa terbesar berkekuatan magnitudo 6,2 dan gempa terkecil berkekuatan magnitudo 1,9.***poedji

Jadi Percontohan Nasional, Kalaksa BPBD Jatim Jadi Pemateri Best Practices Rakortek PB 2026

BOGOR, JAYAKARTA NEWS —– Beragam inovasi yang telah dihadirkan BPBD Jatim dalam upaya meningkatkan kapasitas kerjanya selama ini ternyata memantik perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Karenanya, saat gelaran Rapat Koordinasi Teknis Penanggulangan Bencana (Rakortek PB) di Kota Bogor, Jawa Barat, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto SE, M.PSDM didaulat menjadi pemateri Best Practices terkait upaya peningkatan kapasitas daerah dalam penanganan bencana.

Di hadapan peserta Rakortek PB yang berunsurkan BPBD, Bappeda provinsi se-Indonesia dan sejumlah unit kerja di lingkungan BNPB, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto memaparkan sejumlah program inovatif yang telah dihadirkan BPBD Jatim, mulai dari Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Bidang Kedaruratan dan Logistik, hingga Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi.

Sejumlah inovasi yang dipaparkan itu di antaranya, adalah Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina) dengan ragam pelayanannya, seperti,  simulator gempabumi, Virtual Reality (VR) pemadam api, dan area pelatihan kebencanaan.

Selain itu, dipaparkan juga, Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena) dengan jangkauan pelayanannya hingga ke pelosok desa, dan mobil command center ‘BPBD One’ dengan fasilitas isinya yang sangat mendukung saat kegiatan tanggap darurat.

“Sebagai landasan operasional kerja, kami juga telah memiliki Perda baru, yakni, Perda PB Nomor 1 tahun 2026 sebagai revisi dari Perda nomor 3 tahun 2010. Perda ini kami buat untuk menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang baru, termasuk sebagai upaya penguatan kelembagaan,” terangnya.

Dengan adanya Perda ini, BPBD Jatim kini bisa melaksanakan kegiatan rehabilitasi terhadap infrastruktur yang terdampak bencana dengan cepat, seperti, perbaikan gedung sekolah, jembatan, kantor pemerintahan, dan rumah-rumah masyarakat.

Sementara, BNPB selaku penyelenggara Rakortek PB menilai, sesi Best Practices yang dihadirkan di awal kegiatan ini menjadi penting untuk mendorong pembelajaran antardaerah, sekaligus mengidentifikasi praktik baik yang dapat direplikasi sesuai karakteristik risiko masing-masing wilayah.

Rakortek PB 2026 yang berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 ini juga diharapkan menjadi forum strategis untuk memperkuat sinkronisasi program penanggulangan bencana antara pemerintah pusat dan daerah, serta mendorong pencapaian Indeks Ketahanan Daerah (IKD).***poedji

Simulasi Gempa Bumi dan Kebakaran di RSUD Dr Soetomo Diikuti 250 Pegawai

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Masih ingat dengan insiden kebakaran yang terjadi di lantai 5 Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo, medio Mei silam?

Berpijak dari kejadian itu, Jumat (31/7/2026), jajaran RSUD dr Soetomo berkolaborasi dengan BPBD Jatim, BPBD Kota Surabaya dan Damkar Kota Surabaya menggelar Simulasi Bencana Gempa Bumi dan Kebakaran (Disaster and Fire Drill) di area kerjanya.

Simulasi yang diikuti sekitar 250 pegawai dari berbagai profesi ini dipusatkan di empat lokasi, yakni, lantai 5 dan 6 Gedung Pusat Diagnosis Terpadu (GPDT) dan lantai 5 dan 6 Gedung Onkologi.

Hadir dan turut menyaksikan langsung kegiatan ini, Direktur Utama RSUD Dr Soetomo Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Wadir Umum & Operasional Tjipto Prasetyo Nugroho, Wadir Perencanaan & Keuangan Primada Kusumaninggar, dan Wadir Pendidikan & SDM, Damayanti Tinduh.

Sementara, tampil sebagai Incident Commander (IC) Simulasi ini, Wadir Pelayanan Medis dan Keperawatan, Prof Dr Ahmad Suryawan.

Hadir pula mewakili Kalaksa BPBD Jatim, Ketua Tim Pencegahan BPBD Jatim Dadang Iqwandi, Tenaga Ahli Senior Fire Protection Engineer, Setiabudi Anurcahya, Tim BPBD Kota Surabaya dan Tim Damkar Kota Surabaya.

Selama proses simulasi, para pegawai RSUD dr Soetomo terlihat begitu antusias menjalani skenario, dengan berbagai tugas yang telah diberikan saat gladi ruang atau Gladi Table Top Exercise (TTX), di Hall GPDT Lantai 7, Kamis (29/7).

Dirut RSUD dr Soetomo Prof Cita pun mengapresiasi keseriusan dan semangat para karyawannya dalam giat simulasi ini.

Baginya, simulasi gempa bumi dan kebakaran ini penting dilakukan sebagai upaya kesiapsiagaan dan pencegahan di instansi-instansi pelayanan seperti di RSUD Dr Soetomo.

“Karena dimana-mana, prefensi itu lebih penting dari pada mengobati. Saya ingin semuanya bisa menanamkan ingatan pada benak masing-masing, bahwa dengan pelatihan yang serius, jika suatu saat ada kejadian beneran, kita benar-benar sudah siap,” pesannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat mendukung simulasi ini, mulai dari BPBD Jatim, BPBD Kota Surabaya, Damkar Surabaya, hingga Polsek dan Koramil setempat.

Dadang Iqwandi, mewakili Kalaksa BPBD Jatim juga mengapresiasi semangat dan antusiasme pegawai RSUD Dr Soetomo dalam simulasi gempa bumi dan kebakaran ini.

Baginya, proses simulasi yang diawali dengan beberapa kali ini pertemuan dan gladi TTX ini telah berlangsung cukup baik.

“Di akhir simulasi memang ada beberapa evaluasi. Namun dengan evaluasi itu akan membuat kegiatan ini semakin baik pada tahap-tahap berikutnya,” ujarnya.

Ia pun berharap, dengan simulasi evakuasi gempa bumi dan kebakaran ini, kapasitas kebencanaan di lingkungan RSUD Dr Soetomo bisa semakin meningkat.

“Jadi, kalau misalnya terjadi insiden betulan, kami yakin mereka sudah semakin siap,” yakinnya.***poedji

BPBD Jember Juara Umum Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana Jatim 2026

PACITAN, JAYAKARTA NEWS—Semarak Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana (PB) tahun 2026 yang dihelat di Pantai Pancer Door Pacitan, resmi ditutup, Kamis malam (23/7/2026).

Penutupan ajang ketangguhan bagi BPBD Kabupaten/Kota se-Jatim ini ditandai dengan kegiatan malam puncak yang disemarakkan dengan pembagian hadiah berbagai lomba dan panggung hiburan oleh Roy Jeconiah Boomerang dan Rina Aditama, penyanyi asal Pacitan.

Dalam penutupan ini, juga diserahkan penghargaan kepada Kabupaten Pacitan atas dedikasinya sebagai tuan rumah Gelar Peralatan PB tahun 2026. Penghargaan ini diserahkan Asisten Administrasi Umum Pemprov Jatim Heru Wahono Santoso kepada Sekda Kabupaten Pacitan, didampingi Kalaksa BPBD Kabupaten Pacitan.

Sedang, juara umum dalam ajang kompetisi ketangguhan Jatim tahun ini diraih BPBD Kabupaten Jember. Penyerahan penghargaan ini diterima langsung oleh Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto dalam sambutannya, menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pacitan yang telah menyambut dengan baik segenap peserta Gelar Peralatan PB dari BPBD Kabupaten/Kota se-Jatim.

Ia juga mengapresiasi semangat kolaborasi semua tim dalam kompetisi ketangguhan selama kegiatan berlangsung.

“Kami berharap, sinergi dan kolaborasi antar-daerah yang telah dibangun disini tidak berhenti pada malam ini saja. Tapi juga berlanjut pada kegiatan semua tahapan penanggulangan bencana, yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Asisten Administrasi Umum Pemprov Jatim Heru Wahono Santoso mewakili Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, juga menyampaikan apresiasi kepada segenap peserta dari BPBD kabupaten/kota, jajaran kementerian dan lembaga, segenap unsur penthaheliks, dan utamanya kepada BPBD Jatim dan pemerintah Kabupaten Pacitan atas dukungan dalam penyelenggaraan gelar peralatan PB tahun ini.

Ia lalu menegaskan, keberhasilan gelar peralatan ini sejatinya tidak ditentukan dari kemeriahan acara, namun dari seberapa jauh pengetahuan yang didapat, keterampilan yang diperoleh dan kolaborasi yang dibangun untuk diterapkan di masing-masing daerah.

“Karena di balik setiap latihan, ada kesiapan yang dibangun. Di balik setiap simulasi, ada keterampilan yang diasah. Di balik peralatan yang diuji, ada keselamatan masyarakat yang harus dijaga, dan di setiap kolaborasi yang dibangun, ada harapan masyarakat yang harus kita jawab,” terangnya.

Sebab, menurutnya, saat ini potensi bencana di Jatim selalu berkembang. Karenanya, ia berpesan kepada semua jajaran BPBD se-Jatim untuk terus meningkatkan kapasitas kesiapsiagaannya dengan membangun personel yang kompeten, peralatan yang siap, data dan informasi yang akurat, sistem logistik yang andal dan kolaborasi antar-daerah yang kuat.

“Selamat untuk para juara, semoga dari prestasi yang diraih, lahir inovasi-inovasi baru dalam upaya penanggulangan bencana di masing-masing daerah, dan kegiatan ini mampu memperkuat jejaring kerjasama antar daerah hingga terwujud komitmen kuat untuk melindungi masyarakat dari potensi ancaman bencana,” pungkasnya.

Sementara, di kesempatan malam puncak ini juga diserahkan hadiah berbagai lomba yang dilangsungkan selama kegiatan.

Adapun hasil pelaksanaan kegiatan lomba Gelar Peralatan PB 2026 adalah sebagai berikut:

▪️︎ Juara Umum: BPBD Kab. Jember

▪️︎ Lomba Manajemen Pergudangan

– Juara 1, Kab. Jember

– Juara 2, Kab. Bojonegoro

– Juara 3, Kab. Malang

▪️︎ Lomba Manajemen Pusdalops

– Juara 1, Kota Batu

– Juara 2,  Kab. Pacitan

– Juara 3,  Kab. Kediri

▪️︎ Lomba Cerdas Cermat

– Juara 1, Kab. Bondowoso

– Juara 2, Kab. Blitar

– Juara 3, Kota Pasuruan

▪️︎ Lomba Resilience Marathon

– Juara 1, Kab. Jombang

– Juara 2, Kab. Jember

– Juara 3, Kab. Nganjuk

Semua penghargaan juara diserahkan kepada perwakilan BPBD masing-masing daerah oleh Kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim yang hadir dalam kegiatan malam puncak.***poedji

Perkuat Kelembagaan, BPBD Jatim Gandeng FPRB dan Konsolidasikan Forum PRB Kab/Kota

MADIUN, JAYAKARTA NEWS–Keberadaan relawan kebencanaan yang tergabung dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) saat ini semakin diperkuat eksistensinya menyusul terbitnya Perda Jatim Nomor 1 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Perda nomor 3 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana.

Berkaitan dengan itu, dalam beberapa waktu terakhir, BPBD Jatim berkolaborasi dengan FPRB Jatim dan SIAP SIAGA melakukan konsolidasi dan penguatan kelembagaan terhadap FPRB Kabupaten/kota se-Jatim.

Kegiatan konsolidasi ini dilakukan secara maraton di lima Bakorwil se-Jatim, mulai dari Bakorwil Malang, Jember, dan Madiun, serta akan berlanjut di Bakorwil Pamekasan Bojonegoro.

Khusus di wilayah Bakorwil Madiun,  kegiatan ini dilaksanakan Kamis (21/5/2026), dengan dihadiri langsung Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, Kepala Bakorwil Madiun Heru Wahono Santoso, Sekjen FPRB Jatim Catur Sudarmanto dan Perwakilan SIAP SIAGA.

Dalam sambutannya, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menegaskan, keberadaan relawan bencana saat ini sangat penting dan semakin kuat secara hukum, menyusul telah terbitnya revisi Perda Jatim nomor 1 Tahun 2026 Penanggulangan Bencana.

Dengan adanya Perda ini, maka Forum PRB yang anggotanya terdiri dari berbagai unsur penthahelix, berkolaborasi dengan BPBD perlu melakukan konsolidasi, penguatan kelembagaan di masing-masing daerah.

“Dengan konsolidasi ini, FPRB Kabupaten/kota yang terdiri dari berbagai unsur, seperti, relawan, akademisi, kelompok dunia usaha dan kalangan media, melakukan diskusi bersama BPBD untuk penguatan kelembagaan, guna melakukan pengurangan potensi bencana di masing-masing daerah,” terangnya.

Kepala Bakorwil Madiun Heru Wahono Santoso dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih kepada BPBD Jatim yang telah memfasilitasi pertemuan FPRB dan BPBD kabupaten/kota di wilayah koordinasinya.

Baginya, konsolidasi ini penting mengingat banyak daerah di wilayah koordinasinya yang menjadi langganan bencana, seperti, banjir, longsor, angin puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan.

“Dengan keterlibatan semua unsur penthahelix, termasuk akademisi, semoga ada kajian untuk daerah-daerah yang rawan bencana, sehingga dampaknya bisa diminimalisir,” harapnya.

Sekjen FPRB Jatim Catur Sudarmanto juga menyampaikan terima kasih kepada BPBD Jatim dan segenap mitra kerja atas dukungannya dalam kegiatan konsolidasi FPRB kabupaten/kota se-Jatim ini.

Menurutnya, dari 38 kabupaten/kota di Jatim, saat ini tersisa 3 daerah yang kelembagaan FPRB-nya secara administratif belum masuk dalam database FPRB Jatim, yakni, Kabupaten Sumenep, Kota Surabaya dan Kabupaten Ngawi.

“Dengan konsolidasi ini, kita ingin kelembagaan dan kepengurusan FPRB di daerah terdata secara riil dan update. Ini penting, karena saat ini kelembagaan FPRB telah difasilitasi dalam Perda baru, nomor 1 tahun 2026 tentang Penanggulangan Bencana,” ujarnya.

Sementara, Ketua FPRB Kabupaten Ponorogo Muhamad Kujaeny mengaku senang dengan forum konsolidasi yang dilaksanakan FPRB Jatim berkolaborasi dengan BPBD dan Siap Siaga.

Baginya, berbagai permasalahan di daerah, baik terkait kelembagaan, kepengurusan hingga anggaran bisa tersampaikan dalam forum ini.

“Alhamdulillah, kalau FPRB Ponorogo, kami selalu berkolaborasi dengan BPBD dan berbagai elemen yang ada, termasuk lembaga dan ormas di daerah. Setiap tahun, kami juga melaksanakan kegiatan minimal dua kali dalam setahun. Bagi kami, kegiatan konsolidasi seperti ini perlu terus dilakukan, apalagi menjelang Mubes FPRB Jatim,” imbuhnya.***poedji

Cuaca Ekstrem, BPBD Jatim Gerak Cepat Mengecek Kondisi EWS di Daerah

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS–Selain menyiagakan personel, maraknya kejadian bencana pada musim cuaca ekstrem saat ini juga direspons BPBD Jatim dengan memperkuat langkah kesiapsiagaan melalui pengecekan kondisi peralatan Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai daerah di Jatim.

Dalam sepekan ini, kegiatan pengecekan EWS dimulai dari  Kabupaten Banyuwangi, tepatnya EWS sirine tsunami di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan Kec. Pesanggaran, mulai Senin (2/3) lalu hingga kini memyasar sampai ke daerah lain .

Kegiatan ini berlanjut ke Kabupaten Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga ke Pacitan.

Rencananya, sebanyak 71 EWS yang meliputi EWS banjir di 27 titik, EWS longsor di 27 titik dan sirine tsunami di 17 titik, akan dilakukan pengecekan, untuk memastikan kondisi fisik dan fungsinya bagi peringatan dini masyarakat sekitar.

H. Abdul Ghafur, Kades Klungkung Kec. Sukorambi, Kab. Jember saat ditemui Tim BPBD Jatim di kantornya, Selasa (3/3), mengaku sangat terbantu dengan keberadaan EWS banjir di wilayahnya.

Sebab, sekitar 800 KK warganya yang berada di dua dusun di desanya sering mendapat peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat debit air sungai di wilayahnya mulai meningkat.

“Kebetulan warga desa kami masih banyak yang sering mandi di sungai, meski mereka sudah punya kamar mandi di rumah. Mereka sering menerima peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat air mulai naik,” terangnya.

Manfaat lain keberadaan EWS juga disampaikan Candra Kristianto, perangkat Desa Kandangan Kec. Pesanggaran Banyuwangi yang ketempatan EWS longsor.

Adanya EWS yang berlokasi di kaki bukit Kelopo Kembar, menurutnya, bisa menjadi upaya deteksi dini bagi warga sekitar saat akan terjadi longsor.

“Sudah beberapa kali kami coba, suara alarmnya cukup keras, terdengar hingga di perempatan jalan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer,” terangnya kepada Tim BPBD Jatim.

Heri, warga Desa Mojomulyo Kec. Puger Jember juga memberikan pernyataan yang senada untuk kebermanfaat EWS tsunami di wilayahnya.

Selain keberadaan sirine, speaker ujicoba EWS, menurutnya, juga sangat bermanfaat untuk woro-woro bagi pengunjung pantai yang banyak berwisata di kawasan Pantai Cemara di sekitar lokasi EWS.

“Speaker itu biasa kami gunakan untuk memberikan peringatan kewaspadaan kepada para pengunjung yang biasa datang bersama anak-anak, agar tidak lengah memantau anak-anaknya yang saat bermain di pantai,” ujarnya.

Sementara, Kabid PK BPBD Lumajang Sultan Syafaat yang turut dalam pengecekan EWS menjelaskan adanya 4 EWS BPBD Jatim yang berlokasi di Lumajang, yakni, EWS banjir, longsor dan sirine tsunami.

Menurutnya,  keberadaan EWS ini sangat penting untuk deteksi dan peringatan dini kepada masyarakat yang ada di kawasan rawan bencana.

“Yang dibutuhkan EWS ini adalah pemeliharaan dan pengecekan secara berkala seperti saat ini. Saya kira yang perlu terus dilakukan,” sarannya.

Terpisah, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menegaskan, sepanjang cuaca ekstrem yang terjadi di Jatim saat ini, pihaknya terus meminta dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kewaspadaannya, utamanya yang ada di daerah kawasan rawan bencana, baik banjir, longsor maupun tsunami.

“Selain masyarakat yang harus meningkatkan kewaspadaannya, peralatan EWS juga kami chek kondisinya dan personel BPBD juga kami tingkatkan kesiagaannya,” terangnya.

Ia pun berharap, sepanjang cuaca ekstrem yang masih berlangsung saat ini, masyarakat, relawan dan personel BPBD di kabupaten/kota bisa terus berkolaborasi meningkatkan kesiapsiagaannya guna mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi.

“Sebetulnya, perkembangan EWS di Jatim ini bisa kami pantau lewat dashboard di kantor. Namun, pengecekan langsung ke lapangan juga perlu dilakukan, agar kami bisa mengetahui kondisi riil EWS di lokasi, supaya bisa menjadi alat deteksi dini bagi masyarakat sekitar jika terjadi bencana,” pungkasnya.***poedji

100 Anggota BKOW Belajar Penanganan Kebencanaan di Kantor BPBD Jatim 

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Cuaca ekstrem dan maraknya bencana dalam beberapa waktu ini, membuat BPBD Jatim terus mengintensifkan upaya penguatan kapasitas kebencanaan pada semua kalangan.

Kali ini badan tersebut menyasar ke organisasi wanita yang ada di Jatim dengan mewujudkan kegiatan Sosialisasi Penanggulangan Bencana bersama Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Jatim.

Acara itu sendiri dilaksanakanang di area Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, Rabu (28/1/2026).

Sedikitnya, 100 anggota BKOW yang mewakili 52 organisasi wanita di Jatim hadir dalam kegiatan yang bertema ‘Peran Perempuan dalam Keluarga Tangguh Menghadapi Bencana Hidrometeorologi’.

Ketua Umum BKOW Jatim Gardjati Heru Tjahjono membuka langsung kegiatan ini usai sambutan selamat datang Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto.

Dalam sambutannya, Kalaksa Gatot Soebroto menyampaikan terima kasih atas kolaborasinya dalam upaya pengenalan penanganan bencana di lingkungan anggota BKOW Jatim.

Dikatakan, selama ini, BPBD Jatim, telah melakukan upaya peningkatan kapasitas kebencanaan melalui sarana edukasi yang dimiliki, baik dengan kunjungan di Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim maupun dengan mendatangi instansi, sekolah dan komunitas masyarakat di daerah-daerah melalui Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena).

Gatot mengaku bangga dan berterimakasih atas kunjungan hari ini. Kalau misalnya, sekolah atau organisasi ibu-ibu ada yang berkenan mengikuti pelatihan kebencanaan disini, pihaknya sangat senang. “Karena bencana itu bukan urusan BPBD saja, tapi urusan bersama, termasuk ibu-ibu semua,” terangnya.

Sementara, Ketua Umum BKOW Jatim Gardjati Heru Tjahjono juga menyampaikan terima kasih dan senang atas fasilitasi dan pembelajaran kebencanaan yang diberikan, seperti, penanganan gawat darurat pada bayi, penanganan kebakaran, banjir, gempa bumi dan pengenalan bencana hidrometeorologi lainnya.

“Alhamdulillah, kami akhirnya tahu banyak hal dari proses edukasi dan peragaan yang disampaikan Tim BPBD Jatim. Saya kira ini sangat bermanfaat sekali bagi ibu-ibu, khususnya bagi keluarga masing-masing,” ujarnya.

Selain mengunjungi Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina) dan Simulator Gempa Bumi, anggota BKOW juga mendapat pengenalan tentang upaya pemadaman kebakaran dan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) pada bayi.

Dalam kesempatan ini, juga dilangsungkan penyerahan 130 bibit pohon produktif kepada BKOW Jatim,  sebagai upaya mitigasi lingkungan di kalangan organisasi-organisasi wanita se-Jatim.***poedji

Komisi VIII DPR RI Apresiasi Sarana Edukasi Bencana dan Kendaraan Command Center BPBD Jatim

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Guna meninjau upaya kesiapsiagaan Provinsi Jawa Timur dalam penanganan bencana di masa cuaca ekstrem ini, Komisi VIII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Kantor BPBD Jatim, Kamis (22/1/2026).

Kunjungan yang dipimpin anggota DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana ini diikuti sejumlah anggota DPR RI Dapil Jatim, seperti, Haeny Relawati (Golkar), Guntur Sasono (Demokrat), H. Ansari (PDIP), Endro Hermono (Gerindra), H. An’im Falachudin (PKB) dan Syaiful Nuri (PAN).

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto bersama jajaran pejabat eselon III di lingkungan BPBD Jatim menyambut langsung kunjungan kerja teraebut.

Turut hadir juga, Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Agus Riyanto, Dirjen Linjamsos Kemensos RI Agus Zainal Arifin dan perwakilan Dinsos Jatim.

Kunjungan diawali dengan peninjauan fasilitas edukasi bencana dan peralatan kebencanaan BPBD Jatim, seperti, Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena), Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina), Simulator Gempa Bumi dan Kendaraan Command Center BPBD One.

Di sela kunjungan di Taman Edukasi Bencana, anggota Komisi VIII DPR RI juga turut mengikuti pembelajaran kebencanaan siswa KB-TK Permata Sunnah Sidoarjo yang berkunjung ke BPBD Jatim.

Usai mengunjungi Pusdalops PB, anggota legislatif ini lalu sharing masalah kebencanaan, mulai upaya kesiapsiagaan dan penanganan darurat kebencanaan yang telah dilakukan Jawa Timur di masa cuaca ekstrem ini.

Ketua Tim Kunjungan Komisi VIII DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, usai melakukan kunjungan ini mengapresiasi berbagai upaya kesiapsiagaan yang telah dilakukan Jawa Timur, baik mulai dari fasilitas edukasi bencana, kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat hingga kelengkapan peralatan dan sarana prasarana yang dimiliki BPBD Jatim.

Lebih lagi, sejumlah sarana prasarana seperti Tenda Pendidikan Bencana dan Kendaraan Command Center hanya dimiliki Jawa Timur saja.

“Apa yang telah dilakukan Jawa Timur  ini harus menjadi percontohan bagi provinsi yang lain, agar penanganan bencana secara nasional semakin kuat. Karena saat ini, kejadian bencana di daerah-daerah semakin meningkat,” ujarnya.

Anggota DPR RI, Haeny Relawati juga menyampaikan senada. Ia memuji keberadaan kendaraan Command Center BPBD One yang hanya dimiliki BPBD Jatim. Bahkan, ia mengusulkan perlunya penambahan mobile command center itu untuk daerah rawan bencana.

“Mobile command center BPBD Jatim ini satu-satunya di Indonesia yang dibiaya APBD Provinsi. Kami menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Jatim Ibu Khofifah Indar Parawansa atas fasilitasi ini,” ujarnya.

Sementara, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan apresiasi anggota Komisi VIII DPR RI di Jawa Timur.

Namun demikian, ia tetap meminta dukungan para anggota legislatif ini dalam upaya penanggulangan bencana di Jatim yang selama ini terkendala persoalan kewenangan antara pusat dan daerah, seperti, penanganan banjir di DAS Brantas dan Bengawan Solo, serta normalisasi sungai lahar dingin di kawasan Gunung Semeru Lumajang.***poedji

Siaga Cuaca Ekstrem, BPBD Jatim Pasang EWS di Enam Daerah Rawan Banjir dan Longsor

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Dalam mempersiapkan cuaca ekstrim akhir tahun ini BPBD Jati. menyiapkan personel dan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara Mandiri.

Selain itu BPBD Jatim juga memasang sejumlah peralatan Early Warning System (EWS) di enam daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor.

Pemasangan EWS yang dilangsungkan selama sepekan lalu ini berkolaborasi dengan Tim BPBD setempat.

Adapun lokasi dan jenis EWS yang dipasang tersebar di wilayah Kabupaten Bojonegoro (EWS Banjir), Kabupaten Jombang (EWS Longsor), Ponorogo (EWS Banjir), Trenggalek (EWS Longsor), Kab. Probolinggo (EWS Longsor) dan Kota Mojokerto (EWS Banjir).

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengungkapkan, pemasangan EWS di enam daerah ini melengkapi puluhan EWS yang telah dipasang BPBD Jatim tahun-tahun sebelumnya.

“Saat ini, kami telah memiliki board yang bisa memantau perkembangan EWS secara real times di sejumlah daerah. Dengan board itu, kami bisa mengetahui potensi ancaman bencana di sejumlah daerah secara real time melalui sinyal yang muncul dari EWS,” ujar Gatot Soebroto, Senin (15/12/2025).

Sementara,  Ketua Tim Pencegahan BPBD Jatim Dadang Iqwandy menambahkan, dengan terpasangnya 6 EWS yang baru, maka secara keseluruhan EWS yang dimiliki BPBD Jatim mencapai 44 unit, meliputi, 20 EWS banjir dan 24 EWS longsor. Selain EWS, BPBD Jatim juga telah memasang 17 sirene tsunami.

Adapun sebarannya di hampir semua wilayah di Jatim, mulai dari wilayah Selatan Jatim, seperti, Banyuwangi, Jember, hingga Pacitan. Lalu di wilayah Mataram hingga di kawasan Tapal kuda, seperti, Pasuruan dan Probolinggo.

“Ada beberapa daerah yang belum terpasang. Tapi, telah dipasang secara mandiri oleh BPBD Kabupaten/kota,” demikian Dadang.***poedji