“Saya sering menangis”, Kisah Pemuda yang Kehilangan Seluruh Keluarganya karena Serangan Udara Israel

 “Saya sering menangis”, Kisah Pemuda yang Kehilangan Seluruh Keluarganya karena Serangan Udara Israel

Omar Abu al-Ouf,”Saya sering menangis.” Foto; Bethan McKernan/The Guardian

JAYAKARTA NEWS – Perang selalu meninggalkan korban-korban dan korban tidak akan pernah merasa menang. Tidak ada yang kalah atau menang bagi para korban. Konfik bersenjata Israel – Palestina, yang sudah berlangsung lebih dari 70 tahun. Konflik ini harus secepatnya diakhiri dan damai bisa menaungi kawasan ini. Di bawah ini, mengutip The Guardian, kisah salah seorang korban, yang mewakili korban-korban lainnya baik warga Palestina atau Israel.

Omar Abu al-Ouf (17 tahun) kehilangan ayah, ibu, kakak laki-laki dan perempuan yang tewas akibat hancurnya gedung apartemen mereka Mei tahun lalu di Jalur Gaza.

Omar Abu al-Ouf, Mei 2022, sedang belajar mempersiapkan diri menghadapi ujian sekolah (setingkat SMA) dan berharap hasilnya cukup baik agar dia bisa meraih cita-citanya menjadi Insinyur. Namun dia mengaku sukar konsentrasi belajar, karena selalu terbayang keluarganya.

“Dia seakan-akan berada ditempat lain,” ujar neneknya, Manar, di ruang tamu paman Ouf. “Seluruh keluarganya sudah tidak ada.”

Sesaat setelah bom manghantam, yang menurut Israel ditujukan untuk menghancurkan Gudang senjata Hamas di bawah tanah, gedung apartemen tempat tinggal keluarga Ouf runtuh. Ouf ikut terkubur dalam reruntuhan gedung, tangannya memeluk adik perempuannya, Tala, yang baru berusia 12 tahun. Kakaknya, Tawfik (17 tahun) masih hidup selama beberapa jam.

Mereka sempat bercakap-cakap dalam kegelapan dan menghirup debu ketika bernapas. Tawfik memberitahunya, ayah dan ibunya, Reem, sudah meninggal, sebelum tim penyelamat akhirnya menemukan mereka. Tawfik akhirnya juga meninggal akibat luka-lukanya. Ayah mereka, Ayman, berprofesi sebagai dokter di rumah sakit Gaza, juga meninggal dibawah himpitan berton-ton beton gedung apartemen.

Pertempuran antara Hamas lawan Israel, Mei tahun lalu, berlangsung selama 11 hari. Hamas, sejak 2007, menjadi penguasa Jalur Gaza. Setelah setahun, Ouf masih mengalami masalah syaraf di tangan dan kaki kanannya, akibat luka-lukanya. Dia mencoba membangun kembali hidupnya. Namun dia masih belum mengerti kenapa hal seperti ini terjadi dalam hidupnya.

“Ramadan dan Idul Fitri tahun ini sangatlah berat. Saya merindukan mereka setiap hari. Saya tidak menyangka hidup saya akan begini. Saya jarang keluar rumah. Kadang-kadang teman-teman menengok saya disini. Tapi semua sekarang sedang sibuk belajar. Satu-satunya hobi saya setelah kejadian itu adalah menangis,” ujar Ouf.

Ouf sekarang tinggal bersama keluarga pamannya, tidak jauh dari rumah lamanya di Jalan al-Wehda, jalan yang ramai di sisi kanan dan kiri terdapat gedung-gedung apartemen, took-toko dan juga café-café. Dalam serangan udara Israel, 16 Mei tahun lalu, sebanyak 44 orang meninggal. Total sebanyak 256 orang Palestina dan 14 orang Israel meninggal akibat pertempuran itu.

Menurut Kementerian Perumahan Hamas, setelah setahun kemudian, baru 5% dari 1.000 unit rumah, jalan, dan infrastruktur lainnya, yang hancur akibat pemboman Israel, dibangun kembali. Sebagian besar dana PBB dan dana dari donor lain sering terhalang masuk Gaza, karena urusan diplomatick dan juga blockade Israel dan Mesir sejak Hamas berkuasa 2007 lalu. Blokade ini telah menyebabkan sistem layanan kesehatan hancur, air tanah tidak bisa diminum karena intrusi air laut. Kawasan kecil ini tertumpuk 2 juta warga Palestina berupaya tetap hidup ditengah segala kekurangan, termasuk seringnya listrik mati.

Bulan Mei ini, kembali ketegangan terhadi antara Hamas dengan Israel. Hamas, baru-baru ini, memuji serangan – serangan teroris yang menyebabkan 19 warga Israel tewas. Kelompok militant ini juga menyerukan warga Arab Israel atau Palestina Israel dan warga Palestina di Tepi Barat melancarkan serangan terhadap Israel. Hamas juga mengancam akan melancarkan perang jika bentrokan di Mesjid Al-Aqsa terus terjadi. Israel bereaksi dengan melayangkan peringatan kepada Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza, bahwa pernyataannya telah memberi Israel kebebasan melakukan respon militer.

Ouf sudah kehilangan segalanya, dia juga mengatakan dia tidak peduli jika ada pertempuran lagi. Dia berharap bisa meninggalkan Gaza, mungkin bisa kuliah di luar negeri. “Sukar mengutarakan apa yang saya rasakan. Saya tadinya mau sungguh-sungguh bekerja keras belajar, merayakan hasil ujian, masuk universitas. Saya ingin ayah saya bangga. Tapi sekarang, saya sendirian.”***leo

Sumber informasi: theguardian.com

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.