Perdana di Aceh, UTU dan BPDPKS Gerakan UKMK Sawit

 Perdana di Aceh, UTU dan BPDPKS Gerakan UKMK Sawit

JAYAKARTA NEWS – Indonesia merupakan negara agraris dan Univeritas Teuku Umar (UTU) memiliki visi dan misi menjadi sumber insipirasi serta referensi di bidang agro dan marine Industry. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dibentuk sebuah program kemitraan antara Universitas Teuku Umar bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melaksanakan launching kemitraan Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi (UKMK) berbasis sawit bagi pemuda di Kawasan Barat-Selatan Provinsi Aceh yang dilaksanakan pada 8 Maret 2022 lalu.

Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi sawit menjadi produk-produk yang bernilai ekonomis bagi dari hulu maupun hilir sawit.

Lalu acara ini diawali dengan penampilan Rapai Geleng UKM Tari Universitas Teuku Umar dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Setelah itu penyampaian kata sambutan oleh Rektor Universitas Teuku Umar Prof Dr Jasman J ma’ruf, MBA  yang menyampaikan bahwa acara ini sebagai sebuah kolaborasi antara Universitas Teuku Umar dan Badan Pengelola dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk menciptakan 1.000 pengusaha baru UKMK Sawit di Provinsi Aceh sampai dengan 2024. Dan acara ini dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring)

Dalam acara tersebut Gubernur Aceh, Ir H Nova Iriansyah, MT turut menyampaikan sambutan secara online dari Banda Aceh. Gubernur Aceh menyambut baik Gerakan ini dan berharap akan membawa perubahan besar bagi kemajuan ekonomi daerah khususnya dalam penciptaan lapangan kerja.

Lalu Staf khusus Presiden sekaligus Pembina IBT Universitas Teuku Umar juga turut menyampaikan kata sambutan dan berharap acara ini mendorong inovasi untuk menciptakan value added produk dari sawit yang berkelanjutan. Pembukaan acara dilakukan oleh Direktur Utama BPDPKS yang diwakili oleh Kepala Divisi UKMK BPDPKS Helmi Muhansyah. Untuk keynoted speaker yang dimoteratori oleh Wakil Rektor III Dr Muryidin, MA dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga yang diwakili Asisten Deputi Kewirausahaan Kemenpora Imam Gunawan secara online menyebutkan pentingnya kolaborasi untuk mendorong ekosistem kewirausahaan di lingkungan kampus di Indonesia, serta Kemenpora yang memiliki semangat untuk menciptakan pemuda sebagai pencipta lapangan kerja.

Pada sesi Workshop yang dimoderatori oleh ketua IBT Universitas Teuku Umar Said Achmad Kabiru Rafiie, MBA dengan pembicara Prof. Dr Erliza Hambali yang menyampaikan tanaman sawit memiliki banyak manfaat dan turunanya yang dapat dikelola menjadi produk seperti pupuk, briket dari cangkang, lidi dan jamur serta lainnya. Acara ini diikuti  100 peserta UKMK sawit dikawasan Barat Selatan Provinsi Aceh.

Para peserta juga melibatkan para santri dari pesantren yang berada di sekitar kebun sawit serta para pelaku UKMK dan mahasiswa yang tertarik dengan berwirausaha.

Serta para tamu undangan Bupati Aceh Jaya, Bupati Aceh Barat, Bupati Aceh Selatan, ketua DPRK Nagan Raya, Komandan Kodim Aceh Barat, Kapolres Aceh Barat, perwakilan bank Indonesia, Direktur Politeknik Fakfak Papua Barat, perwakilan perusahaan sawit, kepala dinas pertanian dikawasan barat Selatan Provinsi Aceh.

Sebagai tanaman tropis, Tanaman sawit diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh pemerintah Belanda 1848 yang dibawa dari Afrika dan menjadi tanaman hias kebun raya Bogor. Perkebunan secara Komersil dimulai 1911, di Sungai Liput Aceh dan Deli Sumatra Utara oleh Adrien Hallet dan K. Schadt asal Belgia yang terluas 5.123 hektar.

Indonesia kini merupakan negara penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar didunia dengan jumlah produksi mencapai 46,88 juta ton CPO (2021). Memperjakan leboh 4 juta penduduk di sektor ini.

Selain itu, kelapa sawit merupakan penyumbang terbesar devisa non migas.  70 persen dari CPO Indonesia di expor yang mencapai nilai US$ 26,03 milliar, negara yang menjadi tujuan utama expor CPO Indonesia adalah  Cina dan India.

Provinsi Aceh merupakan salah satu provinsi penghasil CPO di Indonesia. Luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Aceh 540.000 hektar. Dari jumlah tersebut 52%nya merupakan kebun rakyat. Produktivitas sawit rakyat di Aceh masih rendah 2,1 ton per hektar dibandingkan dengan rata-rata produksi nasional 3,3 ton per hektar.

Jumlah petani sawit di Provinsi Aceh berjumlah 139.153 KK yang tersebar di 20 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Aceh. Kabupaten Nagan Raya  di kawasan barat Selatan Provinsi Aceh adalah kabupaten yang memiliki jumlah petani terbanyak 26.382 KK yang disusul Aceh Jaya 11.349 KK dan Aceh Barat 8.662 KK. 

Produk olahan sawit dapat menghasilkan seperti janjang kosong atau Jangkos yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk menghasilkan jamur merang sawit dan digunakan sebagai media tanam (pupuk organik) untuk tanaman hortikultura seperti yang dilakukan oleh mahasiswa UTU Ahmad Singgih Ridwan Lubis bersama empat rekannya dari prodi Agroteknologi mengembangkan rumah jamur dan tanaman organik yang bahan tanamnya dari janjang kosong sawit.

Hal ini menunjukan bahwa produk limbah sawit yang melimpah dari 23 Pabrik Pengelohan sawit dapat dimanfaatkan secara optimal dan sustainability industri ini dapat berjalan beriringan antara people, planet dan profit guna memastikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia. (*/Monang Sitohang)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.