• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Saturday, October 3, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Menata Cermin Hukum di Bawah Cahaya Reformasi

Menata Cermin Hukum di Bawah Cahaya Reformasi

admin by admin
November 24, 2025
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Brigjen TNI Purn MJP Hutagaol

Hari Jumat, 7 November 2025, akan dikenang sebagai hari ketika negara memandang wajah hukumnya sendiri.
Pagi hari, kepolisian menegakkan hukum terhadap para penyebar fitnah tentang ijazah Presiden Joko Widodo.
Sore harinya, Presiden Prabowo Subianto melantik Komisi Percepatan Reformasi Polri melalui Keputusan Presiden Nomor 122/P Tahun 2025.
Dua peristiwa itu ibarat dua sisi dari satu cermin: satu menegaskan ketegasan hukum, dan yang lain mengajak penegak hukum bercermin kepada dirinya sendiri.


Langkah Politik yang Patut Dihargai

Komisi ini diketuai oleh Prof. Jimly Asshiddiqie, dengan sembilan anggota: Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, Supratman Andi Agtas, Otto Hasibuan, Listyo Sigit Prabowo, Tito Karnavian, Badrodin Haiti, Idham Azis, dan Ahmad Dofiri.
Susunan ini mencerminkan keseimbangan antara unsur akademisi, praktisi hukum, dan kepemimpinan Polri lintas generasi.
Pelantikannya bukan sekadar seremoni, tetapi langkah kenegaraan yang menunjukkan keberanian Presiden membuka ruang koreksi di tubuh institusi strategis negara.

Namun, publik pun wajar bertanya: bagaimana menjaga keseimbangan antara koreksi dan loyalitas, antara kehormatan institusi dan keberanian menatap kelemahan lama?
Pertanyaan itu tidak untuk menjatuhkan, melainkan sebagai pengingat bahwa reformasi sejati menuntut keberanian moral dan kejujuran kolektif.


Kebutuhan Akan Kedewasaan Institusi

Polri memiliki sejarah panjang, sekaligus tantangan besar di era keterbukaan.
Masyarakat tidak lagi menilai dari seragam dan simbol, tetapi dari keadilan dan empati.
Reformasi sejati bukan hanya menyentuh struktur dan prosedur, melainkan menata kembali jiwa kepemimpinan di setiap level.

Kepercayaan publik tidak dapat dibangun lewat kampanye, melainkan lewat perilaku nyata dan konsistensi moral.
Itulah akar dari segala reformasi: memulihkan rasa hormat melalui tindakan, bukan retorika.


Arah Pembenahan

Langkah-langkah pembenahan sebaiknya dimulai dari hal-hal mendasar:

  1. Menegaskan etika tanggung jawab. Jabatan adalah amanah, bukan fasilitas.
  2. Menumbuhkan budaya transparansi. Setiap kebijakan harus terbuka pada logika publik.
  3. Memperkuat komunikasi hati. Polisi dan rakyat bukan dua pihak berseberangan, melainkan dua tangan yang saling menjaga negara.

Penutup

Reformasi Polri tidak selesai dalam satu Keppres atau satu periode pemerintahan.
Ia adalah perjalanan panjang, membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan kepemimpinan yang bersih dari kepentingan pribadi.
Langkah Presiden Prabowo adalah membuka pintu — dan tugas kita bersama menjaga agar cahaya di balik pintu itu tidak padam.

Negara ini tidak menuntut lembaga yang sempurna, tetapi lembaga yang mau terus belajar dari kesalahannya.
Karena inti dari reformasi bukan mengganti seragam, melainkan menyembuhkan jiwa.

Gambar itu menggambarkan refleksi tentang keadilan dan penataan hukum di era reformasi, dengan simbol-simbol yang kuat namun tetap elegan:

Timbangan keadilan menjadi pusat perhatian, melambangkan keseimbangan antara hukum, moral, dan kebenaran.

Cermin besar di belakang menggambarkan upaya bangsa menatap diri sendiri — introspeksi terhadap sistem hukum yang belum sepenuhnya bersih.

Warna emas dan biru gelap menunjukkan wibawa kenegaraan, keagungan, dan ketenangan dalam proses reformasi.

Siluet manusia yang berdiri tegak merepresentasikan pemimpin moral atau suara nurani bangsa yang tetap jernih di tengah arus politik.

Secara keseluruhan, maknanya adalah:

“Bangsa ini sedang menata cermin hukumnya sendiri — agar yang tampak bukan lagi bayangan kekuasaan, tetapi wajah keadilan sejati.”


✒️ “Menata cermin hukum bukan sekadar memperbaiki bingkai, tetapi membersihkan pantulan jiwa bangsa.”

Previous Post

Rano Karno akan Buka Pameran Paradocs #2

Next Post

‘Ngomyang’ Kesaktian Daun Dadap

admin

admin

Next Post
‘Ngomyang’ Kesaktian Daun Dadap

‘Ngomyang’ Kesaktian Daun Dadap

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version