Connect with us

Kabar

Ketika Rakyat Menonton Perdebatan Purbaya dan Luhut

Published

on

Oleh mjp hutagaol 86

Beberapa hari terakhir, rakyat kembali menonton perdebatan dua tokoh besar negeri ini — Purbaya dan Luhut.

Yang satu berbicara soal kehati-hatian dalam memakai uang rakyat, yang satu bicara soal percepatan dan terobosan ekonomi.

Di layar televisi dan media sosial, suara keduanya bersahutan. Sebagian rakyat kagum, sebagian geram, sebagian hanya menggeleng pelan:

> “Lagi-lagi yang di atas ribut, kami di bawah tetap susah.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan kelelahan rakyat kecil. Bagi mereka, bukan siapa yang menang dalam debat yang penting, tapi apakah uang negara benar-benar digunakan dengan hati-hati dan berpihak pada rakyat. Sebab mereka tahu, uang negara bukan milik pejabat, tapi amanah rakyat.

Bangsa ini sudah terlalu sering mendengar kata “proyek besar”, tapi jarang merasakan manfaat besarnya. Maka wajar bila pejabat yang bicara soal disiplin anggaran mendapat simpati. Rakyat ingin pemimpin yang berhati-hati, bukan yang terburu-buru memamerkan keberhasilan. Tapi kita juga tak boleh tenggelam dalam kebencian. Setiap perbedaan pandangan adalah bagian dari proses mencari arah terbaik — asal semua pihak mau menundukkan ego dan mendengar suara bumi: suara rakyat yang sederhana tapi jujur.

Sebagai seorang prajurit, saya belajar bahwa tidak semua perbedaan harus dimenangkan; sebagian cukup disikapi dengan kehormatan. Dalam dunia militer, perintah bisa berbeda, strategi bisa berubah, tapi garis merahnya satu: menjaga martabat bangsa.

Kini, ketika rakyat kecil menonton para pemimpin berdebat, sesungguhnya mereka sedang menunggu satu hal — apakah setelah semua kata-kata selesai, akan lahir tindakan nyata yang menyejukkan hati mereka. Bukan janji baru, tapi kebijakan yang menyentuh dapur dan kehidupan sehari-hari.

Indonesia tidak dibangun dari adu argumen, melainkan dari pengorbanan dan kebersamaan. Dari Sabang sampai Merauke, kita disatukan bukan karena satu suara, tetapi karena ribuan suara yang rela menunduk demi persatuan. Maka saat suara menjadi terlalu keras, sering kali yang hilang adalah kebenaran yang lembut.

Saya percaya, di balik hiruk-pikuk ini, nurani bangsa masih berbicara. Masih ada ruang bagi kesunyian dan kebijaksanaan untuk menenangkan badai. Karena yang dibutuhkan bukan siapa yang paling keras berbicara, tapi siapa yang paling tenang menjaga arah perahu di tengah gelombang.

Mari kita jaga negeri ini — bukan hanya di medan perang, tapi juga di medan kata dan batin. Setiap kalimat yang kita ucapkan adalah getaran jiwa bangsa. Biarlah getaran itu membawa kesejukan, bukan amarah. Kita tak perlu membela siapa pun. Cukup menjaga agar suara bangsa ini tetap lurus, jernih, dan bermartabat.

> Yang dicari rakyat bukan proyek besar, tapi keadilan yang terasa sampai di meja makan mereka.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement