Kaset; Come Back Lagi

 Kaset; Come Back Lagi

 

Dunia audio hari ini sudah menyingkirkan MP3 Player (pemutar music MP3) berganti dengan langganan Spotify, iTune, Joox, dan lainnya. Namun ada perkembangan menarik, yang anda mungkin tidak menyangkanya, pita kaset kembali jadi ‘hit’.

Bermula dari band lawas Pearl Jam yang mungkin bisa disebut sebagai salah satu pendorong kebangkitan kaset ini. Pearl Jam, ditahun 2008 atau 2009, mengontak perusahaan rekaman ‘National Audio Company’, yang berbasis di Missouri, AS. Mereka ingin merekam ulang album lawas ‘Ten’, yang berulang-tahun ke 20, sebagai item kolektor dalam bentuk pita kaset. “Mereka berencana membuat 15 atau 20 ribu set karet dan melihat bagaimana tanggapan para penggemar mereka,” cerita Steve Stepp, direktur perusahaan rekaman itu. “Mereka datang dan menandatangani kontrak dengan kami dan kami membuat rekaman di pita kaset serta mengirimkannya ke gudang mereka. Di tempat ini mereka akan membuat semacam paket.” Satu paket berisi sebuah CD, Piringan Hitam, dan Kaset, serta sebuah buku Pearl Jam. Paket ini langsung terjual habis ketika diluncurkan. Akibatnya, order membuat kaset terus datang dan makin banyak, jelasnya.

Satu dekade kemudian, penjualan kaset meningkat tajam. Faktanya, penjualan pita kaset meningkat 136% pada tahun 2017, menurut laporan BuzzAngle Music 2017 US Report (perusahaan yang menganalisa konsumsi musik). Meskipun penjualan CD dan Piringan Hitam masih lebih tinggi, namun perlu diingat penjualan CD tahun lalu hanya meningkat 9,4% sedangkan PH sekitar 20%.

Kenapa?

Pertanyaan berikutnya adalah kenapa orang-orang mulai menyukai kaset (kalau generasi melinial) atau kembali ke kaset (bagi generasi tahun 80-an kebelakang)? Mungkin, yang pertama, adalah kualitas suara yang tidak bisa ditiru oleh aplikasi musik ‘streaming’ seperti Spotify dan semua pesaingnya. “Telinga anda adalah analog. Alam dunia kita adalah analog,” tegas Stepp. “Alasan orang menyukai pita kaset dan piringan hitam adalah mereka mereproduksi suara aktual dan analog, dengan harmoni dan frekuensi sesuai dengan telinga kita untuk mendengarkannya.” Itulah alasan terpentingnya.

Sumber informasi: southernliving.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *