Buku Tanpa Daftar Pustaka

 Buku Tanpa Daftar Pustaka

Eko Sulistyo, Candra Gautama, dan Gendis.

JAYAKARTA NEWS – Halim Hade, seorang budayawan dari Solo, mengawali membaca buku berjudul ‘Dari Jokowi Hingga Pandemi’ karya Eko Sulistyo dengan cara mencari daftar pustaka, tetapi hanya mendapatkan indeks.

“Setiap kali saya membaca buku, selalu saya melihat daftar pustakanya, tetapi buku karya Eko Sulistyo ini tidak menyertakannya” ujar Halim Hade dalam diskusi buku, Rabu 31 Maret 2021 di Rumah Makan Mertami, jl. Sumberan 2, no 4, Simduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Selain Halim, tampil sebagai pembicara Dr. Ari Sudjito, pengajar jurusan Sosiologi, Fisipol UGM, Candra Gautama, Editor buku dari KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Gendis Syari Widodari, mewakili anak muda milenial dan Eko Sulstyo, penulis buku

Ari Sudjito melihat, bahwa Eko Sulistyo, selaku penulis buku mengajak publik untuk kritis, tetapi tidak dengan kebencian. Perbincangan diperlukan karena wacana  perlu dilihat dari berbagai aspek dan menyertakan argumentasi.

“Seringkali saya melihat diskusi tidak menyertakan argumentasi, melainkan malah mengkaitkan dengan pasal-pasal, sehingga kalau sudah terpojok dalam dialog malah melaporkan pada polisi, dengan demikian diskusi menjadi tidak berkembang” ujar Ari Sudjito.

Arie Sudjito

Arie Sudjito menyebut Eko Sulistyo sebagai sejarawn politis, karena memang Eko alumni jurusan sejarah  Fakultas Sastra Univeristas Sebelas Maret Solo, tetapi aktivitasnya lebih banyak di area politik, apalagi dia dekat dengan Presiden Joko Widodo dan pernah menjadi   Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, dan sejumlah aktivitas politik lainnya.

“Maka, saya merasa lebih senang menyebut Eko sebagai sejarawan politis, ketimbang menempatkannya sebagai sejarawan’ kata Arie Sudjito

Sebagai editor buku di Kepustakaan Populer Gramedia, meski dia tidak bertindak khusus sebagai editor untuk buku karya Eko Sulistyo, menyampaikan, bahwa tulisan yang berangkat dari karya yang tersebar dari media cetak, perlu dibingkai dengan tema, dan dikemas agar kaum milenial bisa menerima dan membacanya, maka dari sisi coverpun perlu diperhatikan.

“Ada beberapa cover yang dilihat untuk menjadi bahan cover buku karya Eko, tetapi yang dupilih seperti bisa dilihat dalam buku itu, karena lukisan karya Muez Prazt, seorang perupa dari Yogya, dan dia hadir dalam diskusi ini bisa diterima oleh kalangan milenial” ujar Candra Gautama.

Halim Hade

Eko Sulistyo, sebagai penulis buku menyampaikan, bahwa tulisannya yang ada di dalam buku ini, sudah ditulis belum lama, dan dipublikasikan di berbagai media massa. Sejumlah tulisan yang menyentuh berbagai tema ditulis antara tahun 2020-2021, sehingga bisa dikatakan masih hangat.

“Tidak semua tulisan saya menyangkut soal Jokowi, tetapi berbnagai macam persoalan di era Jokowi” ujar Eko Sulistyo.

Diskusi dihadiri sejumlah aktiviis, hadir sekitar 50-an aktivis mahasiswa tahun 1980-an/1990-an, juga anak muda mileneal sehingga sekaligus seperti reuni,  dan kebanyakan aktivis kenal dengan Eko Sulistyo, yang juga aktivis. Karena berkumpulnya para aktivis, diskusi serius diselingi dengan gurauan, bahkan muncul gurauan menyangkut diskusi, yang menyebut diskusi tidak sampai pada pandemi, tetapi hanya menyebut Jokowi, padahal bukunya berjudul ‘Dari Jokowi Hingga Pandemi’

“Pandemi belum dibahas, diskusi sudah ditutup, disksusi Jokowi tanpa menyertakan pandemi’ kata salah seorang hadirin yang disambut tertawa riuh oleh semua yang hadir, termasuk para narasumber. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *