Band Dara Puspita Terima Penghargaan MURI

 Band Dara Puspita Terima Penghargaan MURI

Dara Puspita beroleh penghargaan rekor MURI.

JAYAKARTA NEWS – Band wanita Dara Puspita baru-baru ini menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Pimpinan MURI, Jaya Suprana mengemukakan, alasan pemberian penghargaan tersebut karena Dara Puspita adalah grup band Indonesia pertama yang semua personelnya wanita.

Dibangun tahun 1964 di Surabaya dengan formasi Titiek AR (lead gitar), Lies AR (gitar pengiring), Susy Nander (drum) dan Anny Kusuma (bas gitar). Kemudian, Anny Kusuma out (mendirikan band Beach Girls dan banyak bintangi film laga) dan posisinya digantikan Titiek Hamzah. Semula bernama Nirma Puspita, kemudian berubah menjadi Irama Puspita dan terakhir berganti lagi menjadi Dara Puspita.

Lima album long play (piringan hitam) telah diterbitkan oleh Dara Puspita yaitu ‘Jang Pertama’, ‘Dara Puspita’, ‘A Go Go’, ‘Tabah dan Cobalah’ dan ‘Green Green Grass of Home’ (aslinya dibawakan oleh Tom Jones).

Beberapa lagu di Album 1 sempat meledak dan terkenal, seperti ‘Surabaya’ dan ‘Pantai Pattaya’. Karena ruang lingkupnya terbatas, Dara Puspita mengikuti ajakan Koes Bersaudara, hengkang ke Jakarta.

Dengan naik kereta api, dan bekal Rp 1000,- di kantung masing-masing, berempat nekad pindah ke Jakarta. Semula ditampung di rumah Yon Koeswoyo, lalu diajak mengiyakan saran seorang Kolonel di awal Orde Baru untuk membangun base camp di rumahnya.

Tahun 1968, Dara Puspita melanglang Asia dan Eropa. Beberapa kota terkenal di Eropa (Belanda, Jerman, Perancis, Swedia dll) dijelajahi. Tercatat di Museum Musik, hampir 200 kota dikunjungi dan memperoleh applaus gempita. ‘Beatles from Indonesia’ dan ‘Flower Girls’, demikian pers Eropa menggelari Dara Puspita.

Dara Puspita tour Eropa.

Benar, saat itu, Dara Puspita mengolaborasi irama dan accord The Beatles dan The Rolling Stones dalam intro lagu-lagunya. Padahal, Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno sedang menggalakkan kebudayaan nasional dengan mengganyang musik ‘ngak ngik ngok’ dari Barat (Amerika dan Inggris). Titiek Hamzah mengenang, saat berjayanya Lekra dan PKI, Dara Puspita harus lihai berdiplomasi dan bersilat lidah dengan polisi.

Ketika mereka membawakan lagu ‘A Hard Day’s Night’ milik Beatles, polisi bertanya ini lagu siapa. Titiek Hamzah menjawab ‘lagunya band dari Liverpool’. Aman. Saat lain, ketika melantunkan lagu ‘Satisfaction’, polisi bertanya lagi : ini lagunya Beatles ya?. “Bukan pak, ini lagunya Rolling Stones..’. Aman lagi.

“Ternyata, aparat di zaman Orde Lama asal larang musik Barat, tapi enggak tahu definisinya,” cerita Titiek Hamzah tertawa.

Satu harapan mencuat ketika Dara Puspita bersua dengan Collin Johnson (eks manajer Beatles) di Inggris, dan kontrak show pun terjadi. Hampir 1, 5 tahun berkeliling Eropa yang sangat melelahkan, akhirnya Dara Puspita kembali ke Indonesia.

Saat di ambang popularitas, mendadak sontak badai datang menerpa. Tahun 1972, usai konser di Makassar, Dara Puspita resmi bubar. Soal duit tak merata? Bukan. “Kami berempat ini cewek semua. Saya ingin nikah, punya suami dan punya anak,” papar Titiek Hamzah lagi. “Takdir sebagai wanita, harus berkeluarga. Karier nomor dua,” ulas pengamat musik Bens Leo.

Salah satu album Dara Puspita.

Akhirnya, tanggal 11 September 1975, surat pembubaran dideklarasikan. Titiek Hamzah kemudian tetap sebagai pencipta lagu, dan tinggal di Jakarta, menikah dan punya anak. Titiek AR dan adiknya, Lies AR menetap di Belanda dan menikah dengan pria berwarganegara Belanda. Suzy Nander kawin dengan cowok Manado dan bermukim di Sidoarjo.

Apakah Dara Puspita tak bisa dihidupkan lagi? “Susah. Pernah kami menggaet Judith Manoppo dan Dora Sahertian mendirikan Dar Pus Min Plus, enggak jalan. Titiek dan Lies AR sudah punya anak dan cucu. Juga Suzy Nander. Selain itu, usia kami sudah di atas 60an dan 70an tahun.

Nafas sudah ngos ngosan jika menggebrak lagu cadas,” timpal Titiek Hamzah terbahak. Satu hal pasti yang pantas ditiru oleh band-band wanita di RI adalah ‘I just follow my heart’ seperti diuraikan Titiek Hamzah. Yang jelas, Dara Puspita adalah pembuka jalan bagi rocker-rocker wanita di RI. “Kami enggak sengaja mendobrak stigma yang ada : cewek itu harus di dapur dan menikah. Kami enggak terbatas oleh identitas budaya dan gender. Kami bercita-cita jadi leader di dunia musik Indonesia,” pungkas Titiek Hamzah yang menambahkan semoga kita bisa mengadakan lagi Festival Band Wanita ke 2, ke 3, ke 4 dst.

Festival Band Wanita 1 (bukan Band Perempuan) diadakan oleh majalah musik TOP, 40 tahun silam) dengan jurinya Remy Sylado, Mus K Wirya dll dan pemenang 1 Pretty Sisters dari Surabaya, ke 2 Aria Junior dari Jakarta dan ke 3 One Dee and Lady Faces dari Bandung. Jadi? (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *