LOMTIM, JAYAKARTA NEWS— Tawaran bekerja ke luar negeri dengan berbagai iming-iming bisa menjadi pintu masuk bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke jalur nonprosedural. Minimnya informasi dan ketidaktahuan mengenai prosedur penempatan membuat calon pekerja rentan terjebak.
Pengalaman tersebut dibagikan langsung oleh Panggih Widodo, perwakilan SMA dan MA Nahdlatul Wathan (NW) Suralaga, Lombok Timur, yang pernah bekerja sebagai pekerja migran. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah tergiur tawaran bekerja ke luar negeri sebelum memastikan informasi dan proses penempatannya.
“Dulu ketika saya mendaftar untuk bekerja ke luar negeri, banyak sekali oknum yang menawarkan jasa dengan berbagai iming-iming. Kalau kita tidak hati-hati dan tidak memiliki informasi yang cukup, kita bisa terjebak dan akhirnya menjadi pekerja migran nonprosedural. Karena itu, sosialisasi mengenai migrasi aman menjadi penting, khususnya bagi generasi muda yang memiliki rencana bekerja ke luar negeri,” ujar Panggih, mengutip keterangan Humas BP3MI NTB.
Pesan tersebut disampaikan dalam sosialisasi “Migrasi Aman sebagai Upaya Mengatasi Migran Ekonomi Berisiko” yang digelar di Musholla SMA dan MA NW Suralaga, Lombok Timur, Rabu (7/10/2026).
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Barat (NTB) memperluas edukasi migrasi aman kepada generasi muda melalui kegiatan tersebut.
Sosialisasi yang diinisiasi mahasiswa Universitas Mataram melalui proyek muda mengabdi “Lentera Yatra” itu diikuti 70 siswa SMA dan MA NW Suralaga. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai prosedur bekerja ke luar negeri secara aman, legal, dan sesuai ketentuan.
Pengantar Kerja Ahli Pertama BP3MI NTB, Siska Susila, menjelaskan sejumlah tahapan bekerja ke luar negeri secara aman dan legal kepada peserta MA NW Suralaga. Materi mencakup tahapan penempatan serta skema penempatan yang tersedia, yakni Government to Government (G to G), Government to Private (G to P), Private to Private (P to P), UKPS, dan mandiri.
“Yang paling penting sebelum memutuskan bekerja ke luar negeri adalah memastikan informasi dan proses penempatannya jelas. Calon Pekerja Migran Indonesia harus memahami jalur penempatan yang tersedia dan memastikan prosesnya dilakukan secara resmi agar mendapatkan akses pelindungan dari pemerintah,” ujar Siska.
Menurut Siska, penempatan melalui jalur resmi menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan hak dan pelindungan PMI dapat terpenuhi sejak sebelum keberangkatan hingga selama bekerja di luar negeri.
Tak Cukup Modal Nekat
Selain memahami prosedur, calon pekerja migran juga perlu menyiapkan kompetensi sebelum berangkat. Bekerja di luar negeri, kata Pengantar Kerja Ahli Pertama BP3MI NTB Baiq Sri Wahyuningsih, tidak cukup hanya mengandalkan keinginan untuk mendapatkan pekerjaan.
“Bekerja ke luar negeri bukan hanya soal berangkat, tetapi harus dipersiapkan dengan kompetensi dan informasi yang benar. Pastikan seluruh proses dilakukan melalui jalur resmi agar hak dan pelindungan sebagai pekerja migran dapat terpenuhi,” ujar Baiq Sri Wahyuningsih.
Ia juga memperkenalkan Program SMK Go Global, salah satu program pemerintah untuk meningkatkan kompetensi generasi muda yang memiliki minat bekerja di luar negeri.
Melalui program pelatihan gratis tersebut, calon Pekerja Migran Indonesia dapat memperoleh keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja global.
Pengenalan program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong generasi muda agar tidak hanya memiliki keinginan bekerja ke luar negeri, tetapi juga memiliki bekal keterampilan yang dibutuhkan sebelum memasuki pasar kerja global.
Informasi Jangan Berhenti di Sekolah
Sosialisasi migrasi aman di SMA dan MA NW Suralaga diharapkan tidak berhenti pada 70 siswa yang mengikuti kegiatan. Para peserta juga diharapkan dapat meneruskan informasi yang diperoleh kepada keluarga, kerabat, dan masyarakat di sekitar mereka.
Dengan demikian, pengetahuan mengenai prosedur bekerja ke luar negeri secara aman, legal, dan resmi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Bagi generasi muda yang memiliki rencana bekerja ke luar negeri, pemahaman mengenai jalur penempatan, kelengkapan informasi, serta kesiapan kompetensi menjadi bekal penting agar peluang bekerja di pasar global tidak justru berujung pada kerentanan sebagai pekerja migran nonprosedural.
Kegiatan edukasi ini sekaligus menjadi ruang bagi BP3MI NTB untuk memperkenalkan pilihan penempatan resmi dan Program SMK Go Global kepada generasi muda di daerah. Melalui penguatan informasi dan kompetensi sejak bangku sekolah, migrasi untuk bekerja ke luar negeri diharapkan dapat dipersiapkan secara lebih aman, legal, dan sesuai ketentuan. (*/di)









































