Feature
Dialektika Dua Patung dan Fenomena Candu Media Sosial
Pada pameran Jakarta Provoke, Juli 2026 ini, di Taman Menteng Jakarta pada ajang Jakarta Provoke!, pematung Agus Widodo membuat karya berupa dua patung merespon fenomena kecanduan media sosial yang terjadi tak hanya lokal pun global.
Karya pertama, berjudul FOMO yang merupakan akronim dari bahasa Inggeris Fear of Missing Out, dan patung satu lagi JOMO dari akronim Joy of Misssing Out. Kedua patung tersebut membentuk konstruksi nama anyar, yakni JOMO OR FOMO, sebagai sebuah simbol atas fenomena utuh yang terjadi masyarakat.
Masing-masing patung berbeda penampakan, dengan patung pertama berupa sosok tak berkelamin (genderless) seolah berlari dengan kelebat seperti angin yang menempel di sebagaian tubuhnya, yakni FOMO. Sementara patung satunya, yaitu JOMO, penampakannya adalah sosok (genderless) dengan posisi berdiri dengan dua kaki telentang dan dua tangan patung tersebut terbuka.
Satu tangan memegang buku berjudul World Encyclopedia dan mata patung JOMO itu seolah tertutup. Kedua patung terebut bertumpu pada sebentuk smartphone raksasa dan keduanya seolah berinteraksi satu dan lainnya.
Agus mengulik soal teknologi informasi dengan karya dua buah patungnya tersebut, yang sangat terhubung dengan fenomena kecanduan publik global pada keberadaan diri yang tergantung pada validitas orang lain di dunia media sosial.
Fenomena FOMO, yakni perasaan kehilangan tersebab tertinggal, yaitu fenomena psikologis akut gegar identitas; yang menyasar segala usia secara gobal, yang ditandai dengan kecemasan, rasa iri, dan perasaan bahwa orang lain memiliki pengalaman yang lebih menyenangkan, atau orang lain menjalani hidup lebih baik darinya.
Akarnya adalah media sosial serta kecanduan terhubung pada komunitas maya, yang membuat pembaruan status di media sosial menjadi membabi-buta, kompulsif dan berakhir dengan rendahnya harga diri, terjaga sepanjang malam dan tentu saja stress berat.
Dunia hari ini dikerangkeng secara psikologis oleh mantra “click bait”, yang mengakibatkan validitas tergantung dari sang liyan, identitas dan karakter diri secara psikis lumpuh dan produktifitas sebagai manusia menurun.
Agus pada saat sama menangkap fenomena lain dari FOMO, terutama apa yangterjadi pada Millenial dan Zillenial yang dalam satu dekade ini terlahir istilah JOMO, yakni sebuah trend sebaliknya dengan gejala Joy of Missing Out. GenZi merasa memiliki keasyikan sendiri untuk membatasi keterhubungan dengan media sosial.
Terutama generasi muda sekitar 20-an tahun awal, dengan gejala psikologis melakukan praktik yang disengaja untuk menikmati kesendirian dan menemukan kepuasan dengan tidak berpartisipasi dalam aktivitas sosial, tren, atau kebisingan digital.
Jutaan Genzi memulai untuk kembali membaca buku, bukan searching buku-buku via PDF di media siber, menggunakan fitur-fitur sederhana dan aplikasi apa adanya dan menolak smartphone, apalagi
mereka memulai membeli handphone ‘jadul”, yang ditandai meningkatnya kembali “indeks-kebahagian” dan indikasi kesehatan mental terutama Millanial dan GenZi.
Usia dewasa-muda itu, mereka merasakan terkurangi tekanan sosial—untuk selalu mencari validitas karakternya diperbandingkan dengan orang lain-teman sebaya lewat media sosial. Konsentrasi aktifitas menjadi lebih privat, fokus untuk mencari kar-akar substansi dan makna -makna dalam relasi sosial dalam kalangan komunitas tertentu, juga menyeleksi kehadiran di tiap peristiwa..
Trend sebagian GenZi, secara serius belajar “konsep Stoik”, falsafah kuno yang bertebaran di media sosial dan ruang siber justru membuat konektifitas berkurang, mereka memulai hidup dengan visi yang lebih mendalam dengan memprioritaskan “slow living dan love ur self”.

Dialektika Zaman Digital
Agus dalam dua patung karyanya itu, memberi pesan sebuah dialektika zaman digital ini. Saat semua cepat tersedia, dan mengandalkan updated serta status 24 jam di media sosial, selain keterhubungan secara sosial, yang meminta validitas dari sang liyan, saat sama ada sosok sebaliknya, bersikap berlawanan dan menghadapi hidup secara mandiri dan punya prioritas membeda.
Kedua patung tersebut yang saling berhadap-hadapan, yang Pertama menggunakan sosok seolah manusia berlari dengan metafora kecepatan teknologi informasi dan keterjagaan posting status dari Netien 24 jam berhadapan dengan sosok patung kedua yang merentangkan kedua lengan tangan dan kaki, seakan-akan ingin menghentikan laju sosok patung yang p[ertama tersebut.
Patung kedua matanya yang terbebat kain, sementara telapak tangan kanan membawa buku terlihat dalam kondisi rileks, ia seolah mensengaja membuta matanya.
Karya ini ingin menghiperbolikkan terutama dalam posisi patung ke-2 yang membebat mata dan posisi berdiri menntang menciptakan kesan lebih dari rileks, yakni semacam sentilan humor yang kental tentang ketakpedulian.
Fenomena FOMO OR JOMO adalah sebuah penanda, dengan sejumlah riset yang masih diperdebatkan diantara para pakar psikolog dan ilmuwan komunikasi masa bahwa teknologi masih dan terus berkembang. Dampak negatifnya bisa jadi seperti yang disebut menciptakan kebingunan eksistesial sebagai manusia karena tercandu, tetapi teknologi informasi digital saat sama memberi manfaat.
Pakar psikoanalisa secara cermat menyampaikan bahwa untuk membangun karakter kuat, terutama bagi generasi muda, hingga rasa kepercayaan diri pun meningkatan kesehatan mental, dengan memupus kecemasan, dan kelelahan yang disebabkan oleh konektivitas yang berlebihan di media sosial, maka membutuhkan pembatasan-pembatasan.
Munculnya fenomena kecemasan untuk selalu tampil setiap hari di media sosial dengan simbol sosok berlari, dihadang tandingannya berupa sosok yang telentang terbebat matanya memberi pilihan eksistensial generasi muda. Mendorong komitmen dan menghargai ketenangan yang bermakna ataukah tetap larut dan saling berlomba menunjukkan identitas diri meski terhantui kecemasan-kecemasan.
Dua patung milik Agus bisa ditafsir juga dengan konsep Estetik tentang Play Drive, yakni sebuah kemampuan seniman secara nalar dan instingtif bermain sekaligus serius mengeksekusi karyanya.
Dengan gejala psikologis mentransmisi simbol-simbol terlihat bermain—dengan pendekatan humor atau jenaka, namun sungguh-sunnguh mengeksplorasi konsep dan materi berkarya dengan tujuan menggugah pikiran dan sense of humour para apresian.
Dialektika dua patung tersebut, jika didekatkan pada teoritikus budaya dari Jerman, Friedrich Schiller, menunjukkan bahwa sang pencipta patung, yakni Agus memiliki kemampuan untuk bermain-main.
Menurut Schiller, play drive sebenarnya tidak hanya menetap pada psikis seniman saja, namun manusia dengan profesi apapun ada kecenderungan memiliki semangat bermain tatkala merasakan dirinya utuh sebagai manusia. Keutuhan itu mengemuka tatkala merasakan sensasi sepenuhnya sebagai manusia saat ia sedang bermain-main.
Sama dengan Schiller, sejarawan dan pengamat kebudayaan dari Belanda, Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens, atau Manusia yang Bermain menyatakan bahwa sebuah kebermainan bukanlah seremeh sebuah main-main dalam suatu permainan.
Ekspresi Sebenarnya, dalam konteks ini Agus dengan karya dua patungnya mengkonsentrasikan dirinya dalam “kebahagiaan melucu” dalam sebuah permainan kreatif menebarkan pesan-pesan fenomena sosial.
Agus dalam konteks Huizinga, membangun karyanya itu membentuk sebuah kekuatan komunikasi dengan dua patung tersebut menyampaikan pesan-pesan, yang mengarah pada tema gejala dan fenomena FOMO dan JOMO.
Karya Agus jika kita telaah, memotret kondisi masyarakat lokal sekaligus global, bahwa dari patung, lukisan, karikatur, komik, film, animasi sampai meme, dialektika estetik lewat metode play drive akan tetap digunakan sepanjang masa. Pesannya bisa berbeda, namun kemampuan menggelitik untuk menganalisa ingatan komunal dan persoalan kemanusiaan yang lebih lebar bisa diungkapkan dengan sangat santai dan rileks menyembul ke permukaan.
Bambang Asrini, Kurator, Penulis Seni dan Pelukis.
