• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Tolak Bala pada Bayi

Tolak Bala pada Bayi

admin by admin
April 10, 2026
in Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gde Mahesa

Kehadiran bayi sebagai anggota keluarga baru tentu sangat dinantikan oleh keluarga. Di Indonesia dengan latar belakang tradisi budaya masih banyak masyarakat menjalankan ritual adat, dari seorang ibu yang sedang mengandung hingga bayi lahir.

Tradisi tolak bala untuk bayi di berbagai daerah umumnya bertujuan memohon keselamatan, kesehatan, dan perlindungan dari gangguan gaib atau penyakit, yang sering disimbolkan melalui doa bersama, sesajen, atau ritual khusus. Aktifitas ini sering dikaitkan dengan nilai sosial-budaya seperti silaturahmi, gotong royong, dan sedekah, yang diyakini dapat menolak bencana.

Sejarah panjang ritual tolak bala di Indonesia bermula sejak zaman animisme dan dinamisme, ketika masyarakat percaya bahwa setiap benda memiliki roh atau kekuatan gaib. Mereka berusaha hidup berdampingan dengan alam dan makhluk halus dengan melakukan ritual-ritual tertentu, termasuk ritual untuk menjauhkan diri dari bencana dan penyakit.

Hal sederhana dan sering dijumpai di masyarakat, bahwa ibu hamil ataupun bayi yang baru lahir menggunakan peniti yang dikaitkan gunting lipat dan semacam rempah yang bernama bangle. Menurut kepercayaan masyarakat, benda-benda tersebut sebagai penangkal untuk mencegah agar tidak mudah tertular berbagai penyakit dan sebagai pelindung dari gangguan makhluk halus.

Tradisi unik masyarakat Jawa dalam momen kelahiran bayi sarat akan makna dan nilai budaya, hadirnya anggota baru dalam keluarga, tetapi juga menunjukkan kolaborasi budaya asli dengan ajaran Islam yang diwariskan sejak zaman Walisongo.

Beberapa tradisi tolak bala untuk bayi di berbagai daerah:

  • Among-Among Weton (Jawa): Dilaksanakan setiap hari weton bayi hingga umur 8 bulan, berupa syukuran dan pembagian makanan (nasi tumpeng, sayuran, lauk) untuk mendoakan keselamatan.
  • Menimbang Bayi (Suku Tidung, Kaltara): Bayi yang lahir di bulan Safar ditimbang menggunakan bahan sayuran dan makanan tradisional imbiuku untuk menghindari bala.
  • Selapanan (Jawa): Upacara selapanan pada usia 35 hari, yang sering disertai pemotongan rambut dan doa, bertujuan melindungi bayi dari hal-hal negatif.
  • Bubur Sengkolo (Jawa): Penyajian bubur merah putih (jenang sengkolo) sebagai simbol tolak bala untuk menghindarkan bayi dari musibah.
  • Puputan (Yogyakarta): Ritual pemotongan tali pusar, yang diiringi dengan sesajen seperti jenang abang putih untuk memohon keselamatan.
  • “Amit-amit Jabang Bayi”: Ungkapan yang diucapkan saat bayi dipuji berlebihan untuk menangkal sawang (pandangan buruk). 

Adalagi tradisi meletakkan bayi yang baru lahir di atas nampan lalu dipukul-pukul nampannya (pelan-pelan) adalah salah satu ritual adat Jawa yang masih dilakukan di beberapa daerah. Tujuannya dimaksudkan sebagai simbol perlindungan dan pembiasaan agar bayi tidak mudah kagetan ketika mendengar suara keras.

Dalam kepercayaan Jawa, suara-suara seperti pukulan, ketukan, atau bunyi logam dianggap mampu mengusir roh jahat yang mungkin mendekat ke bayi yang baru lahir. Di masa sekarang banyak keluarga yang melakukan hal ini dengan cara modern, yaitu hanya dengan suara lembut atau bunyi musik tradisional.

Semua kegiatan ritual tradisi memiliki pesan moral dan spiritual yang mendalam, mulai dari harapan keselamatan hingga pengingat untuk senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan, dan tradisi-tradisi ini terus dilaksanakan hingga sekarang, bukan hanya karena alasan religius, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya yang mempererat hubungan sosial masyarakat.

Bullll…. Bullllll…. Klepussss……

Tags: ritual bayi lahirtolak bala pada bayi
Previous Post

Luka Lama di Jantung Islam: Menelusuri Akar dan Geopolitik Perseteruan Sunni-Syiah

Next Post

Indonesia Incorporated: Visi Besar di Persimpangan Kepentingan

admin

admin

Next Post
Indonesia Incorporated: Visi Besar di Persimpangan Kepentingan

Indonesia Incorporated: Visi Besar di Persimpangan Kepentingan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version