Bumi ini dulu bernyanyi,
menumbuhkan padi,
menenangkan anak-anak yang tertidur pulas
di rumah yang dibangun dengan harapan.
Kini ia menangis…
air matanya adalah banjir,
ratapannya adalah longsor,
teriaknya adalah gelondongan kayu
yang menghantam rumah dan kehidupan.
Siapa yang menyakiti bumi?
Bukan hujan…
Bukan gunung…
Bukan sungai…
Kitalah yang menebang tanpa menanam,
mengambil tanpa menjaga,
membangun tanpa menghitung nyawa.
Leluhur pernah berpesan:
“Jaga hutan, maka hutan menjaga engkau.
Hormat pada tanah, maka tanah memberi makanmu.”
Namun pesan itu dilupakan
oleh tangan-tangan yang menukar masa depan
dengan kekayaan sesaat.
Lihatlah…
yang pergi bukan hanya rumah,
tapi juga impian…
yang dibawa hanyut bukan hanya kayu,
tapi juga masa depan anak-anak.
Hari ini bumi menangis untuk mengingatkan:
bencana bukan hukuman,
melainkan cermin dari kelalaian kita.
Mari berhenti menyalahkan langit.
Mari tengok ke hati:
apakah kita bagian dari masalah,
atau bagian dari perbaikan?
Bangkitlah, Indonesia—
dari puing bukan hanya bangunan,
tapi kesadaran.
Peluk kembali hutan yang tersisa.
Tanam harapan yang baru.
Belajar lagi pada sungai, angin, dan gunung
yang lebih bijak dari ambisi manusia.
Karena bila tanah terus menangis,
maka suatu hari
air mata itu akan menenggelamkan kita semua.
— Jakarta, 7 Desember 2025
Brigjen Purn. MJP Hutagaol