Site icon Jayakarta News

Warna-warni Dupa dan Peruntukannya

Oleh Gde Mahesa

Membakar dupa atau atau juga kemenyan, sebenarnya merupakan tindakan menciptakan suasana yang hening dan sakral. Dalam budaya tradisi dilengkapi dengan sesaji dan bunga sebagai media perantara kepada Sang Hyang Maha – Gusti Pengeran.

Kita sering menjumpai dupa yang berwarna-warni, tentunya hal ini ada makna dan artinya.

Warna dupa Coklat atau Kuning, merupakan simbolisasi dari : persembahan umum.

Merah adalah doa permohonan dan persembahan kepada leluhur.

Hitam merupakan simbol ritual kejawen, japa mantra, dan mistisisme.

Hijau bermakna ritual pemakaman, acara berkabung, serta persembahan kepada jenazah.

Ada hal sepele tapi penting, soalnya terkadang saya tidak menunggu sampai nyala habis, jika mbakar menyan atau dupa, seyogianya dan sebaiknya ditunggu sampai mati atau habis. Sambil nunggu bisa dimanfaatkan untuk hening rasa lan donga mantra tentang maksud tujuan.

Siapa tahu nyundul langit, nyubles bumi sehingga kasembadan.

Dupa memiliki banyak manfaat spiritual, tidak ada praktik yang melibatkan makan dupa. Penggunaannya terbatas pada pembakaran untuk menghasilkan aroma dan asap yang digunakan dalam ritual dan upacara. 

Nah jika ada yang makan dupa nyala hal tersebut menurut saya adalah atraksi yang kompleks dan beragam, dengan tujuan dan makna yang berbeda tentunya. Ada pepatah, orang sakti tidak perlu makan dupa, tetapi… nyruput kopi pahit dan bullll bullll klepussss…..

Exit mobile version