Oleh Egy Massadiah
Sepasang sepatu merek Nike menggiring ingatan saya kembali ke Manhattan. Di dalamnya tersimpan perhatian seorang sahabat, yang jejaknya bertahan lebih lama daripada benda yang diberikan.
Ingatan itu membuncah ketika Presiden Prabowo Subianto memberikan tugas baru kepada Jenderal Maruli Simanjuntak sebagai Wakil Panglima TNI merangkap Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil. Sahabat yang dahulu menemani saya berjalan kaki di New York, kini mengemban tanggung jawab untuk mendekatkan pelayanan dan kesejahteraan kepada warga di tempat-tempat yang jauh dan terpencil.
Traktir Sepatu
Akhir September 2018, kami berada di New York bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Maruli menjalankan tugas pengawalan sebagai Wadanpaspampres, sementara saya menjadi bagian dari rombongan.
Di sela agenda, kami berjalan kaki di kawasan 42nd Street, dekat Hotel Westin. Kami mampir ke toko perlengkapan olahraga. Maruli menarik dompetnya. Sepatu casual hitam bercorak loreng cokelat pekat berpindah ke tangan saya.
Saya menggodanya: sepatu itu saya anggap sebagai bagian dari gaji pertamanya sebagai brigadir jenderal. Jadilah saya ikut menikmati gaji pertama sang jenderal ini.
Ia tertawa. Tentu dengan tawanya yang khas.
Sepatu itu baru saya pensiunkan sekitar 2024, setelah enam tahun menemani langkah. Solnya aus, tetapi perhatian seorang sahabat tetap utuh dalam ingatan.
Merawat Persahabatan
Persahabatan kami bermula jauh sebelum Manhattan. Saya mengenal Maruli ketika lulusan Akmil 1992 itu masih berpangkat letnan dua. Penautnya adalah latihan judo mereka. Di situlah pertemanan kami tumbuh.
Interaksi semakin intens pada masa pemusatan latihan judo yang digagas Prabowo Subianto ketika memimpin Kopassus, dengan mendatangkan Prof. Lee dari Korea Selatan. Saya mengenal Maruli sebagai pribadi tekun, bersahaja, spontan, dan penuh kelakar. Gayanya orisinil. Meski berdarah Batak, celetukannya kerap berbau Sunda. Maklum ia lama tinggal di Bandung.
Dalam bela diri judo, di atas tatami, kekuatan memerlukan kendali dan gerakan membutuhkan ketepatan. Jejak pembentukan itu saya lihat dalam caranya bekerja: membaca persoalan, mencari jalan keluar, lalu bergerak.
Saya mencermati perjalanan penugasannya dari jarak dekat: Kopassus, Paspampres, Korem 074/Warastratama, Kasdam Diponegoro, Kodam IX/Udayana, Kostrad, hingga memimpin Angkatan Darat.
Pangkatnya bertambah. Cara menyapanya tetap saya kenali. Bagi saya, ia tetap “Ucok”. Semasa menjabat Pangkostrad dan Kasad kerap ia berjalan kaki sambil olah raga ringan dari rumah dinasnya di belakang Balai Kartini ke kantor, bersamaan matahari terbit.
Kembali ke cerita New York. Sebelum tiba di Manhattan, kami singgah di London. Ada agenda Wapres di sebuah kampus di Inggris. Kemudian cucu Jusuf Kalla ingin menonton laga Liverpool melawan Tottenham Hotspur. Sang Wapres pun ikut menonton.
Maruli dan anggota Paspampres mengawal, termasuk ketika perjalanan ditempuh dengan kereta di tengah kerumunan pendukung sepak bola. Sang wapres memilih menggunakan transportasi publik.
Saya ingat komandan Grup B yang mengawal wapres adalah Kolonel PAS Deny Muis (sekarang bintang 3 Dankopasgat) serta Athan Inggris Kolonel Rui Duarte (Sekarang bintang 3 juga Irjen Kemhan), ajudan yang bertugas Kombes Awal Chairuddin (sekarang bintang dua, Kapolda Sul Sel).
Di situ saya melihat kecakapan menjaga tanpa menghilangkan keleluasaan orang yang dijaga. Tanggung jawab tetap melekat di tengah suasana yang cair.
Pengakuan Doni Monardo
London, Manhattan, Cijantung, dan sepasang sepatu Nike menjadi bagian percakapan kami sepanjang tahun. Penugasan membawa kami ke tempat berbeda; komunikasi terus terpelihara.
Kedekatan itu juga mempertemukan saya dengan kesaksian almarhum Letjen Doni Monardo. Doni menceritakan langsung ke saya, saat itu saya sebagai Tenaga Ahli Media Kepala BNPB 2019-2021. Kata Doni, seleksi Komandan Grup A ketika ia memimpin Paspampres dilakukan ketat. Menurut Doni, dari delapan kolonel peserta, Maruli memperoleh hasil nilai tertinggi dalam rangkaian pengujian sehingga dipilih untuk jabatan tersebut.
Kesaksian itu membantu saya memahami perjalanan Maruli melalui kemampuan yang diuji dan tanggung jawab yang ditunaikan.
Saya pun mengingat ungkapannya: “Tempat terbaik saya adalah berada di tengah anggota.”
Seorang komandan yang hadir di antara prajuritnya dapat mendengar sesuatu yang belum tentu sampai ke meja rapat. Ia mengenali wajah di balik angka kekuatan satuan, beserta keluarga, kelelahan, dan harapannya.
Bencana NTT
Perhatian serupa saya temukan dalam pekerjaannya untuk masyarakat. Ketika mendampingi Doni dalam penanganan bencana di NTT, saya kembali bertemu Maruli di Bandara Maumere NTT. Saat itu ia menjadi Pangdam IX/Udayana. Di waktu yang lain kami bersua di Bali. Di wilayah itulah upayanya menyediakan air bersih membuat sebutan “Bapak Air” melekat.
Belakangan, keterlibatan saya menjadi salah satu team dalam buku “Maruli Bapak Air” dan penulisan buku tentang “jembatan” mempertegas benang merah pengabdiannya: mengurangi kesulitan yang setiap hari harus ditempuh warga.
Air mengajarkan kerendahan hati: mencari jalan menuju tempat rendah, mengisi ruang yang kosong, lalu menghidupkan. Dalam pengabdian, saya membacanya sebagai kesediaan menjangkau mereka yang paling sulit memperoleh pelayanan. Air menemukan maknanya ketika tiba di rumah warga.
Jembatan mengajarkan kesediaan memahami dua sisi. Fondasinya berpijak di tepian berbeda, bentangnya mempertemukan kebutuhan. Di atasnya, bocah bocah berangkat sekolah, hasil kebun menuju pasar, dan orang sakit memperoleh jalan menuju pertolongan. Besi dan beton menjadi bahasa tentang harapan yang tersambung.
Pohon yang ditanam Maruli bersama Doni di Labuan Bajo menyimpan pelajaran lain: manfaat memerlukan kesabaran merawat. Akar menjaga tanah, tajuk memberi teduh, dan kehidupan bertaut di antaranya.
Merawat alam berarti menjaga rumah tempat seluruh pekerjaan manusia berlangsung. Jalan membutuhkan lereng yang kukuh, air membutuhkan daerah resapan, dan kampung membutuhkan tanah yang tetap subur. Menjaga bumi adalah merawat fondasi kesejahteraan, termasuk bagi generasi yang belum dapat menyampaikan kebutuhannya hari ini.
Fakta lain, saat menjabat Danrem di Solo, Maruli menggerakkan masyarakat menanam pepaya jenis California dan aneka buah lainnya. Ini dikerjakan bersama rakyat setempat dan diceritakan kepada saya oleh Bonek, alias Utomo pemuda binaannya yang kini menetap dan memelihara ikan lele di Yogya.
Tugas Baru
Pengalaman itu kini memasuki medan tanggung jawab yang lebih luas.
Sebagai Wakil Panglima TNI, tugas utama Maruli ialah membantu Panglima menjalankan kepemimpinan dan tugas organisasi. Tantangan pentingnya adalah memperkuat keterpaduan tiga matra: memastikan kesiapan personel, latihan, komunikasi, logistik, dan operasi bersama saling menopang.
Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara memiliki karakter serta kebutuhan berbeda. Menyatukan geraknya memerlukan pembagian tugas yang jelas, ketepatan keputusan, dan kemampuan membangun kerja sama. Perubahan teknologi, ancaman siber, serta perkembangan lingkungan strategis menuntut kesiapan untuk terus belajar dan memperbarui cara kerja.
Sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil (BNPPDT) ia menghadapi persoalan jarak dalam kehidupan masyarakat: medan sulit, permukiman berjauhan, biaya distribusi tinggi, serta pelayanan dasar yang belum mudah dijangkau.
Tanggung jawab ini membutuhkan kemampuan menyelaraskan kebijakan, program, dan pelaksanaan lintas kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Pengelolaan batas negara dan pembangunan wilayah harus berjalan bersama peningkatan kesejahteraan warga.
Tantangannya ialah memastikan koordinasi menghasilkan pekerjaan yang selesai, anggaran menjawab kebutuhan, dan sarana tetap berfungsi setelah diresmikan. Kearifan masyarakat setempat serta daya dukung alam harus memperoleh tempat sejak perencanaan.
Ukuran Keberhasilan
Keberhasilan akan diuji oleh pertanyaan sederhana: dapatkah guru mencapai sekolah sepanjang tahun? Seberapa cepat orang sakit mendapat pertolongan? Apakah air tersedia saat kemarau? Berapa biaya membawa hasil kebun ke pasar?
Jarak di peta diukur dengan kilometer; jarak dalam kehidupan diukur dengan kesulitan yang harus ditempuh.
Patok menegaskan kedaulatan. Keamanan, pelayanan, dan kesempatan ekonomi memperkuat kepercayaan kepada negara. Bagi warga setempat, kampung yang disebut terpencil itu adalah pusat kehidupan mereka.
Sesungguhnya, tidak ada tempat yang dengan sendirinya terpencil. Keterpencilan juga tumbuh dari hubungan yang terputus. Tempat yang dekat dapat menjadi jauh ketika tak pernah dikunjungi, suaranya tak didengar, dan kebutuhannya luput diperhatikan. Sebaliknya, tempat yang jauh menjadi dekat ketika warganya terus disapa, diperhatikan, dan dilibatkan.
Saya pun teringat lagu Tipe X, diciptakan oleh Tresno Riadi bersama Billy. Lagu ini kerap dinyanyikan oleh Maruli bersama perajuritnya. Liriknya berbunyi : Percayalah padaku, meski di gelap malam kamu nggak sendirian, Dan semua bintang yang kutinggalkan, Temani kau sampai akhir malam. Saya yakin, makna lagu itu pasti ia akan bawa sebagai semangat mengurusi daerah “terpencil.”
Oleh karenanya, kehadiran dan “temani” menemukan maknanya ketika kunjungan berlanjut menjadi pelayanan, akses terbuka, dan ekonomi bergerak. Hasil kebun memperoleh pasar, usaha warga mendapat kesempatan, dan keluarga memiliki penghidupan yang lebih baik.
Kata kuncinya ialah kesejahteraan rakyat di tanah yang mereka sebut rumah, meskipun orang lain menjulukinya terpencil.
Di sinilah saya melihat pertautan kedua amanah Maruli. Kesiapan pertahanan menjaga ruang hidup bangsa; pembangunan membuat warga merasakan manfaat menjadi bagian darinya. Keduanya membutuhkan kehadiran negara yang dapat diandalkan.
Saya meyakini ia mampu menghadirkan inovasi dalam melaksanakan penugasan Presiden. Keyakinan itu tumbuh dari perkenalan panjang, dari keberaniannya mencoba, kreativitas mencari jalan keluar, dan kesediaannya turun melihat persoalan.
Skala tanggung jawab yang baru menuntut prakarsa itu tumbuh menjadi kekuatan organisasi: prioritas yang jelas, kerja lintas lembaga yang kokoh, serta ketekunan mengawal hasil. Pengalaman lapangan menjadi bekal untuk membangun cara kerja yang dapat diteruskan banyak orang.
Kearifan Lokal
Dalam tradisi Batak Toba, ada falsafah Dalihan Na Tolu, tungku berkaki tiga yang melambangkan hubungan saling menopang. Nilainya dirangkum dalam ungkapan: “Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu.”
Maknanya: menghormati kerabat pemberi istri, mengayomi kerabat penerima istri, serta berhati-hati menjaga hubungan dengan saudara semarga. Dalam tatanan kekerabatan itu, setiap hubungan membawa tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan.
Saya membacanya pula sebagai pelajaran kepemimpinan: hormat, kepedulian, dan kehati-hatian membuat kebersamaan tetap kukuh. Tungku dapat menyangga kehidupan karena kaki-kakinya saling melengkapi.
Nilai itu berjumpa dengan kearifan Bugis yang saya hayati: sipakatau, saling memanusiakan; sipakalebbi, saling memuliakan; dan sipakainge’, saling mengingatkan.
Keakraban memberi ruang untuk berterus terang. Hormat menjaga agar keterusterangan tetap bermakna. Lebih dari tiga dasawarsa, hubungan itu kami rawat melalui sapaan, perhatian, dan tawa.
Jarak Bukan Penghalang
Saya kembali teringat sepatu merek Nike di Manhattan. Sepatu itu telah selesai menunaikan tugasnya. Persahabatan kami terus berjalan.
Selamat mengemban amanah, Jenderal “Ucok” Maruli Simanjuntak.
Semoga keteguhan langkahmu memperkuat kesiapan prajurit, menyatukan kerja bersama, dan membuka jalan bagi warga yang selama ini harus menempuh terlalu banyak kesulitan.
Dahulu, sepasang sepatu menemani langkah seorang sahabat. Kini, amanah menuntut langkahmu menjangkau lebih banyak kehidupan: mengalirkan pelayanan seperti air, mempertemukan harapan seperti jembatan, dan merawat masa depan seperti pohon yang dijaga hingga berakar.
Agar yang jauh tetap menjadi bagian, yang jarang disapa memperoleh perhatian, dan rakyat hidup sejahtera di bumi yang terpelihara.
Di sanalah pengabdian meninggalkan jejak: ketika jarak tak lagi menjadi penghalang bagi harapan. (*)
Penulis adalah jurnalis senior, pegiat teater dan Tenaga Ahli Utama Menteri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia
