JAYAKARTA NEWS – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai 3.588 ribu ton atau naik 12,56 persen dibandingkan bulan Juli sebesar 3.188 ribu ton.
“Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, total ekspor mencapai 23.370 ribu ton, lebih tinggi 2,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 22.696 ribu ton,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) GAPKI Hadi Sugeng di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Lebih lanjut Hadi menyebutkan, peningkatan terjadi pada ekspor olahan minyak sawit menjadi 2.643 ribu ton dari 2.296 ribu ton (15,12 persen), ekspor CPO menjadi 329 ribu ton dari 249 ribu ton (31,83 persen), dan ekspor olahan minyak inti sawit menjadi 113 ribu ton dari 99 ribu ton (14,58 persen).
Hadi mengungkapkan, nilai ekspor produk sawit pada bulan Agustus 2026 mencapai US$4,29 miliar, naik dari US$3,81 miliar pada bulan Juli atau sebesar 12,62 persen.
“Rata-rata harga ekspor CPO pada bulan Agustus US$ 1.164 per ton lebih rendah dari harga rata-rata bulan Juli sebesar US$ 1.168 (-0,34 persen),” kata Hadi.
Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, nilai ekspor mencapai US$27,55 miliar, lebih tinggi 11,14 persen dari tahun 2025 sebesar US$ 24,78 miliar. “Peningkatan nilai ekspor terjadi antara lain karena harga tahun 2026 yang relative lebih baik,” kata Hadi.
Hadi menyebut, rata-rata harga ekspor CPO selama Januari-Agustus 2026 tercatat US$1.140 per ton, lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata periode yang sama tahun 2025 sebesar US$1.075 per ton.
Menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor pada bulan Agustus 2026 dibandingkan bulan Juli 2026 antara lain terjadi untuk tujuan Pakistan sebesar 265 ribu ton (+113 persen), India sebesar 89 ribu ton (+27 persen), Russia sebesar 77 ribu ton (+250 persen), Bangladesh sebesar 66 ribu ton (+48 persen) dan Malaysia sebesar 38 ribu ton (+26 persen).
Sedangkan penurunan ekspor terjadi pada oleokimia yang turun menjadi 501 ribu ton dari 537 ribu ton pada bulan sebelumnya (-6,74 persen) dan ekspor CPKO turun menjadi 3 ribu ton dari 7 ribu ton (-62,54 persen).
Sementara penurunan ekspor terjadi untuk tujuan EU-27 sebesar 160 ribu ton (-44 persen). USA sebesar 36 ribu ton (-14 persen), China sebesar 19 ribu ton (-3 persen) dan Afrika sebesar 13 ribu ton (-3 persen).
Namun jika dihitung secara kumulatif selama periode Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025 adalah: ekspor ke China 24,7 persen lebih tinggi, Russia 11,5 persen lebih tinggi, Malaysia 7,8 persen lebih tinggi, Bangladesh 6,2 persen lebih tinggi dan Afrika 3,8 persen lebih tinggi.
Sebaliknya ekspor untuk tujuan India 20,2 persen lebih rendah dari tahun 2025, USA 3,9 persen lebih rendah, Pakistan 1,7 persen lebih rendah dan EU-27 0,4 persen lebih rendah.
Untuk produksi CPO bulan Agustus 2026, GAPKI mencatat ada penurunan 0,50 persen. Pada Agustus produksi CPO mencapai 4.880 ribu ton, bulan sebelumnya 4.904 ribu ton. Produksi PKO bulan Agustus juga turun menjadi 464 ribu ton dari 466 ribu ton di bulan Juli.
“Sehingga total produksi CPO dan PKO bulan Agustus 2026 mencapai 5.343 ribu ton atau turun -0,50 persen dari bulan sebelumnya 5.370 ribu ton,” ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) GAPKI Hadi Sugeng di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, total produksi CPO+PKO mencapai 40.997 ribu ton, lebih tinggi 5,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 39.037 ribu ton.
GAPKI juga mencatat, total konsumsi dalam negeri pada bulan Agustus 2026 mencapai 2.304 ribu ton, naik 1,28 persen dibandingkan bulan Juli sebesar 2.275 ribu ton.
“Peningkatan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.350 ribu ton, naik 5,03 persen dari 1.285 ribu ton pada bulan Juli,” jelas Hadi.
Sementara itu, lanjut Hadi, untuk konsumsi pangan yang turun -3,79 persen menjadi 775 ribu ton dari 805 ribu ton di bulan Juli dan konsumsi oleokimia juga turun -2,70% menjadi 180 ribu ton dari 185 ribu ton di bulan Juli.
Namun, kata Hadi, secara kumulatif Januari-Agustus 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 17.523 ribu ton, lebih tinggi 6,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 16.406 ribu ton.
Dengan stok awal tahun sebesar 2.068 ribu ton, total produksi Januari-Agustus 2026 sebesar 40.997 ribu ton, total konsumsi dalam negeri sebesar 17.523 ribu ton, total ekspor sebesar 23.370 ribu ton, serta impor sebesar 43 ribu ton, maka stok akhir bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 2.214 ribu ton. (yog)
