Agribisnis
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel
JAYAKARTA NEWS – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengakui beras premiun sempat kosong di sebagian ritel. Namun dipastikan stok masih tersedia.
“Sebenarnya tidak langka. Kalau dibilang langka, tidak. Kami juga turun bersama tim, (memang) ada beberapa ritel yang kosong tapi sebagian ritel masih ada. Beras Bulog masih ada,” ungkap tutur Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikutip Senin (27/7/2026).
Ketut mengatakan, beras premium dengan berbagai merek, termasuk beras dari ID Food. Rania dan lain sebagainya masih tersedia. Bapanas juga memastikan pasokan beras premium akan terus disalurkan, termasuk ke lini pasar ritel modern.
Namun ketut memastikan, ketersediaan beras kualitas premium di pasaran tidak sedang dalam kondisi yang langka. Pemerintah meyakini stok beras premium masih cukup tersedia, terutama produk beras premium dari BUMN.
Namun Ketut mengakui, terdapat sedikit fluktuasi harga untuk beras premium. Meski masih dalam koridor yang tidak jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET).
Dalam pantauan harga pangan yang dilakukan Bapanas, rata-rata harga beras premium secara nasional per 24 Juli berada di Rp 15.966 per kilogram (kg). Namun level harga tersebut merupakan rerata harga dari keseluruhan 3 zonasi HET beras premium.
Pada Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi) rata-rata harga beras premium hanya sedikit melebihi HET. Per 24 Juli tercatat di Rp 15.224 per kg atau 2,17 persen tipis melebihi HET beras premium yang ditetapkan pada Rp 14.900 per kg.
“Kalau dilihat dari harga, relatif, tapi ada beberapa yang stabil. Kalau menengah ke atas, naik sedikit, oke lah,” kata Ketut.
Pemerintah, lanjut Ketut, terus melakukan intervensi melalui program bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras. Sejak Januari tahun 2026, total Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah disalurkan ke masyarakat telah mencapai 1,4 juta ton.
Capaian tersebut terdiri dari realisasi penjualan beras SPHP pada Januari-Februari 2026 sebanyak 221,05 ribu ton yang merupakan perpanjangan SPHP beras tahun 2025.
Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai Juli ini 520,83 ribu ton ditambah realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,88 ribu ton.
Untuk itu, Bapanas mengajak publik untuk tidak hanya melihat kondisi perberasan di hilir saja. Melainkan perlu juga mengamati kondisi di hulu terkait kondisi petani padi dalam negeri saat ini seperti apa.
“Kita jangan melihat di hilir saja. Kita harus melihat di hulu. Kalau kita ingin swasembada, tentu petani kita sedang nyaman-nyamannya sekarang, sangat nyaman berproduksi,” jelas Deputi Bapanas Ketut.
Sementara itu, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) menegaskan, tidak boleh sampai terjadi kelangkaan beras. Ketersediaan beras untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri dipastikan tidak ada kendala.
“Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita (itu) langka,” tegas Amran.
Amran mengingatkan, pelaku usaha perberasan agar tidak ada lagi anomali. Harga beras untuk masyarakat harus dapat terkendali dan tidak boleh ada yang mempermainkan harga.
“Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak,” pungkas Amran. (yog)