Entrepreneur

Lika-liku Bisnis Kepiting di Mandailing Natal

Published

on

JAYAKARTA NEWS – Kepiting adalah salah satu makanan sajian seafood yang istimewa dan banyak digemari. Menu seafood memiliki nilai protein tinggi.

Ada beberapa jenis kepiting yang dapat dikonsumsi, salah satunya Kepiting Bakau. Jenis kepiting ini mudah ditemukan di perairan Indonesia. Kepiting bakau memiliki warna hitam kehijauan, relatif hampir sama dengan warna lumpur, capitnya berwarna sedikit kekuningan.

Keunikan Kepiting Bakau adalah selalu menggali lubang sebagai tempat berlindung, dan jarang terlihat jauh dari lubangnya. Dari segi siklus hidupnya, Kepiting Bakau menjalani kehidupannya dari perairan pantai ke laut, lalu induk kepiting berusaha kembali ke perairan pantai, muara sungai, atau hutan bakau untuk berlindung, mencari makanan, atau membesarkan diri.

Kepiting bakau memiliki ukuran mencapai sejengkal tangan manusia bahkan bisa lebih. Menurut salah seorang pengepul kepiting, Zamruddin di Desa Kunkun, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, “Berat kepiting bakau bisa mencapai 2,5 kg per ekor,” katanya kepada Jayakarta News.

Zamruddin, pengepul kepiting di Desa Kunkun, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. (foto: monang sitohang)

Zamruddin memulai usaha sebagai pengepul kepiting di Desa Kunkun sejak 2009. Jadi bisa dikatakan sudah piawai dalam hal melihat bagaimana habitat keseharian kepiting bakau. Dalam sehari ia bisa mendapatkan kepiting bakau dari para nelayan antara 35-40 kg. Sebulan bisa mencapai berkisar 1,5 ton.

“Jadi pendapatan nelayan kepiting di Desa Kunkun ini terbilang lumayan, karena sehari bisa berpenghasilan minimal dua ratus ribu saat air kering. Apabila air pasang maksimal bisa mencapai sekitar satu juta per-hari,” ujar moncu Zamruddin, sebutan yang diberikan kepada saudara dari orang tua laki-laki di Natal.

Saat air pasang, di situlah kesempatan para nelayan kepiting untuk dapat menabung. Sedangkan saat air kering nelayan hanya bisa menangkap kepiting untuk hasil yang hanya cukup bagi kebutuhan sehari-hari.

Keranjang-keranjang berisi kepiting Bakau siap dikirim keluar daerah Mandailing Natal. (foto: monang sitohang)

Kepiting-kepiting bakau tadi kemudian dikirim memenuhi pesanan pengusaha kuliner seafood yang ada di Medan, Padang, Pangkalan Susu, dan daerah-daerah lain yang terjangkau. Dalam satu hari, rata-rata bisa mengirim kurang lebih 40 kilogram kepiting bakau ke berbagai tujuan.

Cara pengiriman kepiting menggunakan keranjang yang oleh masyarakat Natal disebut keranjang salak. “Bagian dasar keranjang dialasi karton basah terlebih dahulu, minimal dua lapis lalu kepiting-kepiting dimasukkan sampai setengah keranjang. Setelah itu dialasi kembali dengan karton basah dua lapis, lalu masukkan kembali kepiting sampai penuh. Bagian paling atas dialasi kembali karton basah dan ditambah es batu dalam kantong plastic dan diletakkan di atas. Setelah itu ditutup goni dan dijahit rapi,” jelas moncu Zamruddin.

Maka tahapan packing kepiting sebelum dikirim ada tiga tingkat dan dua lapis karton dalam satu keranjang. Satu keranjang yang telah di-packing seberat 35 kg.

Kepiting bakau yang sudah dimasak, dan siap disantap. (foto: monang sitohang)

Kepiting Kosong

Kepiting yang dikumpulkan dari nelayan tidak semua berdaging, terkadang ada yang masih kosong belum berdaging. Ketika menemukan kepiting-kepiting seperti ini maka cara mengatasinya dengan memasukkan ke tambak-tambak yang sudah dipersiapkan. Ia dipelihara di tambak tadi sampai berdaging dan layak jual.

Biasanya, sebulan setelah dibesarkan di tambak, kepiting-kepiting tak berdaging tadi sudah berdaging dan siap dijual. Dalam sebulan di tambak itu, kepiting-kepiting kosong diberi pakan. Cara memberi makan juga tidak sembarangan.

Caranya, menjelang air pasang, ditebar potongan-potongan ikan sebagai pakan kepiting. Untuk diketahui, kepiting-kepiting tadi dilepas tetap dengan posisi capit terikat. “Biar capit diikat, mereka tetap bisa makan menggunakan kaki-kaki yang lain,” ujarnya.

Kebiasaan makan kepiting mirip manusia, yang memiliki jam makan. Tidak seperti hewan lain seperti kambing atau sapi yang bisa makan kapan saja. Bedanya, manusia makan dengan tenggat jam: pagi, siang, malam. Maka, masa makan kepiting menunggu air pasang. Jika air bergerak pasang, saat itulah jam makan kepiting. Ketika air berhenti bergerak, kepiting tidak lagi makan.

Masa pasang air tidak menentu, bisa pagi pukul 06.00 WIB, atau bisa siang sekitar pukul 14.00 WIB. “Jadi jam makan kepiting itu hanya sekali dalam sehari,” katan Zamruddin.

Kepiting termasuk jenis kanibal. Ia akan makan teman sendiri saat kelaparan. “Jadi kalau ada pemilik tambak kepiting mengaku kehilangan kepiting, itu tidak benar. Yang benar, mereka dimakan kepiting yang lain sehingga jumlahnya berkurang,” tambahnya.

Usai penggemukan selama sebulan, kepiting yang dibeli seharga Rp 40 ribu per kilogram, bisa dijual dengan harga Rp 100 ribu per kilogram.

Zamruddin lantas menyebut jenis kepiting lain yang banyak dikirim ke Medan, yakni kepiting soka atau kepiting lembek. Disebut lembek, karena setelah cangkang dilepas, kepiting soka bisa langsung dicampur tepung dan digoreng. Termasuk ketika hendak diekspor, kepiting soka tidak disertakan cangkangnya.

Di daerah Natal, kepiting soka populasinya tidak sebanyak kepiting bakau. Dalam sehari, nelayan hanya bisa mendapatkan sekitar 5 kg kepiting soka. Karena jenisnya yang lembek, maka usai ditangkap, kepiting ini harus disimpan di dalam freezer, karena Zamruddin tidak banyak menampung kepiting soka.

Kendala Pengiriman

Sejauh ini, pengiriman kepiting ke daerah-daerah lain di luar Natal, menggunakan jalur darat. Zamruddin merasa kendala pengiriman menjadi salah satu faktor yang ada kalanya mengganggu roda bisnis kepiting di daerah Natal. “Kalau hari itu tidak ada kendaraan menuju Medan, ya terpaksa kami tunggu besoknya,” ujarnya.

Alternatif pengiriman lain adalah dengan cara menitip kepada travel atau angkutan bus antarkota. Meski begitu, sistem pembayarannya tidak langsung ke kantor jasa travel atau kantor perusahaan otobus, melainkan transaksi langsung dengan sopir.

“Kalau saat pertama saya menjadi penampung kepiting di Kunkun, pengiriman dilakukan secara estafet, dari Natal menuju Penyambungan, kemudian dari Penyambungan baru ke Medan. Sampai Medan naik becak lagi antar ke alamat pemesan,” ujar moncu Zamruddin mengenang masa awal usaha pengepul kepiting. (Monang Sitohang)

VIDEO TERKAIT:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version