JAYAKARTA NEWS— Partai Demokrat ‘berpesta-pora’. Mereka berhasil merebut kendali penuh atas Kongres (DPR dan Senat) dalam Pemilu Sela, 3 November 2026. Kemenanan ini didorong ketidakpuasan pemilih terhadap perang dengan Iran yang diluncurkan 28 Februari lalu sehingga berakibat melonjaknya harga gas dan krisis biaya hidup, dikutip dari NBC News.
Donald Trump menyebut kekalahan Partai Republik disebabkan tingginya biaya perang AS dengan Iran. “Hal yang berkaitan dengan Iran harus kami lakukan, dan kami akan terus melakukannya”, katanya kepada wartawan di lokasi pembangunan renovasi Gedung Putih, dikutip dari Al Jazeera. “Harganya, bukan perang”, adalah penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela, ucap Trump.
Perang di Iran harus Diakhiri
Mengutip Al Jazeera, Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyalahkan Presiden Donald Trump atas pergeseran dukungan partai di negara-negara bagian kunci. Ia menyebut sang Presiden menghabiskan “separuh waktunya untuk membahas hal-hal yang tidak relevan dengan kehidupan (para pemilih).”
Ia menyebut, Partai Republik tidak menaruh perhatian pada kenaikan biaya layanan kesehatan, tagihan listrik, serta harga bahan bakar dan solar.
“Rakyat Amerika tidak menyukai arah negara kita saat ini,” ujarnya. “Mereka ingin kita mengendalikan kekacauan yang ditimbulkan Trump, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.”
Schumer menegaskan bahwa perang di Iran merupakan akibat dari korupsi dan penilaian yang tidak menentu dari Trump, seraya merujuk pada jatuhnya korban jiwa di kalangan warga Amerika, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
“Rakyat Amerika tidak tahu untuk apa mereka bertempur di Iran,” kata Schumer. “Perang ini harus diakhiri.”
“Masa di mana Senat tunduk kepada Trump telah berakhir,” tegasnya.
Berbicara kepada para wartawan, ia mengaitkan keberhasilan Partai Demokrat membalikkan keadaan di negara-negara bagian kunci dengan koalisi yang bergerak sebagai “satu kesatuan untuk menentukan isu-isu yang paling dipedulikan oleh rakyat Amerika”. (Sumber: Al Jazeera/NBC News)
