JAYAKARTA NEWS— Jalan perdamaian kedua negara, Rusia – Ukraina yang telah berperang selama empat tahun lebih agaknya mulai terbuka kembali. Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui perundingan damai trilateral dengan AS dan Ukraina yang berpotensi mengakhiri perang.
Mengutip New York Post, penasihat urusan luar negeri Moskow, Yuri Ushakov, menyatakan, Putin setuju “secara prinsip” agar pembicaraan tersebut dilanjutkan setelah tanggal 10 November. Kesepakatan ini dicapai menyusul pertemuan antara pemimpin Rusia tersebut dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg.
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa pembicaraan akan berlangsung “pada tingkat teknis” di antara ketiga negara, yang berarti Putin tidak akan bertatap muka langsung dengan para pemimpin AS maupun Ukraina.
Perubahan sikap Rusia terkait pertemuan trilateral ini juga terjadi menyusul langkah-langkah AS yang menguntungkan Rusia, baik secara diplomatik maupun ekonomi.
Perubahan sikap ini muncul setelah sebelumnya pemimpin Rusia tersebut sempat menolak pertemuan puncak dengan Trump dan Zelensky untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun itu.
Karena marah kepada Zelensky pekan lalu terkait serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia, Trump sempat melontarkan gagasan untuk mengecualikan negara yang tengah dilanda perang tersebut dari pembicaraan trilateral—dan justru mengundang Tiongkok serta Rusia untuk bertemu dengan AS.
Trump menyebut penghancuran kilang minyak Rusia oleh pesawat nirawak (drone) Ukraina telah mengguncang pasar energi global, yang mendorongnya untuk mengumumkan kesepakatan dengan Putin pada 9 Oktober guna mencabut sanksi dan membeli sebagian dari ekspor tersebut.
Selain itu, akses Ukraina terhadap layanan internet satelit Starlink—yang berstandar militer—milik SpaceX sempat dibatasi pekan lalu, sehingga menghambat kemampuan mereka dalam merespons serangan drone Rusia.
Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio membantah adanya keterlibatan sengaja dari pihak AS dalam keputusan tersebut, seraya menegaskan bahwa “Ukraina tidak akan ada saat ini” jika bukan karena bantuan dari AS.
Seorang pejabat pemerintahan mengungkapkan kepada The Post pekan lalu bahwa gangguan pada layanan Starlink tersebut bersumber dari dalam Pentagon.
Laporan lain menyebutkan bahwa CEO SpaceX, Elon Musk, mengambil keputusan tersebut setelah mendiskusikannya secara langsung dengan Trump dan sejumlah pejabat senior lainnya di Gedung Putih.
“Jika bukan karena bantuan dari Amerika Serikat, termasuk di bawah pemerintahan Trump, Ukraina tidak akan ada saat ini,” ujar Rubio pada hari Rabu. (Sumber: New York Post/di)
