
“Ada 1.000 boneka yang dihasilkan para napi di Bali dan Batam. Itu adalah bagian dari program 10.000 Boneka Batik Girl untuk Asean,” ungkap Lusi Kiroyan, Pendiri Yayasan ‘Cinderella’.
Untuk mengerjakan boneka-boneka tersebut, 100 napi wanita (LP Batam dan LP Bali) mereka dibayar Rp10.000 per boneka. Mereka tidak membuat bonekanya tapi membuat baju yang dikenakan boneka. “Para napi harus berkreasi dalam membuat baju-baju boneka ini. Tidak boleh sama. Jadi model baju maupun gaya si boneka masing-masing harus berbeda. Jika sama maka saya minta diulang,” ungkap Lusi.
Dengan begitu, tuturnya, mereka menjadi kreatif tapi lebih dari itu aktivitas ini selain menambah ketrampilan juga membuat mereka mandiri. Mereka dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dengan kemampuan mereka. “Dengan kemandiri dan mau bekerja, berusaha, saya berharap mereka kelak tidak masuk penjara lagi,” ujarnya.
Rencananya 1.000 boneka Batik Girl ini akan dibagikan kepada anak-anak kanker dan disabilitas di seluruh Asean. Untuk tahap pertama Lusi dan timnya akan roadshow di lima negara termasuk Indonesia, yakni, Singapura, Malaysia, Brunnei dan Myanmar. Pada Februari 2018 mendatang dia akan roadshow ke Melbourne dan Darwin.
“Program ini dapat dukungan dari Australian Award Indonesia, juga Bayside Community –sebuah organisasi lokal Australia—serta dukungan dari Bank Mandiri. Pihak KJRI Darwin NT dan Andre Omer Siregar pun ikut membantu,” kata Lusi yang baru-baru ini meraih grant dalam program Hibah untuk Alumni Australia melalui Alumnae Grand Scheme (AGS) tahap 2.***