Riset

BRIN Ungkap Bukti Tsunami Besar Pernah Terjadi di Pesisir Selatan Jawa

Published

on

JAYAKARTA NEWS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap di sepanjang pesisir selatan Jawa hingga Bali terindikasi kuat tsunami besar pernah terjadi sekitar 400 tahun lalu.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Eko Yulianto, menuturkan, jejak tsunami besar hingga kini masih dapat ditemukan dan ditelusuri melalui berbagai bukti ilmiah mulai dari geologi, mikrofosil laut, arkeologi, hingga kajian terhadap narasi budaya masyarakat pesisir.

“Permasalahannya adalah tidak ada dokumen sejarah yang dapat menjelaskan kapan ruptur raksasa terakhir benar-benar terjadi,” ujar Eko dalam sebuah workshop di Jakarta, dikutip Kamis (11/6/2026).

Menurut Eko, jika gempa megathrust terjadi sebelum periode sejarah tertulis, memorinya mungkin sudah hilang dari catatan sejarah.

Hingga 2026, tim peneliti telah melakukan investigasi paleotsunami di dua belas lokasi utama yang tersebar dari Jawa Barat hingga Bali.

Dalam paparannya, Eko menyoroti empat lokasi representatif, yaitu Cibuaya (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), Kulon Progo (Daerah Istimewa Yogyakarta), dan Tabanan (Bali).

Di Pangandaran, kata Eko, peneliti menemukan lapisan pasir tsunami yang memisahkan endapan lumpur mangrove dengan sedimen yang lebih muda di atasnya.

Analisis radiokarbon terhadap sisa tumbuhan yang berada di bawah lapisan pasir menunjukkan umur sekitar 400 tahun.

“Ini merupakan indikasi pertama bahwa tsunami besar kemungkinan pernah memengaruhi pesisir selatan Jawa sekitar empat abad yang lalu,” jelas Eko.

Temuan lain di Pangandaran berasal dari lingkungan rawa pesisir yang menunjukkan adanya lapisan sedimen berulang. Struktur tersebut diduga terbentuk akibat beberapa gelombang tsunami yang datang secara berturut-turut dalam satu kejadian besar.

Bukti yang mengarah pada periode waktu yang sama juga ditemukan di Situs Batu Kalde, Pangandaran.

Selain lapisan budaya yang mengandung fragmen gerabah Hindu-Buddha dan cangkang moluska, peneliti menemukan sejumlah struktur batu yang roboh.

Meski belum dapat dipastikan sebagai dampak tsunami, kondisi tersebut membuka kemungkinan adanya guncangan gempa atau genangan besar yang terjadi pada masa lalu.

Di Kulon Progo, yang berlokasi tidak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta, tim menemukan lapisan pasir yang mengandung beragam mikrofosil laut seperti foraminifera, radiolaria, dan ostrakoda.

“Kehadiran mikrofosil laut dalam menjadi bukti kuat bahwa material tersebut terbawa oleh peristiwa genangan laut besar dan bukan oleh banjir pesisir biasa,” ujar Eko.

Temuan serupa juga diperoleh di Cibuaya, Banten. Di lokasi tersebut ditemukan lapisan pasir yang kaya akan mikrofosil laut dan berada tepat di bawah lapisan batang-batang pohon yang terkubur di rawa.

Penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa pohon-pohon tersebut mati sekitar 300 hingga 400 tahun lalu.

Menurut Eko, hubungan stratigrafi tersebut mengindikasikan bahwa suatu peristiwa genangan laut besar kemungkinan terjadi terlebih dahulu, kemudian diikuti perubahan lingkungan yang menyebabkan pohon-pohon tumbang dan tertimbun dalam sedimen rawa.

Sementara di Tabanan, Bali, penelitian menemukan susunan bongkah batu dan fragmen genteng yang orientasinya mengarah ke daratan. Struktur tersebut menunjukkan adanya aliran air yang sangat kuat dari arah laut.

“Berdasarkan hubungan dengan lapisan abu vulkanik yang diduga berasal dari letusan Gunung Tambora tahun 1815, usia kejadian tsunami di lokasi tersebut diperkirakan kembali berada pada kisaran 400 tahun lalu,” Eko menjelaskan.

Setelah mengkompilasi data radiokarbon dari berbagai lokasi, para peneliti menemukan pola yang menarik. Umur endapan tsunami ternyata tidak tersebar secara acak, melainkan mengelompok pada beberapa periode tertentu.

Klaster termuda berada pada sekitar 400 tahun lalu, sementara klaster yang lebih tua muncul pada periode sekitar tahun 800–1000 Masehi, 100–300 Masehi, dan 400–700 Sebelum Masehi.

“Pola ini menjadi hipotesis kerja terbaik kami mengenai pengulangan tsunami besar di sepanjang margin selatan Jawa,” jelas Eko.

Namun,  lanjut Eko, data tambahan masih diperlukan untuk memastikan apakah seluruh kejadian tersebut terkait dengan megathrust regional atau kombinasi tsunami lokal dan regional.

Salah satu temuan yang paling menarik dari penelitian ini justru muncul di luar ranah geologi. Setelah menemukan indikasi tsunami besar sekitar 400 tahun lalu, para peneliti mulai mempertanyakan apakah jejak peristiwa tersebut masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat pesisir.

Kajian kemudian diarahkan pada berbagai narasi tradisional yang berkembang di pesisir selatan Jawa, termasuk tradisi mengenai Ratu Kidul dan naskah Serat Sri Nata.

Eko mengatakan, ketika deskripsi dalam naskah tersebut dibandingkan dengan kesaksian korban tsunami modern, ditemukan sejumlah kemiripan yang mencolok, seperti perilaku laut yang tidak biasa, suara keras dari arah laut, angin kencang, suasana gelap, kepanikan massal, kerusakan yang luas, dan banyaknya korban jiwa.

“Hal ini tentu bukan bukti bahwa suatu peristiwa tsunami tertentu benar-benar tercatat dalam naskah tersebut,” ujar Eko seperti dikuitp lama brin.go.id.

Namun, tambah Eko, temuan ini membuka kemungkinan bahwa narasi tradisional dapat menyimpan fragmen memori lingkungan yang bertahan sangat lama setelah peristiwa fisiknya sendiri hilang dari sejarah tertulis.

Menurut Eko, berdasarkan zona subduksi selatan Jawa berpotensi menghasilkan gempa megathrust.

Oleh karena itu, untuk memahami ancaman di masa depan, para peneliti berupaya merekonstruksi sejarah tsunami masa lalu melalui pendekatan paleotsunami, yaitu kajian terhadap jejak-jejak geologi yang ditinggalkan oleh tsunami purba. (yog)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version