Drama & Teater
Wildan Hamid Terjerat Karakter Creon
PENGANTAR REDAKSI: Ada tokoh “Creon” pada repertoar teater intermedial “Dialog Antigone” yang digelar di Auditorium WS Rendra, ISI Yogyakarta, 21 – 22 September 2025. Tokoh ini diperankan oleh Wildan Hamid. Apa kesan-kesannya memerankan salah satu tokoh penting lakon ini. Berikut catatan Wildan.
***
Tak dipungkiri, Oidipus karya Sophocles, adalah salah satu karya drama Yunani kuno terbaik. Lakon Trilogi Oidupus yang terdiri atas Oidipus Sang Raja, Oidipus di Kolonus, dan Antigone bertahan hingga kini. Niscaya, sampai nanti.
Syahdan, pada tahun 1944, dramawan Prancis Jean Anouilh mengadaptasi lakon Antigone karya Sophocles itu. Ia menggunakan kisah ini untuk mengkritik pemerintahan fasis Prancis pada masa Perang Dunia II. Ia menjadikannya alegori perlawanan terhadap kekuasaan tiran dan mendukung prinsip ideal di tengah kompromi moral.
Drama ini menampilkan tokoh Antigone sebagai simbol perlawanan, kesetiaan, dan kemerdekaan, serta mengeksplorasi konflik antara idealisme dan realitas.
Nah, tahun 2025, guru besar teater ISI Yogyakarta, Prof Dr Yudiaryani, MA menerjemahkan lakon Antigone secara konteks dan menyutradarai lakon itu dengan garapan teater intermedial di bawah judul “Dialog Antigone”.
Empat Karakter Creon
Selain Oidipus, salah satu tokoh penting pada lakon Antigone adalah Creon, sang Raja Thebes. Pada “Dialog Antigone”, sutradara Yudiaryani mempercayakan peran Creon kepada Wildan Hamid, seorang mahasiswa jurusan teater ISI Yogyakarta Angkatan 2021.
Wildan merasa sangat tertantang melakonkan Creon pada “Dialog Antigone”. “Proses teater ini menjadi pengalaman berharga bagi saya. Saya belajar banyak tentang kerja sama, kedisiplinan, serta pentingnya mendengarkan satu sama lain. Terima kasih kepada semua yang terlibat,” ujar penulis karya monolog “Hamartia” itu.
Tokoh Creon, menurut Wildan, adalah karakter yang unik, menarik, sekaligus menantang untuk diperankan. “Menurut saya, pemeranan Creon tidak boleh lepas dari konteks waktu dan kejadian. Saya mempelajari, mohon koreksi kalau saya salah, setidaknya ada empat karakter Creon dalam rangkaian tragedi Oidipus,” ujar lelaki berkacamata itu.
Pertama, pada lakon Oidipus Sang Raja. Creon adalah saudara kandung Jocasta, istri Oidipus, dan oleh karena itu, ia memiliki hubungan dekat dengan Oidipus. Di lakon ini, Creon adalah tokoh yang bijaksana dan bertanggung Jawab. Creon bahkan menjadi penasihat yang dapat diandalkan.
Kedua, terjadi perubahan karakter Creon menjadi manipulatif dan licik dalam sekuel Oidipus di Kolonus. Ia tidak ragu-ragu melakukan tindakan kejam, seperti menahan jasad Oidipus agar tidak dimakamkan, demi mencapai tujuannya sendiri.
Ketiga, karakter Creon dalam lakon Antigone. Seorang raja Thebes yang sombong, kaku, dan sangat dogmatis. Baginya, kepatuhan pada hukum negara adalah hal yang mutlak. Karena keangkuhannya, ia menolak mendengarkan nasihat, yang menyebabkan keputusannya menghukum Antigone menjadi kesalahan besar. Ia akhirnya menyadari kesalahannya di akhir drama, tetapi terlambat untuk mengubah konsekuensinya yang tragis.
Karakter keempat adalah pada naskah Antigone yang ditulis Jean Anouilh yang kemudian dipentaskan dalam sajian teater intermedial oleh sutradara Yudiaryani, dalam lakon “Dialog Antigone”.
Yang harus kita ketahui, kata Wildan, lakon Antigone karya Anouilh ditulis pada masa pendudukan Nazi di Prancis selama Perang Dunia II. Karakter Creon, dengan penekanannya pada hukum negara dan penolakannya terhadap pemberontakan, dapat diinterpretasikan sebagai representasi rezim otoriter atau pemerintahan fasis saat itu. “Lalu muncul sosok Antigone sebagai lawan yang tangguh,” ujar Wildan.
Alhasil, dalam Dialog Antigone, Creon bisa saja diinterpretasikan penonton sebagai representasi rezim yang semena-mena, kalau tak mau dibilang dzolim. Sementara, Antigone adalah representasi dari suara rakyat yang berpegang pada prinsip yang dianggapnya benar. Tak peduli sekalipun taruhannya adalah kematian.
“Masuknya unsur teknologi proyektor pada penggarapan Dialog Antigone ini, tentu saja menjadi pembeda. Sutradara memanfaatkan ruang interpretasi naskah yang lebar melalui eksplorasi visual. Sungguh, menurut saya, pertunjukan ini adalah tonggak yang patut diapresiasi,” pungkas Wildan. (*)