Ekonomi & Bisnis
Ummah, Konsep Mengulik Potensi Ekonomi Masjid Zaman Now
Masjid punya ruangan menganggur. Bisa dibuat minimarket. Yang menyuplai produknya: jamaah. Yang membeli: jamaah. Jamaah punya sepeda motor. Masjid butuh jasa delivery order minimarket. Mini market menyewa dari jamaah.
Masjid punya gedung yang bagus untuk akad nikah. Jamaah menjadi penyuplai jasa seperti, dekorasi, sound system, multimedia, sewa mobil, catering, musik sampai wisata bulan madunya. Tentu masih banyak contoh usaha lainnya.
Kalau masjid dan jamaah bisa saling mengisi “supply and demand”, ekonomi ummat berbasis masjid dan jamaah ini hidup. Nah, lembaga ummah menyediakan tools dalam bentuk offline program dan online program. Offline program dikemas dengan bentuk seminar dan workshop pengetahuan dasar wirausaha dan model bisnisnya. Online program berupa software dan aplikasi yang mendukung kegiatan bisnis offline.
“Program online hanya alat bantu untuk memudahkan saja. Prinsip utama dalam bisnis ini ada pada bisnis offline-nya. Dengan demikian, tanpa online pun, bisnis ini bisa jalan,” terang Pak Adieb, pengusaha travel dan pengasuh pondok tahfidz di Solo, salah satu yang membidani Ummah.
Kapan Ummah bisa disosialisasilan? “Kami sedang mematangkan konsep ini denga meminta pendapat berbagai pihak, baik dari organisasi masjid maupun pengusaha produk dan jasa halal. Kami juga sedang mencari eksekutif yang akan menjalankan Ummah,” jawab Wahyu, pengusaha property di Solo yang menjadi partner bisnis Pak Adieb.
“Serius cari eksekutif? Saya boleh melamar dong?” tanya saya.
“Mengapa tidak? Makin cepat makin bagus, karena Ummah harus segera running, siapa pun eksekutifnya,” sahut Didin Mujahidin, corporate secretary Ummah. ***