Obituari
Tertib Suratmo, dari Bengkel Teater hingga Teater Dinasti
Saya, Azwar A.N., dan Teater Alam
Catatan Redaksi
Tulisan ini adalah testimoni almarhum Tertib Suratmo yang ada dalam buku “50 Tahun Teater Alam: Warna-warni Testimoni”.
Begitu saya lulus dari SSRI pada tahun 1967, saya kemudian bergabung dengan Bengkel Teater. Di awal, saya sempat didiamkan selama tiga bulan oleh Rendra, sebagai ujiannya, dan saya hampir menyerah meskipun tetap saja datang. Anggota Bengkel Teater yang dari SSRI waktu itu belum banyak, hanya saya, Banansah, dan Fajar Suharno.
Setelah melewati tiga bulan yang sangat tidak mengenakkan, saya akhirnya dipanggil untuk membuat ornamen dan artistik mempersiapkan sebuah pementasan. Saya sering bekerja sampai tengah malam. Mas Willy menganggap pekerjaan saya bagus dan rapi. Lantas ditambahkanlah nama “Tertib” di depan nama asli saya. Begitu pula dengan yang lain-lainnya, termasuk “Fajar” di depan nama Suharno, “Areng” di depan Widodo, dan lain-lain.
Mengenai sosok Azwar AN, pada awal perkenalan, tentu saja saya belum begitu memahami karakternya. Sebagaimana persahabatan pada umumnya, lama-kelamaan pun tahu dan paham. Azwar AN adalah sosok yang punya kemauan keras, barangkali karena karakternya. Bagaimanapun ia adalah teman, dan tetap saya cintai. Azwar AN yang saya kenal, adalah sosok yang cerdas dan memiliki kemauan besar.
Bergabung ke Teater Alam
Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika dalam waktu satu tahun belajar teater bersama W.S. Rendra di Bengkel Teater, Bang Azwar AN merasa sudah bisa dan merasa sudah waktunya untuk berpisah dengan Bengkel. Intinya, Bang Azwar sudah menunjukkan kemampuannya. Maka, setelah Bengkel Teater hijrah ke Jakarta, saya memilih tetap tinggal di Yogyakarta dan bergabung dengan Teater Alam. Alhamdulillah, Bang Azwar AN menyambut baik.
Ada kesadaran dalam diri saya bahwa Teater Alam merupakan pelabuhan yang tepat bagi untuk menambatkan kegelisahan berproses kreatif dalam dunia teater di Yogyakarta. Bang Azwar AN juga kakak senior saya di Bengkel Teater. Artinya, Teater Alam tidak jauh berbeda dengan Bengkel Teater. Saya tidak punya masalah apa pun dengannya, dan justru disambut baik oleh teman-teman yang lain. Saya ikut meramaikan, menambah, atau melengkapi beberapa materi yang disampaikan oleh Bang Azwar AN.
Jika bukan ke Teater Alam, ke mana lagi kira-kira saya harus melanjutkan? Begitu saya bergabung dengan Teater Alam, banyak teman-teman menghendaki saya untuk melatih, termasuk melatih Teater Ramada milik Mas Adjib Hamzah, Teater Sari—teater anak-anak–milik Pak Amin Mansyur, dan Teater Syuhada. Yang lainnya ialah diajak beberapa teman ke Jakarta untuk membuat patung atau relief.
Gerak Indah dan Gerak Nurani
Setelah dari Bengkel Teater, kami melakukan pengembangan latihan gerak indah di Teater Alam. Gerak indah itu kemudian berkembang menjadi gerak nurani, seperti lupa diri, tetapi tetap ada kepercayaan dalam diri masing-masing. Itu sebenarnya tidak mungkin, tetapi dengan penyerahan diri, sampai-sampai ada teman-teman yang naik bonggol pohon pisang, menerobos kaki-kaki kursi, dan sebagainya. Itulah gerak nurani. Timbulnya dari gerak indah, dan gerak indah sebetulnya awal dari gerakan akting dan dimaksudkan agar gerakan akting menjadi luwes.
Jadi, masing-masing dari kami mencari motif-motif gerak. Kami melalukan proses pencarian keharmonisan. Dengan adanya gerak indah dalam teater, ditemukan pose-pose gerakan yang sempurna atau selesai saat berakting. Latihan gerak itu dilakukan berkali-kali sampai merasuk ke dalam jiwa. Akan terasa seandainya salah satu dari gerakan tersebut tidak tidak tepat lantaran rutin terlatih. Itulah keuntungannya dari latihan rutin gerak nurani. Maka, ketika dikasting sebuah peran, para pemain tinggal menerjemahkan, menerapkan, dan menyesuaikan karakter masing-masing.
Secara jujur, saya sangat senang dengan latihan gerak nurani, begitu pula dengan kedisiplinan yang dibangun seperti semi militer. Hal tersebut, setelah saya rasakan, sangat menguntungkan untuk orang-orang yang benar-benar mencari ilmu. Imajinasi menjadi kuat dan dalam pencarian sangat cepat. Pendekatan yang menggiring kita kepada Allah.
Pola latihan dengan anak-anak sekarang sangat jauh berbeda, termasuk dengan anak-anak teater kampus terdahulu. Kami menang jauh. Apalagi ketika latihan di luar, imajinasi kami benar-benar diasah sampai matang dan detail benar. Sangat kaya, kalau ditulis mungkin akan jadi berjilid-jilid buku. Buku mas Willy yang Tentang Bermain Drama pun kurang mendetail daripada yang kami alami. Saya sampai mengalami maag karena latihan yang sebegitu berat. Tetapi namanya orang telah cinta, ya tetap saja datang kembali. Tidak ada kata kapok.
Proses Pentas di Teater Alam
Saya aktif di Teater Alam dalam waktu yang cukup lama. Sampai sekarang pun, saya masih seorang anggota Teater Alam, artinya andaikan Bang Azwar AN membutuhkan saya. Yang terakhir saya tangani adalah pementasan Petang di Taman karya Iwan Simatupang pada tahun 2010, menandai 38 tahun Teater Alam. Ceritanya realis, jadi cukup gampang, meskipun barangkali karena sudah berumur dan terlampau lama tidak menangani penyutradaraan, maka imajinasi saya berkurang.
Bayangkan, setalah tahun 1981, ketika saya diterima menjadi PNS, boleh dibilang saya tidak terlibat secara langsung lagi dengan dunia teater. Tidak ada yang menghubungi saya untuk berkegiatan teater, ditambah pekerjaan sebagai pegawai menyita waktu dan banyaknya penataran.
Ilmu teater yang bisa diterapkan dalam pekerjaan saya hanya disiplin dan ketekunan, meskipun seseorang yang ditempatkan di pekerjaan itu sering kali dianggap buangan, yakni pustakawan. Saya menjadi pustakawan di SMP Negeri 16 Yogyakarta, atau sesekali menangani drama untuk siswa dan keterampilan tangan saat ekstrakurikuler. Karena saya sudah tidak muda lagi saat diangkat menjadi PNS, akhirnya masa kerja hanya sebentar: 17 tahun, 9 bulan.
Dari Teater Dipo ke Teater Dinasti
Praktis, dulu ketika Teater Alam sering ditinggal Bang Azwar AN ke Jakarta, sayalah yang melatih Teater Alam. Akan tetapi, di samping itu saya juga memiliki kegelisahan tersendiri. Saya tinggal di kampung Dipowinatan. Waktu itu kondisinya semrawut. Lantas, saya merasa perlu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan. Dulu, banyak para pemuda tanggung yang tidak memiliki kegiatan, banyak mengganggu, baik itu minum, bermain kartu, maupun hal-hal negatif lainnya.
Setelah berada di sini, saya membaca, kemudian memberanikan diri untuk melakukan sesuatu setelah memiliki banyak kenalan. Alhamdulillah, saya mendapatkan respons yang bagus. Yang punya bakat bertahan sampai benar-benar ingin bisa, dan contoh yang beruntung adalah Joko Kamto dan Novi Budianto yang sampai saat ini masih aktif di KiaiKanjeng bersama Cak Nun.
Tidak ada hal yang istimewa sesungguhnya pada awal saya mendirikan Teater Dipo. Intinya, motivasi utamanya adalah menyelamatkan, dan kebetulan di kampung Dipowinatan ada gamelan waktu itu. Gamelan sebagai alat untuk ilustrasi, sehingga saat Bang Azwar AN menggagas Arisan Teater, justru Teater Dipo yang pertama dan dilawankan dengan Teater Bunga milik Niesby Sabangkingkin.
Saya masih ingat yang aktif di Arisan Teater kala itu antara lain Teater Bunga, Teater Kancil, Teater Dipo, Gadjah Mada, dan kelompok-kelompok teater yang hampir tiap kampung ada. Saat itu, Teater Dinasti belum muncul. Setelah menang lomba teater, barulah Gajah Abhiyasa membantu dan mengubah nama Teater Dipo menjadi Teater Dinasti.
Perubahan nama Teater Dipo menjadi Teater Dinasti atas kesepakatan bersama. Langsunglah nama Teater Dinasti terangkat. Teater Dinasti kemudian banyak melakukan pentas saat dikelola Gajah Abhiyasa, Fajar Suharno, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), saya, juga beberapa anggota lainnya. Gajah Abhiyasa melihat momentum yang tepat terkait dengan isu politik waktu itu, maka Teater Dinasti banyak menghadirkan pementasan dengan cerita-cerita terselubung, kendati mengambil cerita-cerita zaman dulu, sehingga tepat sasaran. Dari Teater Dinasti kemudian lahir pula Teater Gandrik dengan sampakannya, yang kemudian sampai sekarang dikelola oleh Butet Kartaredjasa, Jujuk Prabowo, dan nama lainnya.
Posisi saya di dalam Teater Dinasti membuat saya tidak terlalu aktif di Teater Alam. Kami berpisah, tetapi baik-baik saja dan tidak ada masalah sedikit pun dengan Bang Azwar AN. Jika saya dipanggil untuk membantu pentas Teater Alam, saya pun tetap datang dan bersedia membantunya. Ketika ada proyek, kita tetap diminta untuk menggarap, seperti ornamen, dan sebagainya.
Teater Alam Seharusnya…
Materi yang sudah ada di Teater Alam dipertahankan. Para anggota diajak musyawarah, apa yang terlupakan diingat-ingat kembali, syukur ada yang menuliskannya dan membuat program untuk dibukukan. Buku tersebut berisi gambar-gambar gerakan latihan dan keterangannya, mirip buku latihan silat. Misal, bagi pemula yang latihan dasar, seperti gerak, vokal, dan sebagainya. Ketika sudah tuntas, kemudian dikembangkan.
Para pemain teater, entah sutradara, aktor, penata artistik, penulis naskah, dan lain sebagainya hendaknya menguasai latihan dasar teater. Perkara kemudian memiliki spesifikasi tertentu, itu urusan lain. Namun, di awal tidak boleh pilih-pilih. Pernah, seorang rekan di Teater Alam yang sudah pulang ke Jawa Barat mesti kembali lagi, karena ada yang terlupakan. Itu artinya, selama latihan cenderung memilih-milih, padahal seharusnya jangan dipisah-pisah. Ditelan semua terlebih dahulu, masalah bakat akan mengkristal dengan sendiri: pemain, pemusik, sutradara, penulis, lighting,dan lain-lain. Latihan dasar harus bersama. Masalah kita akan menjadi apa, itu belakangan. Intinya, jalan bersama. Jadi, saya sepakat bahwa keunggulan Teater Alam salah satunya adalah pada pola latihan.
Kini, yang memiliki materi latihan dasar itu hanya Teater Alam di Yogyakarta. Siapa yang mengembangkan? Teater sekarang harus kita ajak berkumpul dan berembug lagi membahas masalah materi latihan dasar. Persoalan latihan dasar ini harus diwariskan, juga generasi muda kita mesti diberi pemahaman betapa penting latihan dasar bagi seorang teaterawan. Hanya Teater Alam yang bisa.
Keberadaan Teater Alam yang melegenda hingga kini, keterlibatan Bang Azwar AB dan para anggota Teater Alam di dunia seni teater, film, daln lain-lain menunjukkan bahwa Teater Alam dibangun oleh seseorang yang memiliki kemauan keras. Hasilnya tampak, terbukti! Kemauan keras adalah hal yang saya petik dari Bang Azwar AN. Kendati sudah tua, tetapi tetap memiliki kemauan yang keras. Kendati fisik sudah rapuh, tetapi kemauan masih seperti saat muda dahulu.
Lumayan pengalaman saya di teater, hasilnya kepuasan. Mengikuti teater, hasilnya bisa berpetualang dan tetap bahagia, meskipun kere.
Yogyakarta, 13 Oktober 2018