Kabar
Tahun-tahun Penuh Puisi Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Suaeb
Ada makna mendalam bagi komunitas sastra Yogya, pada perhelatan Sastra Bulan Purnama (SBP), Sabtu 14 Maret 2026. Makna itu terikat erat dengan bayang nama besar seniman yang digelari “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi.
SBP mendatang, menghadirkan buku kumpulan puisi karya dua asuhan Umbu Landu Paranggi. Mereka adalah Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Suaeb. “Keduanya akan meluncurkan buku kumpulan puisi bersamaan,” ujar Ons Untoro, koordinator SBP.
Demi menyebut nama Umbu Landu Paranggi, seketika memori kita dilambungkan ke Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas sastra berpengaruh yang didirikan dan diasuh Umbu Landu Paranggi di Yogyakarta. Komunitas yang sangat eksis pada kisaran tahun 1969–1975. Setahun kemudian, Umbu memutuskan pindah ke Bali. Ia wafat di Sanur, Bali (karena Covid-19) tahun 2021.
Persada Studi Klub besutan Umbu, berbasis di jatung Malioboro. Komunitas ini melahirkan banyak sastrawan terkemuka. Selain Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Suaeb, terdapat sederet nama besar seperti Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, Linus Suryadi AG, Eko Tunas, Korie Layun Rampan, dan masih banyak lagi.
Sutirman dan Marjuddin, tentu saja akan membuat Umbu Landu Paranggi tersenyum di surga. Mendiang Umbu pun berbahagia demi melihat dua penyair asuhannya masih produktif berpuisi di usia yang menginjak kepala tujuh.
Usia 74 tahun Sutirman Eka Ardhana, dan 72 tahun usia Marjuddin Suaeb justru direspons dengan puisi. Buku kumpulan puisi Sutirman Eka Ardhana berjudul ‘Amuk Kenang’ berisi 74 puisi, menandai bilangan usianya.
Sedangkan, buku kumpulan puisi Marjuddin Suaeb berjudul ‘Tapa Pendhem’. Isinya, 72 puisi, sesuai umurnya.
Sekilas tentang Sutirman Eka Ardhana. Ia lahir di Bengkalis, Riau. Tanah kelahiran yang membekaskan masa lalu yang terus memburu. Berbagai macam kenangan terajut dalam jejak-jejak langkah yang telah ia tapak sejauh ini. Termasuk kenangan tinggal di Kebumen dan Yogya.
“Saya seperti diamuk oleh kenangan masa lalu, di tanah kelahiran maupun kampung halaman yang pernah saya tinggali. Kenangan jalan hidup seperti terus memburu,” kata Sutirman Eka Ardhana.
Sedang Marjuddin Suaeb, yang lahir dan tinggal di Pengasih, Kulonprogo menulis puisi sekitar kehidupannya yang selalu menjalani puasa (tapa pendhem). Dia juga mengambil jalan sepi: beberapa tahun merawat ibunya yang renta, dan tidak bisa melakukan aktivitas. Proses merawat ibu itu ia renungkan sebagai menjalani tapa pendhem.
“Macam-macam jenis puasa saya lakukan, bukan untuk mencari kesaktian, lebih untuk melatih batin saya agar bisa ‘sumeleh’ menjalani hidup,” kata Marjuddin.
Secara etimologis dan filosofis, sumeleh berasal dari kata dasar ‘seleh’ yang berarti “meletakkan” atau “menyerahkan”. Sumeleh dimaknai sebagai meletakkan diri dalam kepasrahan total kepada kehendak Illahi, namun tetap berusaha dengan ikhlas dan tidak terikat hasil.
Puisi, Lagu, dan Tarian
Pada momentum peluncuran dua buku, Sastra Bulan Purnama –seperti adatnya—juga akan menampilkan pembacaan puisi. Sutirman dan Marjuddin termasuk yang akan membacakan sendiri karya puisinya. Seperti yang sudah-sudah, SBP akan digelar di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta, mulai pukul 15.30 WIB.
Selain itu, sederet nama pembaca puisi lain juga akan tampil mengekspresikan karya-karrya Sutirman dan Marjuddin. Pembaca buku kumpulan puisi Sutirman di antaranya: Oka Swastika Mahendra, Anastasia, Muhammad Sheva Athaya, dan Noviyanti Alfitri.
Sedangkan, puisi-puisi Marjuddin akan dibacakan Krishna Miharja, Dwi Winarno, Ray Sawit, Fathia Sari Buana Jajayanti dan Tari Sudhiarto. Hadir juga pembaca tamu, Prof Dr Tuntas Subagyo, seorang filmmaker.
Selain dibaca, puisi-puisi Sutirman dan Marjuddin juga akan digarap menjadi lagu oleh Joshua Igho. Sebagai selingan, koreografer Bimo Wiwohatmo akan menafsir satu lagu puisi karya (alm) Remy Sylado dalam gerak berirama.
Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama secara khusus mengapresiasi Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Suaeb. Dua penyair Persada Studi Klub yang dari banyak penyair pada masa itu, sampai sekarang masih terus menulis puisi.
“Marjuddin hanya suntuk dengan puisi, tidak menulis yang lain. Sedangkan Sutirman Eka Ardhana, selain menulis puisi, juga menulis cerpen dan novel. Eka juga aktif sebagai jurnalis. Sastra dan kerja jurnalistik dilakukan secara bersamaan. Di era digital ini, Eka terus menulis karya sastra,” ujar Ons Untoro. (*)