Kolom
Situs Bongal: Kota Kosmopolitan Nusantara yang Ditelan Samudera
Dari Koin Dinasti Umayyah hingga Manik-manik Fustat — Bukti Asing yang Mengubah Historiografi Indonesia
Oleh : Heri Mulyono
Di kaki Bukit Bongal, Tapanuli Tengah, bersemayam rahasia 14 abad: pelabuhan kosmopolitan yang dicatat saudagar Arab, disinggahi pedagang Persia, dan kini dibuktikan oleh koin Umayyah serta manik-manik Mesir yang terpendam dalam tanah merahnya.
Koin dari Basrah, Pesan dari Masa Lalu
Suatu pagi di akhir 2019, seorang petugas Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah menyerahkan sebuah koin tua kepada Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut). Benda itu berwarna kecokelatan, bertuliskan aksara Arab yang rapat, dan lusuh oleh tanah merah perbukitan. Para penambang emas liar yang telah lama menggaruk lereng Bukit Bongal sesekali menemukan benda serupa, lalu menjualnya atau menyimpannya sebagai pajangan tanpa menyadari apa yang sesungguhnya mereka genggam.
Koin itu ternyata bukan sembarang artefak. Tim Museum Uang Sumatera menyimpulkan benda itu berasal dari Dinasti Umayyah. Lebih mengejutkan lagi, koin sejenis yang kemudian ditemukan dalam jumlah besar di kawasan yang sama bertarikh 79 Hijriah — setara 698 Masehi — dan dicetak di kota Basrah, Irak. Angka itu bukan sekadar bilangan tahun. Ia adalah penanda waktu yang membekukan sejarah: bukti fisik tertua yang pernah ditemukan di Indonesia tentang masuknya peradaban Islam ke Nusantara. Sebuah koin dari tanah Mesopotamia, telah mengarungi setengah permukaan bumi, terbaring diam di bawah nipah dan sawit Tapanuli Tengah selama lebih dari 13 abad.
Para Geograf Arab Sudah Lebih Dulu Mencatatnya
Yang luar biasa, keberadaan kawasan ini ternyata bukan hal baru bagi dunia luar. Lebih dari satu milenium sebelum para arkeolog modern menancapkan sekop pertama mereka di Bongal, para penulis Arab dan Persia telah merekam kawasan ini dalam karya geografi mereka.
Tahun 851 Masehi, saudagar Muslim Arab bernama Sulaiman al-Tajir menulis laporan perjalanannya yang kemudian dikompilasi oleh Abu Zayd al-Sirafi dalam kitab Akhbar al-Sin wa al-Hind — karya Arab tertua tentang Cina, ditulis lebih dari empat abad sebelum Marco Polo. Dalam catatan itu, Sulaiman al-Tajir yang berangkat dari Basrah menyebut adanya “perkebunan yang disebut Fansur, dari mana diperoleh kamfer dengan kualitas terbaik”, serta tambang emas di kawasan tersebut. Fansur — yang kemudian diidentifikasi merujuk pada kawasan Tapanuli Tengah secara umum — adalah kawasan yang kini para arkeolog yakini mencakup Situs Bongal sebagai pusatnya yang lebih tua.
Tidak berhenti di situ. Ahli geografi Persia abad ke-9, Ibn Khurdadhbih, menyebut kawasan ini dengan nama “pulau Bālūs”. Sekitar tahun 900 Masehi, Ahmad ibn Rustah dalam Kitab al-A’laq al-Nafisa menyebut Fansur sebagai “negeri terkenal di Hindia” dan menulis tentang yurisdiksi serta kekayaan alamnya. Beberapa dekade kemudian, Ibn Hawqal dalam Kitab Surah al-Ardh menyebutkan Siraf — pelabuhan di Teluk Persia, Irak — sebagai pusat ekspor kamfer terbaik yang bersumber dari Fansur. Istakhri sekitar tahun 950 Masehi mengkonfirmasi hal serupa. Bahkan Al-Nuwayri, ahli ensiklopedia Mesir abad ke-14, masih mencatatnya: “Fansur adalah sebuah negeri yang dikenal sebagai Tanah Emas. Kamfer yang berasal dari sana adalah jenis terbaik dari semua jenisnya.”
Para peneliti kemudian mengemukakan hipotesis bahwa Bongal boleh jadi adalah “Pansur” yang disebutkan dalam kronik Batak — pemukiman yang mendahului Lobu Tua di Barus. Arkeolog Dr. Ery Soedewo dan tim menyimpulkan bahwa lokasi Pansur tersebut berada tepat di dataran aluvial kaki Bukit Bongal saat ini. Dengan kata lain, apa yang dicatat para geograf Arab selama berabad-abad bukan sekadar nama abstrak di atas peta. Ia adalah kota nyata yang kini sedang digali kembali dari perut bumi.
Ekskavasi yang Membalikkan Peta Sejarah
Setelah ekspedisi penyisiran morfologi yang dilakukan Sultanate Institute dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) selama Desember 2020, ekskavasi pertama dibuka pada 15 Januari 2021 dan dipimpin Dr. Ery Soedewo, M.Hum. Lima titik pengujian arkeologi dibuka. Apa yang keluar dari lubang galian itu membuat komunitas ilmiah Indonesia terperangah.
Dari tanah merah Bongal muncul fragmen keramik Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-9 M), pecahan tembikar dan kaca dari Timur Tengah, manik-manik warna-warni, jarum logam, tali ijuk, kayu-kayu kuno, dan biji rempah: pala, kemiri, kapulaga, mangga, serta pinang yang telah mengeras selama berabad-abad. Ditemukan pula sebuah botol kaca berbentuk khusus — wadah penyulingan minyak yang lazim disebut alembic — identik dengan benda serupa yang pernah ditemukan di Timur Tengah dan kini tersimpan di museum New York. Selain itu ada wadah kalam (tempat tinta untuk menulis), alat tenun, sisir tenun, dan fragmen kapal kayu kuno.
Untuk memastikan usia temuan, 13 sampel artefak dikirim ke Waikato University, Selandia Baru, untuk menjalani uji Accelerator Mass Spectrometry (AMS) Radiocarbon Dating. Hasilnya: artefak Bongal berasal dari rentang abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Sebagian sampel mengindikasikan aktivitas manusia sejak abad ke-4 Masehi. Situs ini berumur lebih tua 200 tahun dari Situs Lobu Tua di Barus yang berjarak sekitar 60 hingga 94 kilometer.
Luas kawasan pemukiman Bongal diperkirakan melebihi 200 hektar, mencakup sebagian Bukit Bongal serta dataran aluvial menuju Sungai Lumut. Bukan sekadar pos dagang. Ini adalah kota.
Sidik Jari Peradaban Dunia dalam Tanah Bongal
Apa yang membedakan Bongal dari situs arkeologi lain di Indonesia adalah keragaman asal-usul artefaknya yang sungguh mencengangkan. Setiap benda yang keluar dari tanah Bongal adalah sidik jari peradaban yang datang dari penjuru bumi yang berbeda-beda.
Dari Mesir dan Persia, hadir manik-manik kaca — jenis millefiori, folded, dan foil — yang diproduksi di pusat-pusat pembuatan kaca utama Islam: Fustat (kota tua Kairo), Nishapur (Persia Timur Laut), dan kawasan Syro-Palestina. Studi kimia oleh Lankton dan Dussubieux terhadap manik-manik Asia Tenggara mengkonfirmasi kekerabatan komposisi bahan dengan produksi kaca Islam awal. Artinya, manik-manik yang bisa hari ini dipegang di tangan itu pernah melewati tangan pengrajin Mesir atau Persia, lalu berlayar ribuan mil melintasi Samudera Hindia, sebelum tiba di Bongal.
Dari Kekaisaran Romawi Timur dan komunitas Kristen Nestorian, hadir pula jejak yang tidak kalah mengejutkan: cincin bermotif salib, manik-manik Romawi, batu berukir simbol salib, dan sendok liturgi Bizantium. Berdasarkan analisis komparatif, artefak-artefak ini memiliki kemiripan kuat dengan benda-benda Kristen Romawi dan Bizantium awal. Para peneliti menduga kaum Kristen Nestorian — yang aktif dalam jaringan dagang Asia — singgah di Bongal, membawa serta benda-benda keagamaan mereka. Prasasti Sian-Fu di Cina bertarikh 781 M (Dinasti Tang) membuktikan komunitas Nestorian memang aktif di jalur dagang yang sama dengan yang melewati Bongal.
Dari dunia Islam, selain koin-koin Umayyah dan Abbasiyah, ditemukan pula cincin-cincin bercap inskripsi Arab, wadah perunggu untuk wewangian, tembikar berlapis glasir dari Asia Barat, peralatan gelas, serta peralatan medis dan kimia. Beberapa di antara peralatan medis Islam itu menunjukkan kemiripan dengan koleksi yang tersimpan di Museum Islam Istanbul, Turki. Dari Cina, hadir keramik-keramik Dinasti Tang dengan kualitas tinggi. Dari Nusantara sendiri, tersimpan rempah-rempah, resin, dan emas — komoditas yang justru menjadi alasan seluruh pedagang asing itu rela berlayar berbulan-bulan ke sini.
Situs Bongal, simpul para arkeolog, adalah tempat di mana “pengaruh Cina, India, Arab, lokal, Hindu, Buddha, dan Islam bertemu” dalam satu kawasan permukiman yang hidup antara abad ke-7 dan ke-9 Masehi. Ini bukan hubungan satu arah. Ini adalah kosmopolitanisme yang sesungguhnya.
Situs Bongal dan Jalur Rempah Global
Dalam konferensi internasional “Spiced Islam and Material Cultures Across the Indian Ocean” yang diselenggarakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Oktober 2023, Dr. Ery Soedewo memaparkan bahwa jalur rempah global melalui Samudera Hindia sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di kepulauan ini pada abad ke-16.
Temuan cengkeh tertua yang pernah dikirim ke luar negeri adalah yang ditemukan di Suriah, berasal dari tahun 1721 SM — lebih dari tiga milenium sebelum Portugis tiba di Maluku. Temuan cengkeh dari abad ke-9 hingga ke-11 M juga ditemukan di situs Mantai, Sri Lanka. Ini membuktikan rute rempah Samudera Hindia telah berdenyut sejak ribuan tahun sebelum era kolonial.
Bongal adalah mata rantai penting dalam rute kuno itu. Ia menjadi satu-satunya situs di Indonesia di mana sisa komoditas rempah ditemukan langsung di titik ekskavasi — bukan diasumsikan dari konteks lain. Pala, kemiri, kapulaga, dan kemungkinan kamfer serta resin damar yang ditemukan di situ adalah bukti bahwa Bongal bukan sekadar transit, melainkan tempat pengumpulan dan penimbangan sebelum komoditas dikirim ke pasar dunia. Pesisir barat Sumatera memang terkenal sebagai sumber kamfer, gaharu, cendana, resin aromatik, dan emas — barang-barang yang paling dicari di pasar Timur Tengah, India, dan Cina.
Kota yang Ditelan Samudera — Bukti Ilmiah Bencana
Mengapa kota sebesar dan sepenting ini lenyap dari ingatan sejarah? Para arkeolog dan ilmuwan memiliki jawaban yang kini didukung data ilmiah kuat: Bongal musnah ditelan bencana alam dahsyat.
Petunjuk pertama datang dari pola temuan arkeologis itu sendiri. Tidak ada satu pun sisa arkeologis yang bertarikh lebih muda dari abad ke-10 Masehi yang ditemukan di Situs Bongal. Kekosongan ini bukan karena kekurangan ekskavasi — melainkan memang tidak ada yang tersisa setelah titik itu.
Petunjuk kedua datang dari ilmu kebumian. Penelitian paleoseismologi yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research (AGU, 2013) oleh Rajendran dan tim membangun kronologi paleo-tsunami di Teluk Bengal sebelum tahun 2004. Hasilnya mengidentifikasi kejadian besar sekitar abad ke-1, ke-5, ke-10, dan ke-15 Masehi. Event abad ke-10 Masehi tampak sebagai yang terbesar dalam 2.000 tahun terakhir. Bukti endapan tsunami dari periode ini ditemukan di Phra Thong, Thailand; di Meulaboh, Sumatera Utara; dan di Sri Lanka — semua merekam gejolak yang sama dari zona subduksi Aceh-Andaman.
Petunjuk ketiga datang dari penelitian arkeologi modern. Sebuah studi penting yang diterbitkan dalam jurnal PNAS tahun 2019 oleh tim internasional dari Earth Observatory of Singapore (Nanyang Technological University), Maynooth University Irlandia, dan Universitas Oxford membuktikan bahwa tsunami pada akhir abad ke-14 Masehi menghancurkan situs-situs pesisir di sepanjang bagian kritis Jalur Sutra Maritim di pantai utara Sumatra. Dari 10 pemukiman yang diteliti, 9 di antaranya hancur total. Tragisnya, kawasan yang dilanda tsunami abad ke-14 itu adalah kawasan yang sama yang kembali dihancurkan tsunami 2004 — sebuah pengulangan bencana lintas abad yang menjadikan penelitian ini sangat relevan untuk kajian mitigasi bencana masa kini.
Meski studi PNAS tersebut berfokus pada abad ke-14, pola yang sama — tsunami besar yang memusnahkan pemukiman pesisir di pantai barat Sumatra — memberikan kerangka ilmiah yang kuat bagi hipotesis bahwa Bongal pun musnah dalam cara yang serupa, hanya beberapa abad lebih awal. Dataran aluvial kaki bukit yang kini ditumbuhi nipah, fragmen kapal kayu yang tersebar di lapisan tanah, dan percampuran artefak dari berbagai periode secara tidak teratur — semua konsisten dengan gambaran pasca-bencana yang mengaduk dan membenamkan situs dalam waktu singkat.
Ancaman Nyata yang Lebih Dekat dari Tsunami
Di tengah seluruh kegairahan ilmiah itu, Situs Bongal menghadapi ancaman yang jauh lebih mendesak: penggalian liar yang berlangsung tanpa henti. Para penambang emas tradisional yang telah lama menggantungkan hidup dari lereng Bukit Bongal tidak serta merta berhenti karena para arkeolog datang. Setiap hari, lubang-lubang baru dibuka, artefak-artefak terseret dari konteks aslinya, dan data arkeologis yang tak ternilai itu perlahan hancur. Artefak-artefak dari Bongal dilaporkan sudah berpindah tangan jauh ke luar desa, masuk ke pasar kolektor tak terdaftar. Setiap koin, setiap pecahan kaca, setiap potongan kayu kapal yang berpindah tangan tanpa dokumentasi ilmiah adalah sepotong sejarah yang hilang untuk selamanya.
Dr. Ketut Wiradnyana, Kepala Balar Sumut, menegaskan bahwa Situs Bongal sangat layak ditetapkan sebagai cagar budaya, tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi sampai ke tingkat nasional, mengingat lingkup temuan yang melampaui batas regional. Bupati Tapanuli Tengah, Bakhtiar Ahmad Sibarani, menyatakan dukungannya dan berjanji menyurati Gubernur Sumatera Utara, kementerian terkait, hingga Presiden, untuk meminta kawasan ini segera dilindungi secara hukum dan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah.
Menuju Pengakuan Dunia
Pada 2022, penelitian dilanjutkan oleh Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sultanate Institute, masih di bawah koordinasi Dr. Ery Soedewo. Pada Oktober 2023, temuan Bongal dipresentasikan dalam forum internasional di Jakarta di hadapan akademisi dari Universitas Leiden, UIN Jakarta, dan berbagai lembaga internasional lainnya. Nama Bongal kini bergema di koridor-koridor ilmiah dunia.
Para arkeolog dan sejarawan membuka dua perspektif baru yang signifikan bagi historiografi Indonesia. Pertama, dalam aspek spasial, Bongal membuktikan bahwa jalur pelayaran pantai barat Sumatra — yang selama ini termarjinalkan dalam rekonstruksi sejarah maritim nasional — adalah jalur yang sama sekali tidak kalah pentingnya dari pesisir timur. Kedua, dalam aspek temporal, Bongal memundurkan batas tertua interaksi maritim internasional Nusantara setidaknya 200 tahun lebih awal dari yang selama ini diketahui.
Yang paling revolusioner adalah implikasinya bagi sejarah Islam di Indonesia. Koin Umayyah bertarikh 79 Hijriah dari Bongal adalah bukti bahwa pada akhir abad ke-7 Masehi, ketika Dinasti Umayyah sedang berjaya di Damaskus, sudah ada hubungan langsung antara jazirah Arab dengan pantai barat Sumatra. Sebuah kenyataan yang menggugurkan anggapan bahwa Islam baru masuk Nusantara berabad-abad kemudian. Tidak ada koin Umayyah yang pernah ditemukan di Barus — hanya di Bongal.
Situs ini mencatat pula dimensi yang lebih luas dari sekadar Islam: kehadiran komunitas Hindu (arca Ganesha), jejak Kristen Nestorian (sendok liturgi Bizantium, cincin salib, manik-manik Romawi), serta pedagang Buddha dari Cina — semua berpadu di satu teluk yang sama, di bawah satu bukit yang sama. Bongal adalah cermin dari dunia yang jauh lebih terhubung dari yang selama ini kita bayangkan.
Bukit Bongal masih berdiri kokoh di tepi Teluk Tapian Nauli, menjulang 324 meter di atas permukaan laut. Di bawah tanah merahnya, di antara akar nipah dan pohon karet yang menjalar, mungkin masih tersembunyi kapal-kapal lain, koin-koin lain, dan kisah-kisah lain tentang manusia yang berlayar dari Basrah, dari Fustat, dari Chang’an — dan memilih Bongal sebagai rumah mereka. Mereka adalah bagian dari Indonesia yang belum selesai dikisahkan. Bumi Bongal, jika dibiarkan bersuara, akan bercerita jauh lebih panjang dari yang sanggup kita bayangkan. (*)
Sumber: Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut); BRIN; Sultanate Institute; Ery Soedewo dkk., “History of the west coast of North Sumatra before Barus: Preliminary results of archaeological research at the Bongal settlement site”, Archipel (2024); Pidia Amelia dkk., “Awal Kehadiran Peradaban Islam di Indonesia: Eksplorasi Arkeologis Situs Bongal”, Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 10, No. 1, 2025; “Tracing Global Trade Routes in the 7th–10th Centuries CE” (Atlantis Press, 2025); Patrick Daly dkk., “Archaeological evidence that a late 14th-century tsunami devastated the coast of northern Sumatra”, PNAS, 2019; Rajendran dkk., “Ages and relative sizes of pre-2004 tsunamis in the Bay of Bengal”, Journal of Geophysical Research: Solid Earth, AGU, 2013; Sulaiman al-Tajir, Akhbar al-Sin wa al-Hind (851 M), kompilasi Abu Zayd al-Sirafi; Ahmad ibn Rustah, Kitab al-A’laq al-Nafisa (sekitar 900 M); Ibn Hawqal, Kitab Surah al-Ardh (sekitar 970 M); Konferensi Internasional “Spiced Islam and Material Cultures Across the Indian Ocean”, UIN Jakarta, Oktober 2023; cagarbudaya.sumutprov.go.id; balarsumut.kemdikbud.go.id.