Kabar

Siti Julaeha: Perempuan Anggun di Balik Spirit Keislaman Ibnu Sutowo

Published

on

Ibnu Sutowo/Sumber foto: https://perpustakaan.kpk.go.id/images/docs/ibnu.jpg.jpg
Oleh Achmad Fachrudin,
Dosen Universitas PTIQ

Nama Ibnu Sutowo dikenal luas sebagai sosok besar yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Soeharto. Ia bukan hanya seorang dokter dan perwira TNI, tetapi juga figur sentral yang menjadi arsitek utama kebangkitan industri minyak nasional melalui kepemimpinannya di Pertamina pada periode 1968–1973. Di balik ketegasannya sebagai pemimpin negara dan pengelola industri strategis, tersimpan sisi lain Ibnu Sutowo yang jarang diungkap: kepeduliannya yang besar terhadap perkembangan Islam dan pendidikan umat.

Kontribusi Ibnu Sutowo terhadap dunia Islam tidak berhenti pada simbol atau kedekatan personal dengan kalangan ulama. Ia berupaya membangun hubungan yang harmonis antara negara dan umat, menjembatani komunikasi antara umara dan ulama di tengah situasi Orde Baru yang kerap diwarnai ketegangan politik.

Di tangannya pula, nilai-nilai keislaman mulai mendapat ruang dalam kultur pengelolaan Pertamina tanpa meninggalkan prinsip profesionalitas, rasionalitas, dan akuntabilitas modern. Salah satu warisan terbesarnya terlihat dalam dukungannya terhadap Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) melalui pendirian Yayasan Pendidikan Al-Qur’an pada 1 April 1971. Dukungan tersebut menjadi napas penting bagi keberlangsungan PTIQ di tengah krisis pendanaan yang kala itu mengancam masa depannya.

Sosok Siti Julaeha

Namun, perjalanan spiritual dan kepedulian keislaman Ibnu Sutowo sesungguhnya tidak lahir begitu saja. Di balik sosoknya yang kokoh sebagai jenderal dan pengusaha, terdapat pengaruh besar seorang perempuan bernama Siti Julaeha, atau dikenal pula sebagai Zaleha binti Haji Syafe’ie. Ia berasal dari keluarga religius dan terpandang di Martapura.

Ayahnya, Haji Syafe’ie, dikenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani. Sementara ibunya merupakan seorang guru lulusan MULO di Palembang. Dari lingkungan keluarga inilah nilai-nilai Islam ditanamkan begitu kuat kepada Zaleha sejak kecil—bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai cara hidup yang dijalankan dengan penuh kedisiplinan dan keteladanan.

Setelah menyelesaikan pendidikan MULO di Palembang, Zaleha kembali ke Martapura dan mengabdikan dirinya membantu anak-anak belajar di masa perang. Ketika pendudukan Jepang berlangsung, ia bahkan mengajar anak-anak perempuan di sekolah yang letaknya tepat di depan poliklinik tempat Ibnu Sutowo bertugas.

Ibnu Sutowo dan keluarganya. Dokumentasi Perpustakaan Nasional RI

Dari perjumpaan sederhana itulah kisah cinta mereka bermula. Mereka kerap berbincang dalam bahasa Belanda, bahasa yang lebih akrab digunakan Ibnu Sutowo kala itu dibanding bahasa Indonesia. Perlahan, hubungan mereka tumbuh menjadi ikatan emosional yang mendalam. Hubungan keduanya akhirnya ibarat Romeo and Juliet, yang tidak bisa dipisahkan lagi.

Meski awalnya sempat mendapat penolakan dari sebagian keluarga besar karena perbedaan suku—Ibnu berasal dari Jawa sementara keluarga Zaleha berasal dari Sumatera Selatan—cinta keduanya akhirnya mengalahkan sekat-sekat sosial tersebut. Mereka menikah pada 12 Desember 1943 di Martapura dalam suasana sederhana namun penuh kebahagiaan.

Madrasah Pertama

Dalam kehidupan rumah tangga, Siti Julaeha bukan sekadar pendamping seorang pejabat besar. Ia hadir sebagai “madrasah pertama” (madrasatul ula) yang membentuk fondasi, arah moral dan spiritual keluarga. Dengan kelembutan, kesabaran, dan keteladanannya, ia berperan penting dalam memperkuat nilai-nilai Islam dalam kehidupan Ibnu Sutowo.

Di tengah kerasnya dunia militer, bisnis, dan kekuasaan, Zaleha yang akrab dipanggil Saly, menjaga agar rumah tangga mereka tetap dipenuhi suasana religius, kepedulian sosial, dan semangat pendidikan Islam. Pengaruh itu tampak dalam berbagai langkah Ibnu Sutowo yang kemudian dikenal dekat dengan kegiatan sosial-keagamaan dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Al-Qur’an.

Kisah mereka menunjukkan bahwa proses “mengislamkan” seseorang tidak selalu hadir melalui pidato besar atau simbol-simbol formal keagamaan. Terkadang, pengaruh terbesar justru tumbuh perlahan dari ruang rumah tangga: dari doa seorang istri, keteladanan sehari-hari, pendidikan anak-anak yang religius, hingga suasana keluarga yang dekat dengan nilai-nilai Islam.

Dari tangan perempuan seperti Siti Julaeha, lahir fondasi spiritual yang kemudian memberi warna pada langkah-langkah besar seorang tokoh bangsa. Ia mungkin tidak banyak tercatat dalam sejarah politik nasional, tetapi jejak pengaruhnya hidup dalam karya, kepedulian, dan warisan keislaman yang ditinggalkan keluarganya.

Melalui pernikahannya dengan Ibnu Sutowo, Zaleha dikaruniai tujuh orang anak, termasuk Pontjo Sutowo dan dikenal sebagai Pengelola Hotel Sultan dan Residence. Sosok Zaleha  dikenal hangat, dermawan, dan dekat dengan keluarga besar. Bahkan hingga akhir hayatnya pada 19 Februari 2013, ia tetap dikenang sebagai perempuan anggun yang memiliki kepedulian besar terhadap kegiatan sosial dan keagamaan.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengaruhnya, Universitas PTIQ Jakarta mengabadikan namanya melalui pembangunan Aula Hj. Zaleha Sutowo—sebuah simbol bahwa di balik lahirnya tokoh besar, sering kali ada perempuan hebat yang bekerja dalam diam, tetapi meninggalkan pengaruh yang sangat mendalam, khususnya dalam visi dan praksis keislaman Ibnu Sutowo.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version